Makna Hari Kartini bagi Khofifah Indar Parawansa - Kompas.com

Makna Hari Kartini bagi Khofifah Indar Parawansa

Kontributor Semarang, Nazar Nurdin
Kompas.com - 21/04/2017, 18:50 WIB
Kontributor Semarang, Nazar Nurdin Mensos Khofifah Indar Parawansa meresmikan lokasi makam RA Kartini jadi kompleks wisata ziarah nasional, Jumat (21/4/2017).

REMBANG, KOMPAS.com - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa ikut memberikan testimoni dalam peringatan hari Kartini.

Dalam peringatan ini, Khofifah menyempatkan diri berziarah ke makam RA Kartini di Desa Bulu, Kabupaen Rembang.

Baca juga: Kompleks Makam RA Kartini di Rembang jadi Wisata Ziarah Nasional

Mensos mengatakan, spirit emansipasi dari Raden Ajeng Kartini diperlukan untuk para perempuan di Indonesia. Sejauh ini, masih banyak perempuan yang belum menerima akses pendidikan.

"Sampai sekarang kita melihat perempuan yang tidak lulus SMP masih sekitar 65 persen. Oleh karena itu, jika mereka masuk dunia kerja masuk kategori non terdidik. Jadi kita memang harus lakukan akselerasi untuk menyapa perempuan-perempuan terutama di pedesaan, daerah terpencil, pegunungan, perbatasan dan pulau terluar," kata Khofifah sembari menyeka air matanya seusai berziarah di makam RA Kartini di Rembang, Jumat (21/4/2017).

Ketua Umum Muslimat Nahdatul Ulama ini ingin agar ada akselerasi pembangunan bagi para perempuan. Semua pihak bisa berpartisipasi, termasuk dari kalangan media.

Perempuan perlu dikampanyekan untuk bangkit, serta didorong untuk mempunyai hak yang sama dengan laki-laki. Perempuan berhak untuk memperoleh kesejahteraan, kebahagiaan serta kemenangan.

"Ini tugas bersama terutama jurnalis, netizen untuk mengampanyekan, ayo perempuan bangkit di mana pun berada untuk mempunyai kedudukan yang sama," pesannya.

Baca juga: Menteri Sosial Kritik Film "Kartini"

Soal sejarah perjuangan perempuan ini, Khofifah sempat menceritakan sejarah Kongres Wanita pada tahun 1928. Kala itu, kongres sudah mulai mengingatkan untuk menempatkan perempuan setara dengan laki-laki dalam berbagai bidang.

"Kongres wanita Indonesia tahun 1928 yang diawali tahun 1926. Tetapi pada awal kemerdekaan rupanya belum terbangun kesetaraan antara pemberian kesempatan pendidikan bagi perempuan," tambahnya.

PenulisKontributor Semarang, Nazar Nurdin
EditorFarid Assifa
Komentar

Close Ads X