Gempa Gunung Agung 2 Kali Lebih Banyak Dibanding Merapi Sebelum Meletus

Kompas.com - 05/10/2017, 07:29 WIB
Gunung Agung dari  kawasan Wisata Pantai Amed, Desa Purwekerti, Karangasem. KOMPAS.com/Ira RachmawatiGunung Agung dari kawasan Wisata Pantai Amed, Desa Purwekerti, Karangasem.
|
EditorReni Susanti

KARANGASEM, KOMPAS.com - Kasubid Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devi Kemal Syahbana mengatakan, jumlah gempa yang terjadi di gunung Agung rata-rata dua kali lipat dari gempa pada saat Gunung Merapi meletus 2010 silam.

Menurutnya, sebelum meletus Gunung Merapi mengalami kegempaan rata-rata 250 kali tiap harinya. Sedangkan gunung Agung, sejak ditetapkan pada level awas tiap harinya mengalami gempa vulkanik dan tektonik lebih dari 500 kali. Bahkan pernah mencapai 900 kali.

"Di sana kurang dari 250 kali sudah meletus, Gunung Agung sekarang dua kalinya belum erupsi," kata Devi, Rabu (4/9/2017) malam. 

Karena itu, Gunung Merapi tidak bisa dijadikan pola untuk mempelajari Gunung Agung. Pola Gunung Agung merupakan pola baru untuk dipelajari. Berbeda dengan gunung api lainnya, Gunung Agung tidak memiliki pola pembanding.

(Baca juga: Gunung Agung Berstatus Awas, Pemerintah Alihkan Turis ke Lombok)

Hal ini tidak lepas dari minimnya data instrumental letusan tahun 1963. Karena itu aktivitas vulkanik Gunung Agung tahun 2017 merupakan pelajaran pola ilmiah yang baru dipelajari.

"Belum ada perkembangan kegempaan sebanyak ini, pengalaman pertama untuk kita semua belajar pahami karakter Gunung Agung," tutur Devi seraya mengatakan pada 1963 peralatan belum memadai seperti sekarang. 

Devi menjelaskan, aktivitas kegempaan Gunung Agung mulai terdeteksi 14 April 2017. Berawal dari gempa tektonik di 50 km arah barat laut Gunung Agung. Pusat gempa kemudian terus bergerak mendekati Gunung Agung.

Gempa tektonik lokal terus terekam sampai Agustus 2017. Pada pertengahan Agustus, PVMBG mulai menangkap adanya gempa vulkanik dalam sebanyak 11 kali. "Ketika itu kita belum naikkan status menunggu perkembangan," kata Devi.

Dalam perkembangan ternyata kegempaan naik secara konstan hingga mencapai rata-rata 163 kali. Karena itu, status Gunung Agung dinaikan menjadi waspada pada 14 september 2017.

Kemudian dinaikan ke level siaga pada 18 september. Status Gunung Agung ditetapkan menjadi awas setelah kegempaan mencapai rata-rata di atas 500 kali sehari. 



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Saking Kesalnya Disebut Duda, Sandra Tak Menyesal Bunuh Teman dengan Sadis

Saking Kesalnya Disebut Duda, Sandra Tak Menyesal Bunuh Teman dengan Sadis

Regional
Buruh Bangunan Ini Menangis, Anaknya Kritis Dihantam Batu oleh Gangster, Operasi Tak Ada Biaya

Buruh Bangunan Ini Menangis, Anaknya Kritis Dihantam Batu oleh Gangster, Operasi Tak Ada Biaya

Regional
Cerita Atlet Difabel, Mengubah Keterbatasan Jadi Tanpa Batas

Cerita Atlet Difabel, Mengubah Keterbatasan Jadi Tanpa Batas

Regional
'Kalau Tetap Diliburkan, Kami Takut Anak-anak Kami Jadi Bodoh'

"Kalau Tetap Diliburkan, Kami Takut Anak-anak Kami Jadi Bodoh"

Regional
R Berprofesi Sopir Taksi Online dan Dijanjikan Rp 4 Juta untuk Antar Jemput Artis HH

R Berprofesi Sopir Taksi Online dan Dijanjikan Rp 4 Juta untuk Antar Jemput Artis HH

Regional
Tidak Ada Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah NTB hingga September 2020

Tidak Ada Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah NTB hingga September 2020

Regional
Saat Ibu-ibu Bawa Anak Protes, Ingin Sekolah Tatap Muka Dilakukan di Tengah Pandemi...

Saat Ibu-ibu Bawa Anak Protes, Ingin Sekolah Tatap Muka Dilakukan di Tengah Pandemi...

Regional
Cerita Agen Koran Gadaikan Cincin Emas 4 Gram 'Pemberian' SBY untuk Modal Usaha

Cerita Agen Koran Gadaikan Cincin Emas 4 Gram "Pemberian" SBY untuk Modal Usaha

Regional
Muncikari Artis HH Diduga Seorang Fotografer, Polisi Memburunya

Muncikari Artis HH Diduga Seorang Fotografer, Polisi Memburunya

Regional
Lapak PKL di Puncak Bogor Dibongkar karena Sering Dikerumuni Wisatawan

Lapak PKL di Puncak Bogor Dibongkar karena Sering Dikerumuni Wisatawan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Ganjar Bantah Solo Zona Hitam | Pernikahan Gadis di Bawah Umur

[POPULER NUSANTARA] Ganjar Bantah Solo Zona Hitam | Pernikahan Gadis di Bawah Umur

Regional
Sekdes yang Curi Kotak Amal Mushala Diberhentikan

Sekdes yang Curi Kotak Amal Mushala Diberhentikan

Regional
145 Kali Donasi Darah, Suparman: Kalau Enggak Donasi Badan Loyo, Kerja Enggak Semangat

145 Kali Donasi Darah, Suparman: Kalau Enggak Donasi Badan Loyo, Kerja Enggak Semangat

Regional
'Jika Sekolah Ini Diliburkan, Kami Akan Memindahkan Anak Kami ke Sekolah Lain'

"Jika Sekolah Ini Diliburkan, Kami Akan Memindahkan Anak Kami ke Sekolah Lain"

Regional
7 Tahun Tak Lulus Kuliah, Mahasiswa Ini Diduga Nekat Gantung Diri, Ini Kata Polisi

7 Tahun Tak Lulus Kuliah, Mahasiswa Ini Diduga Nekat Gantung Diri, Ini Kata Polisi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X