Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apartemen Mewah di Sentul Jadi Pabrik Tembakau Gorila, 6 Pelaku Ditangkap

Kompas.com - 13/09/2023, 16:57 WIB
Rasyid Ridho,
Gloria Setyvani Putri

Tim Redaksi

SERANG, KOMPAS.com - Aparat kepolisian membongkar home industry pembuatan tembakau gorila di apartemen mewah di daerah Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Polisi berhasil menangkap enam orang dari kasus ini.

Ada dua orang pembuat atau produsen berinisial AS (27) dan IH (23). Selain itu, satu orang penyuplai bahan baku untuk membuat tembakau gorila atau sintetis inisial RF (31).

Baca juga: Pegawai SPBU di Karawang Nyambi Jual Tembakau Gorila via Instagram

"Peran RF selain penyuplai bahan baku juga mengedarkannya di wilayah Jabodetabek," kata Kapolres Serang AKBP Wiwin Setiawan kepada wartawan di kantornya. Rabu (13/9/2023).

Wiwin mengungkapkan, terbongkarnya "pabrik" tembakau gorila berawal dari tertangkapnya pengedar di wilayah Kota Serang, Banten berinisial TR (20).

Kemudian dikembangkan dengan menangkap dua orang pengedar di Cimanggis, Depok berinisial JM (25) dan AD (33).

Dari keterangan JM dan AD, tim kemudian melakukan pengembangan lagi hingga berhasil membongkar pabriknya dan menangkap tiga orang beserta barang bukti.

Adapun barang bukti yang diamankan perlengkapan dan bahan baku pembuatan tembako gorila.

Selain itu, ada juga dua bungkus besar sabu seberat 177 gram, dua bungkus ganja, tiga bungkus besar tembako gorila hasil produksi seberat 1.436 gram atau senilai Rp 215 juta, tiga unit timbangan digital, serta dua unit handphone.

"Home industry ini beromset Rp 600 juta perbulan, sedangkan keuntungan pengedar Rp 3-8 juta," ujar Wiwin.

Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Serang Iptu Michael K Tandayu menambahkan, bisnis pembuatan tembako gorila di apartemen oleh AS, IH, dan RF sudah berjalan sejak 2022.

Penjualan tembakau gorila yang diproduksi para tersangka dilakukan dengan cara menawarkan barang haram itu melalui media sosial Instagram.

Cara itu dilakukan, kata Michael, agar tidak diketahui identitas asli penjual dan pembelinya dan tidak mudah dilacak aparat kepolisian.

"Sistem penjualannya terputus, artinya tidak saling kenal antara pengedar, tujuannya supaya tidak mudah diketahui petugas," kata Michael.

Baca juga: Waspada Tembakau Gorila, Bikin Penggunanya Marah dan Melotot!

Terhadap para tersangka dikenakan pasal 114 ayat 2, pasal 123 ayat 2 dan pasal 112 ayat 2 Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

"Ancaman hukuman maksimal pidana mati atau seumur hidup dan paling lama 20 tahun penjara," tandas dia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Sumur Warga Mulai Mengering, BPBD Semarang Siapkan 1,5 Juta Liter Bantuan Air Bersih

Sumur Warga Mulai Mengering, BPBD Semarang Siapkan 1,5 Juta Liter Bantuan Air Bersih

Regional
Wanita Tewas Terjatuh dari Lantai 3 Bangunan Gym, Ini Penjelasan soal Posisi Treadmill Membelakangi Jendela

Wanita Tewas Terjatuh dari Lantai 3 Bangunan Gym, Ini Penjelasan soal Posisi Treadmill Membelakangi Jendela

Regional
Makassar Jadi Satu-satunya Kota di Indonesia yang Masuk Daftar Kota Terbahagia di Dunia

Makassar Jadi Satu-satunya Kota di Indonesia yang Masuk Daftar Kota Terbahagia di Dunia

Regional
Kisah Perjuangan Rhafi Sukma, Anak 'Tukang Deres' yang Berhasil Diterima di 6 Universitas Luar Negeri

Kisah Perjuangan Rhafi Sukma, Anak "Tukang Deres" yang Berhasil Diterima di 6 Universitas Luar Negeri

Regional
Penambang di Nabire Ditemukan Tewas Tergantung, Polisi Ungkap Ternyata Korban Pembunuhan

Penambang di Nabire Ditemukan Tewas Tergantung, Polisi Ungkap Ternyata Korban Pembunuhan

Regional
Jalan Solo-Yogyakarta Sepanjang 300 Meter Diberlakukan 'Contraflow', Ada Pekerjaan Proyek di Pintu Tol Kuncen Ceper

Jalan Solo-Yogyakarta Sepanjang 300 Meter Diberlakukan "Contraflow", Ada Pekerjaan Proyek di Pintu Tol Kuncen Ceper

Regional
Pj Wali Kota Bima Dilaporkan ke KASN Usai Daftar Penjaringan Pilkada 2024

Pj Wali Kota Bima Dilaporkan ke KASN Usai Daftar Penjaringan Pilkada 2024

Regional
Lindungi Stok dan Kendalikan Inflasi, Pemkot Malang Gelar Gerakan Tanam Cabai

Lindungi Stok dan Kendalikan Inflasi, Pemkot Malang Gelar Gerakan Tanam Cabai

Regional
 Nasib Pilu Istri di Semarang Ditinggal Suami Tewas Gantung Diri karena Terjerat Judi 'Online'

Nasib Pilu Istri di Semarang Ditinggal Suami Tewas Gantung Diri karena Terjerat Judi "Online"

Regional
Polisi Bongkar Penyelundupan Narkoba ke Pekanbaru, Satu Pelaku Lolos Setelah Kabur ke Kebun Sawit

Polisi Bongkar Penyelundupan Narkoba ke Pekanbaru, Satu Pelaku Lolos Setelah Kabur ke Kebun Sawit

Regional
Dugaan Korupsi Dana Covid-19, Eks Bupati Maluku Tenggara Kembali Diperiksa

Dugaan Korupsi Dana Covid-19, Eks Bupati Maluku Tenggara Kembali Diperiksa

Regional
Polisi Bongkar Pengoplosan Gas Elpiji di Cilegon, 2 Pelaku Ditangkap

Polisi Bongkar Pengoplosan Gas Elpiji di Cilegon, 2 Pelaku Ditangkap

Regional
Mahasiswi di Magelang yang Bunuh Bayinya Tak Ditahan, Ini Alasannya

Mahasiswi di Magelang yang Bunuh Bayinya Tak Ditahan, Ini Alasannya

Regional
Dua Kelurahan di Semarang Mulai Kekurangan Air Bersih, Mana Saja?

Dua Kelurahan di Semarang Mulai Kekurangan Air Bersih, Mana Saja?

Regional
SD 'Gaib' Terdaftar di Sistem PPDB, Ini Penjelasan Pemkot Semarang

SD "Gaib" Terdaftar di Sistem PPDB, Ini Penjelasan Pemkot Semarang

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com