Kakak Beradik dari Lereng Merapi Derita Kelainan Rongga Mulut dan Bola Mata Tak Sempurna

Kompas.com - 23/11/2016, 19:00 WIB
|
EditorCaroline Damanik

MAGELANG, KOMPAS.com - Istiqomah (5) dan Bilqis Humaerah (2 minggu), dua bocah asal lereng Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Candigelo, Desa Ngadipura, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menderita kelainan pada mulutnya.

Mereka terlahir tanpa memiliki langit-langit pada rongga mulutnya (labio palatos schisis). Tidak hanya itu, dua bola mata pada bocah perempuan itu juga tidak tumbuh sempurna.

Wahid Widodo (39), ayah Istiqomah dan Bilqis, mengatakan bahwa Istiqomah pernah dioperasi pada tahun 2011 di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta atas bantuan dari donatur.

Namun, anak sulungnya itu baru sekali dioperasi. Padahal butuh beberapa kali operasi agar kelainannya itu dapat sembuh total. Alhasil, struktur wajah Istiqomah terlihat belum sempurna layaknya wajah manusia pada umumnya.

"Isti tidak mau sekolah. Dia takut diejek sama teman-temannya. Dia juga tidak mau bermain dengan teman-teman sebayanya. Dia hanya mau (bermain) dengan orang-orang dewasa," kata Widodo, Rabu (23/11/2016).

Sampai sekarang, lanjut Widodo, Istiqomah juga masih makan makanan bayi instan berupa bubur. Sebab, mulutnya masih sulit untuk mengunyah makanan yang bertekstur kasar.

Jika dipaksakan, Istiqomah pasti akan muntah. Sedangkan mata dan hidungnya berfungsi cukup baik. Bocah itu suka bermain sepeda dan bisa mengenal warna.

"Dia suka sepedaan di sekitar rumah. Dia juga bisa menyebut nama-nama warna," tutur Widodo.

Pada 1 November 2016, istri Widodo, Siti Maonah (35), melahirkan anak kedua yang diberi nama Bilqis dengan kondisi serupa dengan Istiqomah. Bilqis juga tidak memiliki langit-langit rongga mulut serta bola mata yang tidak sempurna.

Widodo mengaku terkejut saat mengetahui kondisi Bilqis begitu lahir dari rahim istrinya. Sebab, selama dalam kandungan, janin Bilqis dan ibunya dalam kondisi sehat tanpa keluhan apa pun.

"Sama ketika mengandung Istiqomah, kondisi janin Bilqis baik-baik saja. Istri saya rutin memeriksakan diri dan hasilnya juga bagus," kata Widodo.

Bilqis lahir secara normal melalui bantuan bidan desa dengan berat 3,2 kilogram dan panjang 49 sentimeter. Mengetahui kondisi tersebut, Widodo tidak lantas membawa bayi Bilqis ke rumah sakit.

Widodo cukup trauma. Ia khawatir akan diperlakukan sama seperti dahulu ketika memeriksakan Istiqomah.

"Dulu pertama kali ke rumah sakit, Istiqomah tidak segera ditangani. Kata dokter waktu itu, anak saya sembuh kalau dioperasi di RSUP Sardjito dengan biaya yang sangat besar serta prosedur yang panjang," ucapnya.

Terlebih, saat itu dia belum memiliki jaminan kesehatan apapun dari pemerintah. Pekerjaannya sebagai buruh tani tentu tidak cukup untuk biaya operasi yang mencapai ratusan juta rupiah.

"Beruntung ketika itu ada donatur, lalu kami juga termasuk keluarga korban terdampak erupsi Gunung Merapi. Sedangkan untuk Bilqis, kami sedang berusaha agar dapat jaminan kesehatan pemerintah. Kami punya KIS (Kartu Indonesia Sehat) tapi belum bisa digunakan karena bukan atas nama Bilqis sendiri," papar Widodo.

Siti Maonah, ibu Istiqomah dan Bilqis, mengaku hanya bisa pasrah. Meski mengaku sedih namun ia berusaha tetap tegar karena apapun kondisi kedua putrinya itu adalah anugerah dari Tuhan.

"Kalau sedih iya pasti, tapi saya berusaha tegar. Kalau saya menangis, anak saya (Istiqomah) suka ikut nangis, jadi saya harus terlihat bahagia," tutur Maonah.

Sejauh ini, lanjut Maonah, Bilqis terpaksa minum susu formula pakai sendok. Kondisi mulut Bilqis tidak memungkinkan untuk dapat menyusu ASI langsung dari payudara Maonah.

Maonah bercerita, waktu dia sedang mengandung Bilqis, dia tidak memiliki keluhan yang berarti. Dia rutin memeriksakan diri dan USG ke bidan maupun dokter. Bahkan, Maonah mengaku nafsu makannya lebih tinggi daripada ketika mengandung Istiqomah.

"Sebagai orangtua, tentu kami ingin anak-anak saya bisa sembuh. Mereka bisa dioperasi dan bisa tumbuh seperti anak-anak biasanya," kata Maonah yang sehari-hari membuka warung 'kelontong' di rumahnya.

Kelainan kromosom

Kepala Puskesmas Dukun dr Edi Suharso menjelaskan bahwa kondisi Istiqomah dan Bilqis diduga disebabkan karena kelainan kromosom ketika proses pembuahan dalam rahim. Kelainan ini bisa disebabkan karena perkawinan sedarah kedua orangtuanya.

“Kelainan mereka ini bisa karena karena kelainan kromosom, akibat orangtua masih memiliki hubungan satu darah atau keluarga," kata Edi setelah menjenguk dua bocah itu.

Widodo dan Maonah memiliki hubungan kekerabatan karena kakek-kakek mereka adalah saudara kandung.

Menurut dia, keduanya bisa sembuh dengan penanganan medis dan operasi. Hanya saja, untuk Bilqis, operasi baru bisa dilakukan setelah usia 6 bulan dan harus melalui tahapan-tahapan tertentu.

"Bilqis bisa dioperasi setelah usia 6 bulan. Operasi juga harus beberapa kali, minimal 3 kali tindakan agar bisa sembuh total dan kondisinya normal. Maka sekarang Bilqis harus benar-benar dijaga kesehatannya," papar Edi.

Sementara itu, Sekretaris Desa Ngadipura, Toha Maksum, mengatakan, pemerintah desa akan membantu dan mendampingi keluarga Widodo mengurus administrasi jaminan kesehatan pemerintah.

“Kami akan membantu pengurusan BPJS Kesehatan, lalu kami juga akan berusaha mengumpulkan donatur untuk biaya operasi,” ujarnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Positif Covid-19 di Sulut Capai 1.431 Kasus

Positif Covid-19 di Sulut Capai 1.431 Kasus

Regional
Viral Video Wanita Lempar Alquran di Makassar, Polisi: Pelaku Sudah Diamankan

Viral Video Wanita Lempar Alquran di Makassar, Polisi: Pelaku Sudah Diamankan

Regional
Kepala BPSDM Perhubungan Minta Taruna PKTJ Tegal Jadi Relawan Covid-19

Kepala BPSDM Perhubungan Minta Taruna PKTJ Tegal Jadi Relawan Covid-19

Regional
Polisi Tangkap Pembunuh Guru SD yang Jasadnya Dimasukkan ke Ember

Polisi Tangkap Pembunuh Guru SD yang Jasadnya Dimasukkan ke Ember

Regional
Mataram Episentrum Penyebaran Corona, Wagub NTB Minta Penanganannya Keroyokan

Mataram Episentrum Penyebaran Corona, Wagub NTB Minta Penanganannya Keroyokan

Regional
Penjelasan Bupati Lumajang Tentang Sawah Istri Aktivis Salim Kancil yang Diduga Diserobot

Penjelasan Bupati Lumajang Tentang Sawah Istri Aktivis Salim Kancil yang Diduga Diserobot

Regional
Bandel Tak Pakai Masker, Warga Yogyakarta Siap-siap Didenda Rp 100.000

Bandel Tak Pakai Masker, Warga Yogyakarta Siap-siap Didenda Rp 100.000

Regional
Cabuli, Bunuh, dan Ambil Perhiasan Bocah 5 Tahun, Pelaku: Saya Butuh Uang Beli Sosis dan Kopi

Cabuli, Bunuh, dan Ambil Perhiasan Bocah 5 Tahun, Pelaku: Saya Butuh Uang Beli Sosis dan Kopi

Regional
54 Destinasi Wisata di Semarang Kembali Dibuka, Langgar Protokol Kesehatan Bakal Disanksi

54 Destinasi Wisata di Semarang Kembali Dibuka, Langgar Protokol Kesehatan Bakal Disanksi

Regional
Ada Bekas Penganiayaan pada Jasad WNI yang Disimpan di 'Freezer' Kapal China

Ada Bekas Penganiayaan pada Jasad WNI yang Disimpan di "Freezer" Kapal China

Regional
2 Bocah Tertimpa Pohon Tumbang, 1 Tewas, 1 Patah Tulang

2 Bocah Tertimpa Pohon Tumbang, 1 Tewas, 1 Patah Tulang

Regional
Ini Penjelasan BPPTKG Yogyakarta Soal Kondisi Gunung Merapi yang Menggembung

Ini Penjelasan BPPTKG Yogyakarta Soal Kondisi Gunung Merapi yang Menggembung

Regional
Pulang dari Semarang, Mahasiswi Kedokteran Ini Positif Covid-19

Pulang dari Semarang, Mahasiswi Kedokteran Ini Positif Covid-19

Regional
Rentan Tertular Corona, Ganjar Minta Tenaga Medis Rutin Cek Kesehatan

Rentan Tertular Corona, Ganjar Minta Tenaga Medis Rutin Cek Kesehatan

Regional
Ani Gelapkan Uang Nasabah Rp 7,7 M untuk Biaya Suami Jadi Anggota DPRD

Ani Gelapkan Uang Nasabah Rp 7,7 M untuk Biaya Suami Jadi Anggota DPRD

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X