Epidemiologi Unsoed: Larangan Mudik Lebaran Hanya Terkesan Formalitas Semata

Kompas.com - 05/04/2021, 16:20 WIB

PURWOKERTO, KOMPAS.com - Kebijakan pemerintah melarang masyarakat untuk mudik saat libur lebaran 2021 dinilai tidak efektif menurunkan tingkat penularan Covid-19.

Ahli Epidemiologi Lapangan Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Yudhi Wibowo mengatakan, larangan mudik akan menjadi tidak efektif jika diterapkan setengah-setengah seperti pada lebaran tahun 2020.

Baca juga: Mudik Dilarang, Pengusaha Bus: Kami Bisa Tidak Ber-Lebaran

Dia menuturkan, faktanya tahun lalu tetap terjadi lonjakan mobilitas penduduk, meskipun gembor-gembor larangan mudik oleh pemerintah.

Hal tersebut tentunya berdampak pada lonjakan kasus positif hingga kematian karena Covid-19.

"Kebijakan larangan mudik hanya terkesan formalitas semata. Harusnya bersifat terpadu, terkordinir dan komprehensif secara nasional serta tersosialisasi dengan baik kepada masyarakat," katanya, Senin (5/4/2021).

Yudhi menyontohkan, misorganisasi tercermin dari persitiwa perseteruan internal kabinet.

Para menteri yang seharusnya sudah satu visi malah ramai berdebat soal istilah 'mudik' dengan 'pulang kampung'.

"Harusnya kebijakan diselesaikan dulu antar menteri, semua terkesan mendadak. Sebagai contoh SE Menpan RB Nomor 7 tahun 2021 dikeluarkan mendekati hari H, sehingga kurang tersosialisasi dengan baik," ujarnya.

Baca juga: Ganjar Siapkan Tempat Isolasi untuk Warga yang Nekat Mudik Lebaran

Kebijakan larangan mudik, kata Yudhi, tidak dibarengi dengan ketentuan teknis dan implementasi yang konsisten serta tegas di lapangan.

Dia melihat, ada kesan pembiaran meskipun jelas sekali bahwa terjadi lonjakan mobilitas penduduk selama waktu larangan tersebut.

"Bagi yang melanggar dikenakan sanksi secara tegas. Khusus bagi ASN, seharusnya menjadi contoh, harus ada ketentuan sanksi tegas, masuk kriteria pelanggaran sedang-berat bagi ASN yang melanggar," jelasnya.

Selain itu, larangan mudik idealnya juga diberlakukan untuk semua moda transportasi publik dan kendaraan pribadi.

"Mekanisemnya seperti apa harus digodok matang, jangan cuma asal bikin kebijakan tapi pelaksanaan di lapangan tidak konsisten," pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sekelompok Orang Bakar 20 Rumah di Dogiyai Papua, 2 TNI Terluka, Ratusan Warga Mengungsi

Sekelompok Orang Bakar 20 Rumah di Dogiyai Papua, 2 TNI Terluka, Ratusan Warga Mengungsi

Regional
Pj Wali Kota Pekanbaru dan Bupati Kampar Dilantik, Ini Tugas dari Gubernur Riau

Pj Wali Kota Pekanbaru dan Bupati Kampar Dilantik, Ini Tugas dari Gubernur Riau

Regional
Status Kasus Perusakan Tembok Benteng Keraton Kartasura Naik ke Penyidikan

Status Kasus Perusakan Tembok Benteng Keraton Kartasura Naik ke Penyidikan

Regional
Akan Menikahi Adik Jokowi, Ketua MK Anwar Usman Bantah Keras Desas-desus 'Pernikahan Politik'

Akan Menikahi Adik Jokowi, Ketua MK Anwar Usman Bantah Keras Desas-desus "Pernikahan Politik"

Regional
Tabrak Pembatas Jalan, Remaja di Jayapura Meninggal Dunia

Tabrak Pembatas Jalan, Remaja di Jayapura Meninggal Dunia

Regional
Perahu Diduga Milik Nelayan yang Hilang di Perairan Raja Ampat Ditemukan, Keberadaan Korban Belum Diketahui

Perahu Diduga Milik Nelayan yang Hilang di Perairan Raja Ampat Ditemukan, Keberadaan Korban Belum Diketahui

Regional
Anggota Brimob di Dompu Dibacok Kawanan Preman, Istrinya yang Hamil Diinjak dan Ditendang

Anggota Brimob di Dompu Dibacok Kawanan Preman, Istrinya yang Hamil Diinjak dan Ditendang

Regional
Terbukti Korupsi Pembangunan Ruang Praktik Siswa, Eks Kepala Sekolah di Bengkulu Divonis 1,8 Tahun Penjara

Terbukti Korupsi Pembangunan Ruang Praktik Siswa, Eks Kepala Sekolah di Bengkulu Divonis 1,8 Tahun Penjara

Regional
Aturan Lepas Masker di Ruangan Terbuka, Satgas Covid-19 Padang: Berkerumun Tetap Pakai

Aturan Lepas Masker di Ruangan Terbuka, Satgas Covid-19 Padang: Berkerumun Tetap Pakai

Regional
Mayat Wanita yang Ditemukan di Kampung Nendali Jayapura Diduga Korban Kekerasan

Mayat Wanita yang Ditemukan di Kampung Nendali Jayapura Diduga Korban Kekerasan

Regional
Soal Penanganan Covid-19, Penjabat Gubernur Papua Barat: Yang Utama Vaksinasi

Soal Penanganan Covid-19, Penjabat Gubernur Papua Barat: Yang Utama Vaksinasi

Regional
Pengakuan Sopir Bus yang Kabur Usai Kecelakaan di Ciamis, Polisi: Takut Diamuk Massa

Pengakuan Sopir Bus yang Kabur Usai Kecelakaan di Ciamis, Polisi: Takut Diamuk Massa

Regional
Polda Jateng Pastikan Dugaan Pemerkosaan Anak di Sragen Bakal Diusut Tuntas

Polda Jateng Pastikan Dugaan Pemerkosaan Anak di Sragen Bakal Diusut Tuntas

Regional
20 Rumah Dibakar, Ratusan Warga Dogiyai Papua Mengungsi ke Pos TNI-Polri

20 Rumah Dibakar, Ratusan Warga Dogiyai Papua Mengungsi ke Pos TNI-Polri

Regional
Air Terjun Sikulikap di Sumatera Utara, Daya Tarik dan Harga Tiket Masuk

Air Terjun Sikulikap di Sumatera Utara, Daya Tarik dan Harga Tiket Masuk

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.