Kompas.com - 09/08/2013, 21:14 WIB
Ilustrasi: Antrean kendaraan memadati Jalan Muhamad Yamin, Puncak, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (10/1/2013). Akibat material longsor kondisi jalur Puncak Pass masih belum bisa dilalui oleh kendaraan bermotor yang menyebabkan panjangnya antrian kendaraan. KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA Ilustrasi: Antrean kendaraan memadati Jalan Muhamad Yamin, Puncak, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (10/1/2013). Akibat material longsor kondisi jalur Puncak Pass masih belum bisa dilalui oleh kendaraan bermotor yang menyebabkan panjangnya antrian kendaraan.
EditorKistyarini

BOGOR, KOMPAS.com - Sampah bungkus makanan dan botol minuman berserakan di pinggir jalan menuju Puncak, Bogor di jalur Ciawi-Puncak Bogor, Jawa Barat, Jumat (9/8/2013) sore.

Para penumpang kendaraan dari arah Jakarta ini menghabiskan waktu dengan menyantap makanan dan minuman yang mereka bawa. Mereka pun membeli makanan yang dijajakan para pedagang keliling di lokasi kemacetan. Sayangnya, setelah itu mereka membuang bungkus makanan atau botol minuman di pinggir jalan begitu saja.

Berdasarkan pantauan Tribun di lapangan hingga malam, antrean mengular hingga mencapai gerbang keluar Tol Ciawi. Kemacetan itu pun dimanfaatkan para pedagang dan penjaja makanan seperti siomay, rujak tumbuk, tahu Sumedang dan lainnya ketika sore hari.

Para pedagang itu menjaja makanan selama sehari penuh dengan adanya kemacetan tersebut. Seperti yang diungkapkan Mahmud (40) pedagang siomay ketika ditemui Tribun di lokasi kemacetan atau tepatnya di Kampung Sawah, Desa Pandansari, Kecamatan Ciawi, Bogor, Jumat (9/8).

Pria asal Tanggerang ini mengaku sudah mengantongi keuntungan Rp 200 ribu selama berjualan di pinggir jalan Tol Ciawi tersebut. "Sudah tiga kali kemacetan ini terjadi selama sehari. Pertama jam 10 pagi, jam 12 siang, dan sekarang (Pukul 17.00. Red)," kata Mahmud kepada Tribun beberapa saat lalu.

Mahmud mengatakan, kesempatan berjualan di pinggir jalan yang masih milik PT Jasa Marga itu diperolehnya setahun sekali. Sebab di hari biasa, meski kerap terjadi kemacetan terutama di akhir pekan, namun Mahmud tak bisa berjualan bebas seperti pada hari ini.

"Kalau hari-hari biasa dilarang dan pasti akan diberik sama aparat. Sebab memang tak boleh berjualan di pinggir jalan ini. Kalau sekarang mungkin masih Lebaran," ujar Mahmud.

Hal senada juga dikatakan Abdul Hamid (55) pedagang rujak tumbuk keliling. Pria asal Tasikmalaya ini mengaku memanfaatkan momen tersebut sekali setahun selama berjualan rujak di Bogor. Ia mengaku lebih sering berjualan rujak di kampung-kampung. (cis)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Turunkan Angka Kemiskinan di Jateng, Ganjar Targetkan Pembangunan 100.000 RSLH

Turunkan Angka Kemiskinan di Jateng, Ganjar Targetkan Pembangunan 100.000 RSLH

Regional
8 Peristiwa Viral karena Gunakan Google Maps, dari Sekeluarga Tersesat di Hutan hingga Truk Masuk Jurang

8 Peristiwa Viral karena Gunakan Google Maps, dari Sekeluarga Tersesat di Hutan hingga Truk Masuk Jurang

Regional
Semangati Pengusaha Jasa Dekorasi, Wagub Jatim: Jangan Pernah Kendur dan Pesimis

Semangati Pengusaha Jasa Dekorasi, Wagub Jatim: Jangan Pernah Kendur dan Pesimis

Regional
Kepada Kepala Daerah di Jatim, Wagub Emil: Mari Kita Pastikan Tidak Ada Pungutan Liar di SMA/SMK

Kepada Kepala Daerah di Jatim, Wagub Emil: Mari Kita Pastikan Tidak Ada Pungutan Liar di SMA/SMK

Regional
Kisah Warga Desa Pana di NTT Alami Krisis Air Bersih, Kini Teraliri Harapan Pun Bersemi

Kisah Warga Desa Pana di NTT Alami Krisis Air Bersih, Kini Teraliri Harapan Pun Bersemi

Regional
DMC Dompet Dhuafa Gelar Aksi Bersih-bersih Rumah Warga Terdampak Gempa Banten

DMC Dompet Dhuafa Gelar Aksi Bersih-bersih Rumah Warga Terdampak Gempa Banten

Regional
Tanggapan Tim Ahli LPPM ULM, Usai Uji Coba Raperda Jalan Khusus DPRD Tanah Bumbu

Tanggapan Tim Ahli LPPM ULM, Usai Uji Coba Raperda Jalan Khusus DPRD Tanah Bumbu

Regional
BPS Catat Penurunan Angka Penduduk Miskin Jateng hingga 175.740 Orang

BPS Catat Penurunan Angka Penduduk Miskin Jateng hingga 175.740 Orang

Regional
Berdayakan Masyarakat Jateng, Ganjar Dapat Penghargaan dari Baznas

Berdayakan Masyarakat Jateng, Ganjar Dapat Penghargaan dari Baznas

Regional
Ada Kasus Omricon di Kabupaten Malang, Wagub Emil Pastikan Terapkan PPKM Mikro Tingkat RT

Ada Kasus Omricon di Kabupaten Malang, Wagub Emil Pastikan Terapkan PPKM Mikro Tingkat RT

Regional
Zakat ASN Pemprov Jateng 2021 Terkumpul Rp 57 Miliar, Berikut Rincian Penyalurannya

Zakat ASN Pemprov Jateng 2021 Terkumpul Rp 57 Miliar, Berikut Rincian Penyalurannya

Regional
Berencana Kembalikan Bantuan dari Ganjar, Fajar Malah Di-'bully' Warganet

Berencana Kembalikan Bantuan dari Ganjar, Fajar Malah Di-"bully" Warganet

Regional
Cegah Omicron di Jateng, Ganjar: Tolong Prokes Dijaga Ketat

Cegah Omicron di Jateng, Ganjar: Tolong Prokes Dijaga Ketat

Regional
Sambut Tahun Baru, Dompet Dhuafa Gelar Doa Bersama di Lapas Narkotika Gunung Sindur

Sambut Tahun Baru, Dompet Dhuafa Gelar Doa Bersama di Lapas Narkotika Gunung Sindur

Regional
Bantuan Tunai Kurang Efektif Entaskan Kemiskinan, Pemprov Jateng Genjot Pembangunan RSLH

Bantuan Tunai Kurang Efektif Entaskan Kemiskinan, Pemprov Jateng Genjot Pembangunan RSLH

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.