Salin Artikel

Menyoal Penembakan Dosen UGM Anggota TGPF Pendeta Yeremia, Ditembak Usai Olah TKP

Bambang tertembak di bagian kaki setelah rombongan TPGF melakukan olah TKP penembakan Pendeta Yeremias Zanambani di Kampung Hitadipa, Distrik Hitadipa, Intan Jaya Papua.

Selain Bambang Purwoko, Sertu Faisal anggota Satgas Apter Hitadipa juga terkena tembakan di bagian pinggang.

Sementara korban ketiga adalah Pratu Ginanjar anggota Waltis dari Yonif 400 yang mengalami luka tembak memantul pada telapak tangan kiri.

Saat kejadian, rombongan TGPF diadang oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) saat mereka akan kembali Sugapa, ibu kota Kabupaten Intan Jaya.

Penembakan dilakukan Jumat sore di daerah Kampung Mamba Bawah, Distrik Hitadipa.

Menurut Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Kolonel Czi IGN Suriastawa, Bambang dan Sertu Faisal langsung dievakuasi ke UPTD RSUD Saugapa untuk mendapatkan tindakan medis.

"Pukul 16.40 WIT, korban tiba di UPTD RSUD Sugapa untuk tindakan medis," ujar Suriastawa.

Rencananya mereka akan dievakusi ke Timika pada Sabtu pagi.

Yeremia adalah warga asli Suko Moni dan telah membuat terjemahan Alkitab dalam Bahasa Moni.

Pendeta Yeremia adalah korban keenam yang tewas selama sepekan di Intan Jaya. Sebelum Yeremia, ada empat korban lain yang tewas tertembak.

Aksi brutal KKB di Intan Jaya terjadi sejak Senin (14/9/2020). Saat itu dalam satu hari ada dua tukang ojek tewas  ditembak di lokasi dan waktu yang berdekatan.

Tiga hari kemudian, KKB kembali beraksi di Kampung Bilogai, Distrik Sugapa dan menyebabkan gugurnya Serka Sahlan dan seorang warga sipil, Bahdawi.

Korban selanjutnya adalah Babinsa Koramil Persiapan Hitadipa, Pratu Dwi Akbar Utomo juga gugur setelah mengalami luka tembak.

Sementara itu Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD akan menyelidiki empat kasus penembakan di Kabupaten Intan Jaya, Papua.

Selain menyelidiki penembakan Pendeta Yeremia, tim juga melakukan penyelidikan penembakan di Intan Jaya pada pertengahan September 2020.

Mahfud menegaskan, upaya penegakan hukum dalam kasus penembakan tersebut akan dilakukan secara cepat dan transparan.

"Dalam waktu cepat dan cara yang transparan, bisa dilihat oleh masyarakat," kata dia.

Keputusan tentang Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kekerasan dan Penembakan di Kabupaten Intan Jaya yang ditandatangani Mahfud pada Kamis (1/10/2020).

Mereka diberi waktu dua minggu untuk menyelesaikan kasus penembakan di Intan Jaya.

Menurut peneliti Amnesty International Indonesia Ari Pramuditya, saksi mengungkapkan bahwa terduga pelaku merupakan anggota TNI yang bermarkas tak jauh dari rumah Yeremia.

“Dalam kronologis yang kami dapatkan, saksi menyebutkan bahwa penembakan ini diduga dilakukan oleh salah satu anggota TNI yang menempati pos sekolah tersebut,” kata Ari dalam konferensi pers virtual, Jumat (2/10/2020).

Dari gambar citra satelit yang didapatkan Amnesty, lokasi rumah Yeremia terlihat berseberangan dengan pos militer.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Amnesty, pos militer tersebut berlokasi di area Sekolah Satu Atap Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Gereja Injili di Hitadipa.

Ari menuturkan, lokasi itu sudah ditempati selama sekitar sembilan bulan lalu.

Menurutnya, saksi juga menyebutkan terduga pelaku telah cukup lama menempati pos militer tersebut.

“Sehingga menurut kami cukup masuk akal apabila saksi menyebutkan bahwa mengetahui orang yang melakukan penembakan terhadap pendeta,” tuturnya. “Apalagi sebelum meninggal, pendeta juga sempat menceritakan kejadian yang dialami kepada para saksi sebelum akhirnya meninggal,” ujar Ari.

“Apalagi sebelum meninggal, pendeta juga sempat menceritakan kejadian yang dialami kepada para saksi sebelum akhirnya meninggal,” ujar Ari.

Informasi lain yang didapatkan Amnesty perihal pertemuan keluarga besar Sinode GKI Papua Hitadipa dan keluarga Yeremia.

Ari mengatakan, pertemuan pada 24 September 2020 itu juga dihadiri bupati, wakapolda, dan dandim. Selain itu, Ari menambahkan, pihak keluarga juga telah diberikan uang duka oleh pihak bupati.

“Pemberian uang duka atau apapun itu, tidak boleh menghentikan penyelidikan pidana terhadap kasus ini,” ucap Ari.

Sementara itu Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Sebby Sambon juga mengatakan bahwa korban tewas dibunuh aparat TNI.

Namun Kabid Humas Polda Papua Kombes AM Kamal membantah tuduhan bahwa TNI menjadi pelaku penembakan terhadap Pendeta Yeremia hingga tewas

Kamal beralasan, tidak ada pos TNI di Hitadipa.

Menurutnya, apa yang disampaikan Jubir TPNPB tidak berdasar dan hanya ingin memperkeruh suasana.

Menurut keterangan Kamal, pelaku pembunuhan Pendeta Yeremia adalah kelompk KKB pimpinan Jelek Waker.

SUMBER: KOMPAS.com (Penulis: Dhias Suwandi, Irsul Panca Aditra Devina Halim, Achmad Nasrudin Yahya | Editor: Dheri Agriesta, David Oliver Purba, Kristian Erdianto, Bayu Galih)

https://regional.kompas.com/read/2020/10/10/10410051/menyoal-penembakan-dosen-ugm-anggota-tgpf-pendeta-yeremia-ditembak-usai-olah

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke