Memasuki Musim Kemarau, Warga di Gunungkidul Mulai Membeli Air - Kompas.com

Memasuki Musim Kemarau, Warga di Gunungkidul Mulai Membeli Air

Kontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
Kompas.com - 19/05/2017, 10:20 WIB
Kompas.com/Markus Yuwono warga Mengambil Air dari Penampungan Air Hujan (PAH)

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Awal musim kemarau, sebagian warga Gunungkidul, Yogyakarta, sudah mulai membeli air dari tangki perusahaan swasta.

Fakta itu terjadi di Dusun Piyuyon, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu. Warga membeli air karena air PDAM Tirta Handayani sudah jarang mengalir.

"Sudah sejak 2 minggu terakhir air dari PDAM tidak mengalir," kata Ketua RT 01/04 Piyuyon, Sumadi, Kamis (18/5/2017).

Baca juga: Masuk Musim Kemarau, Warga Gunungkidul Mulai Berhemat Air

Warga harus membeli dari tangki perusahaan swasta ukuran 5.000 liter dengan harga tergantung jarak dengan jalan raya. Paling dekat jalan Rp 120.000, dan paling jauh Rp 200.000 per tangkinya. Air bisa digunakan 2 sampai 3 minggu.

"Sudah ada beberapa warga yang membeli air dari tangki. Mungkin karena keluarganya banyak, sehingga beberapa warga sudah ada yang membeli air," imbuh dia.

Sebagian warga lainnya masih mengandalkan air hujan yang ditampung dan sisa air PDAM yang disimpan di dalam penampuangan air hujan (PAH).

Dusun yang terletak di lembah pegunungan karst memang dipastikan tidak bisa dibuat sumur. Warga hanya mengandalkan PAH untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Setiap musim hujan, warga menampung air hujan dari talang air rumah yang disalurkan menggunakan pipa. Mulai dari memasak hingga cuci pakaian menggunakan air hujan.

PAH yang dimiliki warga ukurannya berbeda-beda, dan bisa menampung air untuk 2 sampai 3 minggu.

Jika musim kemarau, warga Dusun Piyuyon mengandalkan air PDAM yang salurannya dipasang di beberapa titik rumah warga.

"Di dusun kami ada 11 titik yang dipasang saluran air, dan warga mengambil menggunakan selang, atau jerigen. Jika sudah memasuki musim kemarau, air dari PDAM mulai berkurang dan digilir, kadang dua minggu sekali atau 3 minggu tergantung dari sana (PDAM)," ucapnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Utama PDAM Tirta Handayani Gunungkidul, Isnawan Febriyanto mengakui di Dusun Piyuyon memang belum bisa terpasang instalasi air untuk setiap rumah. Selain karena letak geografisnya yang sulit, kekuatan pompa juga belum memadai untuk dipasang di masing-masing rumah.

Namun dia menjamin, kebutuhan air pada musim kemarau bisa tercukupi karena selama ini debit air di Bribin cukup melimpah.

"Memang kapasitas pompanya belum bisa untuk memenuhi kebutuhan di rumah warga," ucapnya.

Menurutnya, wilayah Piyuyon mengalami hambatan dalam suplai air dari Sumur Bribin II karena pompa rusak.

"Sudah dilakukan pemasangan pompa baru, dan sudah diperbaiki, mungkin dalam beberapa hari sudah mulai mengalir," kata Isnawan.

Baca juga: Berebut Air di Musim Kemarau, 6 Gajah Mati Diterkam Harimau

Diketahui, untuk seluruh wilayah Gunungkidul, 60 persen sudah teraliri PDAM, sementara sekitar 30 persen dialiri Spamdes, dan sisanya mengandalkan droping atau sumber mata air terdekat.

Kompas TV Bagaimana prediksi cuaca di semester kedua tahun 2017?

PenulisKontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
EditorFarid Assifa
Komentar

Close Ads X