Surga Anggrek di Tengah Kecemasan Kebakaran Hutan Kalimantan

Kompas.com - 23/09/2014, 16:26 WIB
Petugas cagar alam, Didimus, menunjukan anggrek hitam (Coelogyne pandurata) satu dari 47 jenis anggrek yang hidup di Cagar Alam Kersik (padang) luway di Kecamatan Seqolak Darat, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Selasa (5/11/2013). KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYAPetugas cagar alam, Didimus, menunjukan anggrek hitam (Coelogyne pandurata) satu dari 47 jenis anggrek yang hidup di Cagar Alam Kersik (padang) luway di Kecamatan Seqolak Darat, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Selasa (5/11/2013).
|
EditorCaroline Damanik

BALIKPAPAN, KOMPAS.com – Populasi kayu di Cagar Alam Kersik Luway di Kabupaten Kutai Barat di Kalimantan Timur menyusut pasca kebakaran hutan 1980-an. Hutan yang tadinya seluas 5.000 hektar ini kini diperkirakan tersisa kurang dari 1.000-an hektar saja.

“Bahkan yang masuk dua kecamatan, yakni Bongan dan Wanar Bulan, sama sekali tidak ada pohonnya. Kemungkinan besar karena terus menerus kena kebakaran,” kata Wakil Bupati Kutai Barat, Didik Effendi.

Hutan yang menjadi cagar alam sejak 1982 ini disebut Kersik Luway yang berarti pasir sunyi. Cagar alam ini menjadi fenomenal lantaran menyimpan beberapa jenis tumbuhan langka seperti Anggrek Hitam (Coelogyne Pandurata) dan Kantung Semar (Nephentes sp). Habitat anggrek pernah teridentifikasi 70-an jenis.

KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA Cagar Alam Kersik (padang) luway di Kecamatan Seqolak Darat, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Selasa (5/11/2013). Selain keunikan pasir putihnya, di cagar alam ini hidup lebih dari 47 jenis anggrek, salah satunya anggrek hitam (Coelogyne pandurata).

Pasca-kebakaran, jumlahnya menyusut menjadi sekitar 50 jenis anggrek. Sebagian hutan menjadi lahan kritis tanpa tumbuhan berarti. Beberapa bagian kini cuma pasir putih.

“Dulu di 1980-an dan 1990-an menjadi tempat bule berseliweran, putra putri Soeharto (Presiden RI), dan artis juga datang,” katanya.

Didik mengungkapkan bahwa sampai saat ini pun Kersik Luway masih menyimpan potensi bencana kebakaran, baik karena faktor ulah manusia, misal membuang puntung rokok sembarangan, maupun faktor rambahan api dari ladang berpindah.

Kebakaran di tahun 1982 dan 1997 sewajarnya jadi pengalaman penanganan penanggulangan kebakaran. Kebakaran kerap susah dipadamkan lantaran fasilitas jalan untuk masuk ke sana tidak terbangun dengan alasan terbentur peraturan pemerintah tentang cagar alam.

“Yang jadi masalah, kami sudah menganggarkan untuk pencegahan, tapi terkendala karena hutan ada di bawah kementrian kehutanan. Mau mengaspal saja susah kita terbentur aturan,” katanya.

Cagar alam ini pun kemudian seolah dibiarkan begitu rupa, tidak ditanami maupun dibangun jalannya yang lebih memadai untuk jalur bala bantuan kebakaran yang datang. Kendati dengan kondisi demikian, tetap saja banyak wisatawan yang berkunjung ke sana. Kemunculan padang pasir di bekas kebakaran jadi salah satu daya tarik.

“Memperbaiki jalan saja susah. Karena status cagar alam. Kami serba salah. Masyarakat masuk untuk membantu memadamkan, susah, karena belum beraspal. Kalo mau diaspal berbenturan dengan pemerintah pusat. Larangan terkait cagar alam. Pemkab tidak ada kewenangan,” katanya.

Aktivis WWF Indonesia Arief Data Kusuma meyakini, luasan Kersik Luway tak lagi 5.000 hektar. Kendati belum ada penelitian resmi, ia memperkirakan luasannya sudah berkurang jadi 1.000-an hektar saja.

“Kondisi di situ terpecah-pecah. Istilah kami itu pulau-pulau. Yang luasnya 1.000 hektar kurang,” kata Arief.

Kersik Luway tetaplah menjadi salah satu andalan wisata Kubar. Cagar ini tidak terlalu jauh karena berjarak 360 km dari kota Samarinda. Bisa menggunakan pesawat kecil jenis Twin Otter terlebih dahulu ke Sendawar, Kutai Barat, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat. Terdapat jalan aspal menuju cagar alam dan berakhir sekitar tiga kilometer dari pintu masuk. Selebihnya adalah jalan tanah.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polisi Masih Dalami Motif Penumpang Perempuan yang Tusuk Sopir Taksi Online

Polisi Masih Dalami Motif Penumpang Perempuan yang Tusuk Sopir Taksi Online

Regional
Puncak Bogor Hujan Deras, Wisatawan Diminta Waspada Bencana

Puncak Bogor Hujan Deras, Wisatawan Diminta Waspada Bencana

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 31 Oktober 2020

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 31 Oktober 2020

Regional
Anggota TNI Dikeroyok Anggota Klub Motor Gede, Kapolres: Sama-sama Tidak Bisa Kendalikan Emosi

Anggota TNI Dikeroyok Anggota Klub Motor Gede, Kapolres: Sama-sama Tidak Bisa Kendalikan Emosi

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 31 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 31 Oktober 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 31 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 31 Oktober 2020

Regional
Heboh Harga Nasi Goreng Dinilai Terlalu Mahal, Ini Kata Kadispar Bintan

Heboh Harga Nasi Goreng Dinilai Terlalu Mahal, Ini Kata Kadispar Bintan

Regional
Pria Ini Nekat Bunuh Tetangganya, Polisi: Pelaku Curiga Istrinya Selingkuh dengan Korban

Pria Ini Nekat Bunuh Tetangganya, Polisi: Pelaku Curiga Istrinya Selingkuh dengan Korban

Regional
'Waktu Pertama Ketemu Tidak Pernah Merasa Mirip seperti Jokowi'

"Waktu Pertama Ketemu Tidak Pernah Merasa Mirip seperti Jokowi"

Regional
UMP DIY Naik Sebanyak 3,54 Persen, Berlaku 1 Januari 2021

UMP DIY Naik Sebanyak 3,54 Persen, Berlaku 1 Januari 2021

Regional
Sempat Minta Selimut, Tamu Hotel di Mataram Ditemukan Tewas Telentang di Depan Pintu Kamar

Sempat Minta Selimut, Tamu Hotel di Mataram Ditemukan Tewas Telentang di Depan Pintu Kamar

Regional
Ular Sanca Meneror Warga di Tengah Reklamasi hingga Naik ke Ekskavator

Ular Sanca Meneror Warga di Tengah Reklamasi hingga Naik ke Ekskavator

Regional
Balita, Ibu Hamil, dan Lansia Dilarang Kunjungi Kebun Binatang Surabaya Selama Libur Panjang

Balita, Ibu Hamil, dan Lansia Dilarang Kunjungi Kebun Binatang Surabaya Selama Libur Panjang

Regional
Fakta Bocah 12 Tahun Diperkosa 10 Orang, Hilang 3 Hari dan Depresi Saat Pulang ke Rumah

Fakta Bocah 12 Tahun Diperkosa 10 Orang, Hilang 3 Hari dan Depresi Saat Pulang ke Rumah

Regional
Fakta Foto Pengantin Pria Disebut Mirip Jokowi, Istri Kaget dan Tak Ada Rekayasa

Fakta Foto Pengantin Pria Disebut Mirip Jokowi, Istri Kaget dan Tak Ada Rekayasa

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X