Salin Artikel

7 Fakta Sragen, Daerah Lumbung Padi Tempat Museum Manusia Purba

KOMPAS.com - Kabupaten Sragen terletak di Provinsi Jawa Tengah.

Kabupaten Sragen memiliki luas 941,55 Km2 yang terbagi dalam 20 kecamatan.

Jumlah penduduk Kabupaten Sragen menurut data BPS tahun 2020 sebanyak 976.951 jiwa.

Secara geografis, Kabupaten Sragen berada di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Batas-batas Kabupaten Sragen, yaitu di sebelah timur dengan Kabupaten Ngawi, di sebelah barat dengan Kabupaten Boyolali, di sebelah selatan dengan Kabupaten Karanganyar, dan di sebelah utara dengan Kabupaten Grobogan.

Kabupaten Sragen dijuluki Bumi Sukowati.

Berikut beberapa fakta Kabupaten Sragen:

1. Sejarah Kabupaten Sragen

Hari Jadi Kabupaten Sragen ditetapkan pada 27 Mei 1746, saat Pangeran Mangkubumi yang kelak menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono ke I menancapkan tonggak perlawanan terhadap Belanda dengan membentuk pemerintahan lokal di Desa Pandak, Karangnongko masuk ke tlatah Sukowati sebelah timur.

Pangeran Mangkubumi yang membenci Belanda karena mengintervensi Mataram menyatakan perang dengan Belanda.

Dalam perjalanannya, pangeran muda dan pasukannya bergerak melewati Desa Cemara, Wonosari, Karangsari, Ngerang, Butuh, serta Guyang. Perjalanan dilanjutkan ke Desa Pandak, Karangnongko dan masuk tlatah Sukowati.

Di tlatah Sukowati, pangeran membentuk pemerintah pemberontak. Desa Pandak, Karangnongko dijadikan pusat Pemerintahan Projo, Sukowati. Lalu, pangeran meresmikan namanya menjadi Pangeran Sukowati.

Pada 1746, pangeran memindahkan pemerintahan ke Desa Gebang yang terletak di sebelah tenggara Desa Pandak Karangnongko.

Sejak saat itu, Pangeran Sukowati memperluas wilayah kekuasaan meliputi Desa Krikilan, Pakis, Jati, Prampalan, Mojoroto, Celep, Jurangjero, Grombol, Kaliwuluh, Jumbleng, Lajersari, dan beberapa desa lainnya.

Pangeran Sukowati terus menerus melakukan serangan terhadap Belanda bahu membahu dengan saudaranya Raden Mas Said. Perang berakhir setelah adanya perjanjian Giyanti pada 1755, perjanjian yang memisahkan Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Pada tanggal 6 Juni 1847, Surat Keputusan Sunan Paku Buwono VII, yaitu Serat Angger menyebutkan wilayah Sragen dipilih sebagai satu lokasi untuk menjadi Pos Tundan.

Pos Tundan adalah tempat untuk menjaga ketertiban dan keamanan lalu lintas barang dan surat serta perbaikan jalan dan jembatan.

Perkembangan selanjutnya, sejak tanggal 5 Juni 1847, Sunan Paku Buwono VIII dengan persetujuan Residen Surakarta baron de geer, daerah itu disebut Gunung Pulisi Sragen.

Sejak Sunan Paku Buwana VIII dan seterusnya diadakan reformasi secara terus menerus di bidang pemerintahan. Akhirnya, Kabupaten Gunung Pulisi Sragen disempurnakan menjadi Kabupaten Pangreh Raja.

Pada masa pemerintahan Paku Buwono X, Rijkblaad No 23 Tahun 1918, Kabupaten Pangreh Praja ditetapkan sebagai Daerah Otonom yang melaksanakan kekuasaan hukum dan pemerintahan.

Pada masa Kemerdekaan Republik Indonesia, Kabupaten Pangreh Praja Sragen menjadi Pemerintah Daerah Kebupaten Sragen.

2. Julukan Bumi Sukowati

Julukan Bumi Sukowati yang disematkan pada Kabupaten Sragen dapat ditelusuri dari abad ke 7, saat Kerajaan Mataram Kuno berdiri.

Pada masa Mataram Kuno diperintahkan oleh Rakai Penangkaran, raja bawahannya yang bernama Rakai Walaning Pukumbayoni menyingkir ke sebuah daerah akibat terjadi peperangan.

Daerah tersebut bernama Sukowati. Karenanya, Rakai Walaning Pukumbayoni dianggap sebagai cikal bakal Bumi Sukowati.

3. Situs Perjalanan Raja-raja Mataram Islam

Situs perjalanan raja-raja Mataram Islam tersebar di pelosok desa-desa, terutama di sebelah utara Sungai Bengawan Solo.

Salah satunya, jejak Pengeran Mangkubumi yang pertama kali mendirikan pemerintahan baru di Dukuh Pandak Karangnongko yang lalu bersembunyi di Desa Gebang, Kecamatan Masaran.

Desa Jekawal juga menjadi saksi bisu, pertemuan antara Pengeran Mangkubumi dengan Pangeran Sambernyawa yang kelak bergelar Raja Mangkunegara I.

4. Pertanian Potensi Sragen

Pertanian masih menjadi potensi Sragen. Sragen dikenal sebagai lumbung beras nasional dan pemasok utama kebutuhan pangan negeri ini.

Sebanyak 42,52 persen atau 40.037,93 hektar merupakan lahan pertanian sawah.

Sedangkan sebanyak 57,47 persen atau 54.117 hektar merupakan lahan kering.

Dukungan tenaga kerja di sektor pertanian sangat besar, mengingat sebagian besar penduduk Sragen sebagian besar petani.

Adapun, komoditi hasil pertanian berupa beras organik, mangga, semangka & melon, jeruk besar, buah naga, dan cabe.

5. Museum Manusia Purba Sangiran

Museum Sangiran merupakan aset wisata paling penting bagi Kabupaten Sragen. Museum menyimpan fosil dan perlengkapan berburu, seperti kapak batu, yang dulu digunakan oleh manusia purba untuk bertahan hidup.

Museum Sangiran merupakan salah satu pusat kehidupan manusia purba di jaman pra sejarah.

Lokasi museum berada di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.

6. Dilewati Sungai Bengawan Solo

Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa, dengan panjang 548,53 km. Sungai ini mengaliri Provinsi Jawa Tangah dan Jawa Timur.

Sragen merupakan wilayah yang dialiri Sungai Bengawan Solo.

Sragen terletak di lembah daerah aliran Sungai Bengawan Solo yang mengalir ke arah timur.

7. Terletak di Jalur Utama Solo - Surabaya

Sragen terletak di jalur utama Solo - Surabaya. Kabupaten ini merupakan pintu gerbang timur Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur.

Sragen dilintasi jalur lintasan kereta api Surabaya-Yogyakarta-Jakarta yang stasiun terbesarnya di Sragen, serta lintasan Semarang - Solo dengan stasiun terbesar di Gemolong.(Editor: Widya Lestari Ningsih)

Sumber: marketing.sragenkab.go.id, www.sragenkab.go.id, solo.tribunnews.com, dan kompas.com.

https://regional.kompas.com/read/2022/03/01/053000978/7-fakta-sragen-daerah-lumbung-padi-tempat-museum-manusia-purba-

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke