Populer di Kompasiana: Dari Kaesang yang Jualan Pisang hingga Media Sosial Sterilkan Linimasa

Kompas.com - 17/11/2018, 22:41 WIB
Kaesang Pangareb membagikan salah satu varian pisang yang di Outlet Sang Pisang kepada pengunjung yang menyerbu Outletnya di Kawasan Nagoya, BatamKOMPAS.COM/ HADI MAULANA Kaesang Pangareb membagikan salah satu varian pisang yang di Outlet Sang Pisang kepada pengunjung yang menyerbu Outletnya di Kawasan Nagoya, Batam

KOMPASIANA - Putra Bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep mendadak ramai dibicarakan di Twitter lantaran intensitas kemunculannya di acara kenegaraan yang tak sesering Jan Ethes, keponakannya.

Kaesang memang kerap menemani presiden beraktivitas, tetapi belakangan perannya tergantikan oleh Jan Ethes. Terlebih, kelucuan tingkah Jan Ethes berhasil menyita perhatian publik hingga menjadi buah bibir di media sosial.

Warganet pun segera menghujani Kaesang dengan cuitan yang bernada gurauan mengenai “kalahnya eksistensi” Kaesang oleh Jan Ethes.

Seakan curhat, Kaesang Pangarep pun menulis kondisi tersebut di bio akun Twitternya. Ia menulis: "Hanya Anak Bungsu Yang Kalah Oleh Para Cucu".

Selain perbincangan tentang Kaesang dan Jan Ethes, pekan ini Kompasiana diramaikan dengan topik populer lainnya seperti tips membeli rumah bersubsidi hingga santernya kabar mengenai platform media sosial yang ramai-ramai memblokir penggunanya demi mensterilkan linimasa.

Berikut adalah 5 artikel pilihan di Kompasiana:

1. Kaesang Mati-matian Jualan Pisang, Ada Pula Kios "Jan Ethes" Jualan Pulsa

Menurut Hendra Wardhana, tidak ada maksud serius pada tulisan “Hanya Anak Bungsu Yang Kalah Oleh Para Cucu” pada bio Twitter Kaesang Pangarep. Terlebih, Kaesang memiliki karakter jenaka yang dikenal gemar bergurau.

Sebaliknya, hal tersebut adalah upaya mengkapitalisasi respons warga menjadi ruang mempromosikan usaha kulinernya, yakni Sang Pisang.

"Ia membiarkan warganet menertawakan kemalangan seorang putra bungsu presiden yang tersisih oleh cucu presiden, lalu menjadikan itu sebagai medium untuk meningkatkan relasi demi misi-misi yang dikehendakinya, salah satunya adalah membuat Sang Pisang semakin laku," tulis Hendra Wardhana.

Meski seolah terjadi persaingan antra Kaesang dengan Jan Ethes, sesungguhnya kedua sosok ini sama-sama populer di kalangan masyarakat.

Sampai-sampai di tepi Jalan Lingkar Utara Yogyakarta, tepatnya di sebelah barat Hartono Mall Jogja, Hendra Wardhana mendapati sebuah kios bernama "JANETHES Selluler". 

Meski tidak ada kaitannya sama sekali, menurut pengakuan pegawainya, mereka tidak tahu alasan pasti sang pemilik menamai tempat usahanya dengan nama “Jan Ethes”.

Namun, kios itu pertama kali berdiri sejak 2 tahun lalu, tepat pada tahun ketika Jan Ethes lahir (baca selengkapnya)


2. Hati-hati Membeli Rumah Bersubsidi

Agustinus Wahyono menuliskan pengalamannya ketika mengurus hunian bersubsidi. Saat itu, ia menemui pengembang (developer) untuk mendapatkan penjelasanan mengenai sebuah hunian yang baru saja dibeli oleh temannya.

Setelah meninjau lokasi, ada beberapa poin yang ingin Wahyono ajukan kepada pengembang untuk mendapatkan klarifikasi. Salah satunya ialah ketiadaan dapur dan sanitasi.

Menurutnya, rumah tersebut belum tuntas sepenuhnya, tidak layak huni, dan pengerjaannya seolah tergesa-gesa.

Tetapi bukannya mendapat penjelasan yang melegakan, pengembang malah mempersilakan pemilik rumah untuk membatalkan pembelian apabila tidak berkenan dengan rumah yang tersedia (baca selengkapnya)

 

3. Pisang Sale Aceh Kini Menjangkau Negeri, Mengangkat Gengsi UMKM

Kegemaran masyarakat Aceh terhadap pisang sale, papar Hamdani ketika bertemu dengan para pengusaha UMKM di Aceh, itu karena rasanya yang manis dan harum. Mengonsumsi pisang sale memberi dampak baik terhadap kesehatan.

Sentra-sentra produksi pisang sale tersebar di beberapa kawasan di Aceh. Tetapi yang sudah lebih dulu oleh masyarakat umum terdapat di Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara.

"Tepatnya di Lhok Nibong dan Panton Labu, 2 daerah tersebut sudah menjadi ikon produk pisang sale," tulis Hamdani (baca selengkapnya)

 

4. Membuat Rancangan Usaha Itu Gampang, Susahnya Mengawali

Bagi siapapun yang menjalani bisnis pasti mengharapkan usahanya akan terus berkembang. Tetapi, tentu tidak mudah bagi mereka yang baru memulai usahanya. 

Seperti yang dialami Imam Maliki. Ia menghabiskan waktu hingga 3 bulan untuk ahkan sampai 3 bulan membuat perencanaan usaha. Setelah itu barulah ia menemukan Pentol Gongso sebagai objek yang ingin dikembangkannya.

Pertimbangannya, menurut Imam Maliki, pentol merupakan makanan asli Indonesia yang sudah sangat familiar, jadi tidak perlu memperkenalkan dengan berdarah-darah. Tetapi kendala yang Imam Maliki alami tidaklah terhitung mudah. Hal tersulit adalah faktor melawan malu dan gengsi.

"Faktor ini sangat krusial, apalagi bagi seseorang  yang sebelumnya berada pada posisi jabatan yang tinggi, tingkat pendidikan yang tinggi dan kekayaan yang cukup," ungkapnya (baca selengkapnya)

 

5. Efektifkah Memblokir Users untuk Sterilkan Linimasa?

Berbagai platform kini tengah berbenah. Baik Facebook maupun Twitter sedang sibuk mengawasi dan menonaktifkan ribuan pengguna. Sebenarnya ada 3 hal yang menjadi fokus mereka, yaitu hate speech, trolls, dan hoaks.

Giri Lumakto meragukan efektivitas langkah tersebut. Menurutnya, selama ini konten yang mengalir di liimasa dipengaruhi oleh engagement. Selama lingkaran masyarakat tetap merespons positif ketiga pelanggaran di atas, maka selama itu pula konten hate speech, trolls, dan hoaks akan tetap langgeng di linimasa.

Kedua, social media profiling selama ini telah menjadi komoditas politis. Algoritma media sosial justru berpotensi memunculkan pasar menurut kriterianya masing-masing sendiri.

Salah satunya ialah pasar dengan pengguna yang memiliki engagement dengan hate speech, trolls, dan hoaks (baca selengkapnya)



Close Ads X