Kapolri: Ada yang "Setting" Kerusuhan di Tolikara

Kompas.com - 20/07/2015, 08:07 WIB
Kepala Polri, Jendral Badrodin Haiti beserta rombongannya akan menemui Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK), Minggu (19/7/2015) malam. KOMPAS.com/Hendra CiptoKepala Polri, Jendral Badrodin Haiti beserta rombongannya akan menemui Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK), Minggu (19/7/2015) malam.
|
EditorGlori K. Wadrianto
MAKASSAR, KOMPAS.com — Kepala Polri Jenderal (Pol) Badrodin Haiti mengungkapkan, kerusuhan yang pecah di Karubaga, Tolikara, Papua, Jumat lalu, sengaja dipersiapkan oleh auktor intelektualis. 

Hal itu dikatakan Badrodin saat ditemui wartawan di Hotel Grand Clarion, Makassar, Minggu (19/7/2015) malam. Keberadaan Badrodin di Makassar hendak menemui Jusuf Kalla di kediaman pribadi Wapres di Jalan Hadji Bau, Makassar. Sebelumnya, selama dua hari Badrodin melakukan peninjauan langsung ke lokasi kerusuhan di Tolikara.

"Kerusuhan itu ada yang men-setting. Tapi kita belum bisa memastikan adanya pihak asing dalam kejadian itu. Tapi ada beberapa orang luar dari wilayah itu terlibat dalam kerusuhan. Aktor intelektualnya kita masih cari," ungkap Badrodin.

Badrodin mengatakan, Polri juga belum menetapkan tersangka dalam kasus itu, tetapi pihaknya telah memeriksa 21 saksi. "Termasuk dua pendeta, kita akan periksa. Sampai sekarang belum ada yang ditetapkan tersangka dan kita sudah periksa 21 orang saksi," ujar Badrodin.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, sekelompok orang yang diduga jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) mendatangi Mushala Baitul Mustaqin di Tolikara, Papua, saat umat Islam menggelar shalat Idul Fitri, Jumat (17/7/2015) pagi.

Sekelompok orang ini melakukan protes lantaran pengeras suara yang digunakan dalam shalat Idul Fitri itu mengganggu acara yang juga tengah digelar umat GIDI.

Menurut Ketua Persekutuan Gereja dan Lembaga Injil di Indonesia (PGLII) Roni Mandang, kedatangan umat GIDI ke umat Islam dengan cara baik-baik. Namun, tembakan aparat ke arah umat GIDI membuat situasi menjadi kacau.

Situasi semakin kacau begitu diketahui satu orang meninggal dunia akibat rentetan tembakan itu. Akibatnya, warga kemudian membakar kios di sekitar lokasi. Namun, api merembet ke mushala yang dijadikan tempat shalat Idul Fitri.

Kepala bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Suharsono menegaskan, tembakan ke arah umat GIDI dilakukan karena massa tak mengindahkan imbauan petugas untuk pergi dari sekitar mushala.

Meski polisi telah mencoba menghalau massa yang mengeluarkan pernyataan provokatif, warga yang marah tidak mengindahkan permintaan polisi. Pukul 07.05 WIT massa mulai melempari mushala dengan menggunakan batu.

Selanjutnya, pada pukul 07.10 WIT massa merusak lalu membakar kios dan masjid. Setelah tembakan peringatan tak diindahkan, barulah polisi melepaskan tembakan ke arah tanah. Di tengah kekacauan ini diketahui seorang remaja meninggal dunia akibat terkena tembakan. Sementara 11 orang lain mengalami luka-luka, sebagian besar di antaranya mengalami luka tembak.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER NUSANTARA] Uang Rp 12,5 Juta Milik Nasabah BRI Hilang Misterius | Ganjar Kaget Kantornya Kebanjiran: Impossible

[POPULER NUSANTARA] Uang Rp 12,5 Juta Milik Nasabah BRI Hilang Misterius | Ganjar Kaget Kantornya Kebanjiran: Impossible

Regional
Kepergok Curi Handphone, Pria Ini Tikam 3 Warga, lalu Tewas Dihajar Massa

Kepergok Curi Handphone, Pria Ini Tikam 3 Warga, lalu Tewas Dihajar Massa

Regional
Jaringan Internet Jelek, Kepala Daerah Terpilih Mahakam Ulu Kaltim Tak Bisa Ikut Pelantikan Virtual

Jaringan Internet Jelek, Kepala Daerah Terpilih Mahakam Ulu Kaltim Tak Bisa Ikut Pelantikan Virtual

Regional
Kronologi Kasus BCA Salah Transfer Rp 51 Juta, Ardi Dipenjara karena Pakai Uang yang Belum Tentu Haknya

Kronologi Kasus BCA Salah Transfer Rp 51 Juta, Ardi Dipenjara karena Pakai Uang yang Belum Tentu Haknya

Regional
Beratnya Tugas Tim Pemadam Karhutla, Pikul Mesin dalam Hutan, 'Nyebur' Kanal, hingga Padamkan Api Malam Hari

Beratnya Tugas Tim Pemadam Karhutla, Pikul Mesin dalam Hutan, "Nyebur" Kanal, hingga Padamkan Api Malam Hari

Regional
Ganjar Soal Banjir di Semarang: Kalau Mau Menyalahkan, Salahkan Saya

Ganjar Soal Banjir di Semarang: Kalau Mau Menyalahkan, Salahkan Saya

Regional
Kondisi di Muaro Jambi, Kebakaran Lahan Gambut Mulai Terjadi Jelang Musim Panas

Kondisi di Muaro Jambi, Kebakaran Lahan Gambut Mulai Terjadi Jelang Musim Panas

Regional
Pascaputusan PTUN Jakarta, DPW Partai Berkarya Sumbar Nyatakan Solid Dukung Tommy Soeharto

Pascaputusan PTUN Jakarta, DPW Partai Berkarya Sumbar Nyatakan Solid Dukung Tommy Soeharto

Regional
Kisah Sukses Petani Cabai di Sidodadi Ramunia, Panen 25 Ton per Hektar Meski Cuaca Tak Menentu

Kisah Sukses Petani Cabai di Sidodadi Ramunia, Panen 25 Ton per Hektar Meski Cuaca Tak Menentu

Regional
Perjalanan Perkara 4 Petugas Forensik Jadi Tersangka Penistaan Agama karena Mandikan Jenazah Wanita, Kini Kasus Dihentikan

Perjalanan Perkara 4 Petugas Forensik Jadi Tersangka Penistaan Agama karena Mandikan Jenazah Wanita, Kini Kasus Dihentikan

Regional
Bocah 10 Tahun Meninggal, Ternyata Diduga Diperkosa Orang Tak Dikenal, Keluarga Bersedia Bongkar Makam

Bocah 10 Tahun Meninggal, Ternyata Diduga Diperkosa Orang Tak Dikenal, Keluarga Bersedia Bongkar Makam

Regional
Minta Tolong karena Tercebur ke Tambak, Pria Ini Malah Ditangkap Polisi, Ternyata...

Minta Tolong karena Tercebur ke Tambak, Pria Ini Malah Ditangkap Polisi, Ternyata...

Regional
Perjuangan Bocah SD Hidupi Orangtuanya yang Lumpuh, Ayah: Dia yang Urus Makan, Minum dan Bersihkan Kotoran Kami

Perjuangan Bocah SD Hidupi Orangtuanya yang Lumpuh, Ayah: Dia yang Urus Makan, Minum dan Bersihkan Kotoran Kami

Regional
Genap Setahun 13 Maret, Dinkes Sebut Kasus Covid-19 Jateng Pertama Ditemukan di Solo

Genap Setahun 13 Maret, Dinkes Sebut Kasus Covid-19 Jateng Pertama Ditemukan di Solo

Regional
Cerita di Balik Pasutri Punya 16 Anak di Malang, Berawal Ingin Anak Laki-laki dan Tinggal di Kontrakan

Cerita di Balik Pasutri Punya 16 Anak di Malang, Berawal Ingin Anak Laki-laki dan Tinggal di Kontrakan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X