Sabtu, 26 Juli 2014

News / Regional

Jenazah Slamet Gundono Akan Dimakamkan di Tegal

Minggu, 5 Januari 2014 | 16:26 WIB
KOMPAS/SRI REJEKI Dalang Ki Slamet Gundono tengah mendongeng di hadapan para siswa dalam acara Lazkam Pesta Budaya ke-4 di Taman Kanak-kanak Lazuardi Kamila, Solo, Jawa Tengah, Jumat (8/3/2013). Mendongeng dapat meningkatkan daya imajinasi, keterampilan berbahasa, dan kecerdasan emosional anak.

SOLO, KOMPAS.com — Dunia pedalangan di Indonesia telah kehilangan sosok seniman Slamet Gundono (48). Dalang kontemporer itu berpulang pada Minggu (5/1/2014) pukul 08.40 WIB di ruang ICU RSI Yarsis, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Ditemani istri dan keluarga serta rekan-rekan seniman, dalang wayang suket tersebut meninggal dunia setelah terkena penyakit diabetes, jantung, dan lever sehingga menggerogoti tubuh tambunnya.

Setelah sempat berjam-jam berada di ruang jenazah RSI Yarsis, jenazah akan disemayamkan terlebih dahulu di Gedung Taman Budaya Surakarta lalu kemudian akan dibawa ke rumah duka di Kendalrejo, Mojosongo, dan akan dimakamkan di tempat kelahiran mendiang di Slawi, Tegal, Jawa Tengah, pada Senin (6/1/2014).

"Rencana sementara jenazah akan disemayamkan di TBS, lalu ke rumah duka, dan besok baru dibawa ke Tegal," kata Agung, salah satu rekan dekat almarhum.

Mendiang Slamet Gundono menjadi sosok penting dalam dunia pedalangan di Indonesia karena membawakan seni pedalangan dengan memilih media suket (rumput) sebagai wayangnya.

Penyampaian cerita pewayangan Gundono dengan gaya humor dan sederhana sehingga membuat pesan yang disampaikan di setiap pementasan mudah dipahami oleh masyarakat umum.

Penulis: Kontributor Surakarta, M Wismabrata
Editor : Tri Wahono