Kompas.com - 25/06/2013, 11:29 WIB
Singapura diselimuti kabut asap dari hasil pembakaran hutan dan lahan di Sumatra AFPSingapura diselimuti kabut asap dari hasil pembakaran hutan dan lahan di Sumatra
EditorKistyarini
PEKANBARU, KOMPAS.com — Pakar lingkungan dari Universitas Riau Prof Adnan Kasri menyatakan, kabut asap dampak dari kebakaran lahan gambut yang melanda provinsi ini merupakan yang terparah sepanjang sejarah terjadinya kasus tersebut.
     
"Sebelumnya, di sekitar tahun 1997, kasus kebakaran hebat memang sempat terjadi. Namun, masih melanda sebagian besar kawasan hutan alam. Dampak kabut asapnya ketika itu juga tidak separah kali ini, di mana pencemaran udara sudah jauh berada di atas ambang normal," kata Adnan yang juga Guru Besar Lingkungan Universitas Riau kepada Antara di Pekanbaru, Selasa (25/6/2013).
     
Pernyataan pakar ini adalah menanggapi pencemaran udara akibat kabut asap di berbagai wilayah Provinsi Riau, khususnya Kota Dumai, dengan tingkat konsentrasi di atas 800 bahkan mencapai 900 polutant standard index (PSI) pada Senin (24/6/2013) sekitar pukul 16.00 WIB.
     
Jauh menurunnya kualitas udara hingga 900 PSI merupakan hal yang sangat berbahaya, tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga terhadap kesehatan manusia.
     
Kondisi tersebut, menurut Adnan, merupakan peristiwa yang terburuk sepanjang sejarah terjadinya kasus-kasus kebakaran hutan atau lahan di berbagai wilayah Provinsi Riau, apalagi luas pencemarannya hingga menjangkau sejumlah negara di Asia Tenggara.
     
Buruknya kualitas udara akibat kabut asap tersebut, menurut dia, disebabkan rata-rata kawasan yang terbakar bukan lagi hutan alam, melainkan kawasan gambut dengan tingkat kedalaman hingga mencapai lima meter di dasar.
     
Kondisi demikian, menurut dia, berbeda dengan kasus-kasus kebakaran di era tahun 1990 hingga tahun 1997 yang sempat menjadi puncak terparah pada peristiwa kebakaran lahan atau hutan di Riau.
    
Namun, ketika itu (tahun 1990-1997), ungkap Adnan, kawasan yang terbakar atau dibakar adalah kawasan hutan alam yang memang dahulu masih banyak di provisi ini.
     
"Ketika itu (1997) menjadi puncak kebakaran hebat, luas lahan yang terbakar juga begitu parah. Namun, kondisi pencemarannya terhadap udara tidak separah saat ini," katanya.
     
Waktu itu, kata dia, pencemaran udara akibat asap sisa dari kebakaran hutan masih berbentuk partikel-partikel berat atau sejenis abu yang memang hanya mampu mencemari sejumlah kawasan di sekitar hutan yang terbakar karena tidak mampu diterbangkan dengan jangkauan jauh oleh angin.
     
Kebakaran hutan secara hebat di tahun 1997, menurut Adnan, juga masih sangat mudah jika dipadamkan, apalagi jika menggunakan peralatan canggih seperti saat ini karena yang terbakar permukaannya saja.
     
Namun, saat ini, kata Adnan, yang namanya hutan di Riau tidak ada lagi. Yang tersisa hanya bentangan lahan gambut yang jika terbakar, yang akan menimbulkan dampak negatif yang luar biasa bagi lingkungan dan makhluk hidup.
     
Peristiwa kebakaran lahan saat ini, menurut dia, juga tidak akan mudah dipadamkan dengan cara apa pun mengingat lahan gambut yang terbakar memiliki kedalaman hingga lima meter.
     
"Kecuali terjadi hujan. Makanya, sangat ditunggu-tunggu keberhasilan pemerintah dalam melakukan upaya hujan buatan di Riau," katanya.
     
Pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak beberapa hari ini terus berupaya "memodifikasi" cuaca di Riau dari musim kemarau hingga terjadi hujan.
     
Upaya "modifikasi" cuaca ini dikabarkan membutuhkan anggaran lebih dari Rp 20 miliar dengan menggunakan satu unit pesawat Hercules, satu unit pesawat Cassa, dan beberapa helikopter yang digunakan untuk "menabur" bom air di berbagai kawasan lahan gambut yang terbakar.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

    Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

    Regional
    AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

    AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

    Regional
    Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

    Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

    Regional
    9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

    9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

    Regional
    Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

    Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

    Regional
    Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

    Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

    Regional
    Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

    Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

    Regional
    Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

    Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

    Regional
    Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

    Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

    Regional
    Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

    Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

    Regional
    Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

    Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

    Regional
    PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

    PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

    Regional
    Beri Wejangan untuk Arsitek dan Seniman, Kang Emil: Jangan Menua Tanpa Karya dan Inspirasi

    Beri Wejangan untuk Arsitek dan Seniman, Kang Emil: Jangan Menua Tanpa Karya dan Inspirasi

    Regional
    Lewat Aplikasi Sekoper Cinta, Atalia Ridwan Kamil Perluas Jangkauan Belajar Perempuan Jabar

    Lewat Aplikasi Sekoper Cinta, Atalia Ridwan Kamil Perluas Jangkauan Belajar Perempuan Jabar

    Regional
    Ciptakan Integrasi Ekosistem Data, Pemprov Jabar Gagas “Ekosistem Data Jabar”

    Ciptakan Integrasi Ekosistem Data, Pemprov Jabar Gagas “Ekosistem Data Jabar”

    Regional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.