Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Setiap Bulan, 700 Pasang Suami Istri di Malang Bercerai

Kompas.com - 03/10/2016, 18:01 WIB
Andi Hartik

Penulis

MALANG, KOMPAS.com — Angka perceraian di Kabupaten Malang, Jawa Timur, masih tergolong tinggi. Bahkan, Kabupaten Malang menempati posisi kedua tingginya angka perceraian di Indonesia setelah Kabupaten Indramayu.

Data yang ada di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang menunjukkan, pada tahun 2015, angka perceraian mencapai 7.156 kasus. Tahun ini, angka perceraian diprediksi meningkat karena hingga Agustus sudah mencapai 4.700 kasus. Artinya, jika dibuat rata-rata, tahun ini Pengadilan Agama Malang menerima 600 hingga 700 kasus per bulan.

"Kebanyakan kasus perceraian karena gugatan dari istri," kata Panitera Muda PA Kabupaten Malang, Widodo Suparjianto, saat dihubungi, Senin (3/10/2016).

Widodo menjelaskan, ada berbagai alasan pihak istri menggugat cerai suaminya. Salah satunya adalah faktor ekonomi.

Ia menyebut, tidak sedikit istri yang menggugat cerai suaminya dengan alasan tidak diberi nafkah. Faktor lain yang juga kerap terjadi adalah tingginya buruh migran atau istri yang menjadi tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri. Hal itu disebutnya menimbulkan keretakan dalam keluarga dan berujung ke Pengadilan Agama.

Pada tahun 2015, ada 1.969 warga Kabupaten Malang merantau ke luar negeri. Lalu, pada tahun ini, warga Kabupaten Malang yang sudah menjadi buruh migran mencapai 1.820 orang.

Ada sejumlah kecamatan yang tercatat sebagai daerah dengan banyak perceraian, di antaranya Bantur, Sumbermanjing Wetan, Lawang, dan Singosari.

Sementara itu, sebelum kasus gugatan cerai itu benar-benar berujung pada perceraian, Pengadilan Agama melakukan langkah mediasi. Hal itu dilakukan untuk menyatukan kembali hubungan keluarga yang hampir pecah. Namun, jika mediasi tidak menemukan hasil, pihak Pengadilan Agama terpaksa harus memenuhi gugatan cerai tersebut.

"Mediasi yang kami lakukan kebanyakan tidak berhasil karena kebanyakan istri sudah bulat dengan keputusannya untuk cerai," ujarnya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com