Rabu, 26 November 2014

News /

INDUSTRI PANGAN

Revitalisasi Penggilingan Padi, Perlukah?

Kamis, 28 Juli 2011 | 04:29 WIB

Acap kali bicara penggilingan padi, orang langsung mencibir. Apaan, tuh! Penggilingan padi? Ahhh..., usaha kampungan. Ndeso! Kotor! Berisik! Nggak elite! Dan..., masih banyak lagi stereotip yang dilekatkan pada jenis usaha yang satu ini.

Karena berbagai stereotip itu, tak jarang media massa pun seperti ”alergi” memberitakan. Barangkali karena media massa juga khawatir mendapatkan stempel yang sama.

Saking tak populernya isu terkait penggilingan padi, dalam mesin pencari Google, istilah penggilingan padi hanya ada 317.000 entri. Jauh dari otomotif yang mencapai 98,6 juta entri, tekstil 51,2 juta entri, dan elektronik 368 juta Google. Apalagi dibandingkan dengan Nokia sebanyak 1,6 miliar entri.

Bahkan, penggilingan padi kalah populer dibandingkan dengan garmen yang mencapai 3,34 juta entri sekalipun jumlahnya sudah dipadukan dengan entri rice milling unit (RMU) sebanyak 1,13 juta entri.

Pandangan orang soal penggilingan padi seperti di atas memang sebagian ada benarnya. Sebab, umumnya suasana di penggilingan padi berisik dan berdebu, lokasinya di perkampungan atau tengah sawah. Karena itu, penggilingan padi menjadi terasing dan tidak menarik.

Benarkah penggilingan padi tidak menarik? Usaha penggilingan padi sesungguhnya jauh lebih menarik daripada popularitasnya.

Usaha penggilingan padi terus bertumbuh menjadi besar dan akan terus menjadi besar. Bahkan, penggilingan padi sudah menjadi industri tersendiri seiring meningkatnya kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya pangan dan pangan yang berkualitas.

Di Indonesia, beras yang menjadi produk utama penggilingan padi bahkan memasok 90 persen kebutuhan karbohidrat masyarakat.

Karena peluang bisnisnya menjanjikan, orang tidak segan-segan menginvestasikan dananya hingga puluhan miliar rupiah untuk membangun penggilingan padi modern dalam rangka memproduksi beras berkualitas tinggi dan bermerek serta mendapatkan keuntungan dari hasil samping, seperti menir, katul, dan sekam.

Nilai investasi dalam industri penggilingan padi juga besar. Dengan rata-rata investasi untuk mesin penggilingan padi Rp 50 juta per unit, dengan total penggilingan padi sekarang sebanyak 110.452 unit (terdiri dari penggilingan besar, sedang dan kecil), total investasinya mencapai Rp 5,52 triliun.

Belum dengan menghitung investasi industri penggilingan padi skala besar dan menengah. Juga kalau menghitung lahan usaha penggilingan harus membeli.

Menariknya lagi, industri penggilingan padi setiap tahun menggiling lebih dari 60 juta ton gabah kering giling (GKG) dan akan terus meningkat.

Tahun 2010 saja ada 65 juta ton GKG yang digiling dengan nilai perdagangan gabah lebih dari Rp 195 triliun. Jumlah itu jauh melebihi nilai perdagangan industri garmen, tekstil, dan unggas.

Besarnya nilai perdagangan ini baru menghitung perdagangan gabah yang diolah industri penggilingan. Bagaimana kalau diolah menjadi beras? Jika harga beras rata-rata Rp 7.000 per kilogram, dan sangat berpeluang besar mencapai Rp 10.000, nilai perdagangannya bisa naik menjadi Rp 259 triliun dan berpotensi mencapai Rp 370 triliun per tahun.

Belum lagi menghitung hasil sampingnya, seperti menir, katul dan sekam. Menir untuk industri makanan, sedangkan katul untuk industri pakan ternak.

Produksi katul nasional setiap tahun mencapai 10-15 persen dari total gabah yang digiling. Dengan harga katul rata-rata Rp 2.000 per kilogram dan industri penggilingan tahun 2010 menggiling 65 juta ton beras, nilai tambah dari katul mencapai Rp 19,5 triliun setiap tahun. Belum lagi penjualan sekam untuk campuran industri bata atau untuk alas kandang ternak.

Industri penggilingan padi juga menyerap banyak tenaga kerja. Dengan rata-rata setiap unit penggilingan padi mempekerjakan lima tenaga kerja, 110.452 unit penggilingan menyerap sekitar 500.000 tenaga kerja. Belum pekerja di penggilingan menengah dan besar yang bisa lebih dari 10 orang per unit.

Bagaimana dengan keuntungan usaha? Setiap 100 kilogram padi yang digiling di perusahaan penggilingan modern bisa menghasilkan rendemen beras hingga 65 persen. Pendapatan dari ongkos giling bervariasi, sekitar Rp 100 per kilogram.

Dengan catatan mereka menggiling padi dan menjual beras dengan harga rata-rata beras kualitas medium. Sekarang ini berkembang usaha penggilingan modern yang mengolah padi menjadi beras berkualitas dan bermerek dengan nilai tambah tinggi. Harga berasnya bisa dua kali lipat harga beras kualitas medium. Hitung sendiri berapa besar keuntungannya!

Potensi besar

Potensi perkembangan industri penggilingan padi juga masih terbuka. Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 267 juta jiwa dan laju pertumbuhan penduduk 1,49 persen, kebutuhan beras akan terus meningkat.

Ekonomi yang terus berkembang dan membawa orang ke kesejahteraan yang lebih baik mendorong konsumsi beras berkualitas bagus meningkat. Di sisi lain, Indonesia masih kekurangan beras sehingga harus mengimpor, sekalipun tidak besar.

Sayangnya, di tengah berkembangnya industri penggilingan padi di Indonesia, ada masalah cukup serius yang terjadi. Kinerja industri penggilingan padi, terutama industri kecil, tidak cukup efisien.

Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian Zaenal Bachruddin, Senin (18/7), di Makassar, Sulawesi Selatan, mengatakan, rata-rata rendemen beras nasional yang dihasilkan hanya 55,7 persen.

Salah satu faktor rendahnya rendemen beras dalam bulir padi adalah belum optimalnya kinerja industri penggilingan padi.

Badan Pusat Statistik (2005-2007) memperkirakan, dari proses pascapanen, mulai dari panen sampai angkutan penjualan, terjadi penyusutan 10,82 persen.

Dari jumlah itu, industri penggilingan menyumbang 3,25 persen atau sedikit di bawah pengeringan sekitar 3,27 persen. Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) menghitung, dengan penyusutan sekarang di penggilingan, nilai kerugian mencapai Rp 10 triliun.

Padahal, kata Ketua Umum Perpadi Nur Gaybita, apabila kehilangan hasil bisa diselamatkan, hal itu berpotensi menambah produksi beras nasional 1,5 juta ton. Dengan begitu, tidak perlu lagi Indonesia mengimpor beras dari Thailand atau Vietnam setiap tahun.

Perpadi sudah membuktikannya. Dengan melakukan revitalisasi penggilingan padi ”ala” Perpadi di penggilingan padi skala kecil di Subang, Jawa Barat, 26 Mei 2010, rendemen beras sangat tinggi.

Rendemen beras saat dilakukan pecah kulit mencapai 79,9 persen. Polish I mendapat beras kualitas 3 sebesar 71 persen dengan kadar patahan maksimal 5 persen. Polish II mendapat beras kualitas 2 sebesar 67,5 persen dan polish III mendapat 65,5 persen.

Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pengembangan Hasil Pertanian Kementerian Pertanian bahkan memperkirakan, dengan revitalisasi penggilingan padi, akan ada penghematan Rp 6,3 triliun. Jumlah itu didapat dari pengurangan penyusutan karena penambahan produksi beras 123 kilogram per hektar yang bisa diselamatkan.

Dasar perhitungannya jelas, revitalisasi akan bisa menaikkan rendemen beras dari 55,7 persen menjadi 61,8 persen. Dengan naiknya rendemen, akan ada 123 kilogram beras yang terselamatkan, yang selama ini terbuang dan tidak masuk dalam perhitungan produksi beras.

Dengan rata-rata luas lahan panen padi nasional 13 juta hektar, penyelamatan 123 kilogram beras per hektar setara dengan Rp 6,3 triliun, dengan asumsi harga beras Rp 4.500 per kilogram. Melihat potensi besar itu, Kementerian Pertanian tahun 2011 mengalokasikan anggaran Rp 150 miliar untuk revitalisasi industri penggilingan.

Revitalisasi industri penggilingan menjadi penting. Revitalisasi tentu tidak dilakukan dengan cara meninggalkan yang sudah ada, tetapi bagaimana meningkatkan kinerja industri yang sudah ada sekarang menjadi lebih efisien demi menghasilkan mutu beras lebih baik dan rendemen lebih tinggi. (Hermas E Prabowo)


Editor :