Kompas.com - 10/05/2022, 22:21 WIB

 

KARAWANG, KOMPAS.com-Kamera trap yang dipasang oleh Sanggabuana Conservation Foundation berhasil merekam macan kumbang dan macan tutul pada 3 April 2022 lalu, bertepatan dengan Hari Macan Tutul International.

Dari data video rekaman kamera trap SCF, macan tutul jawa dengan pola tutul pertama terekam kamera pada tanggal 22 April 2022 pukul 10.05.54 WIB.

Kemudian, macan tutul jawa pigmen gelap atau macan kumbang terlihat melewati depan kamera trap pada hari yang sama pada pukul 13.13.46 WIB.

Baca juga: Macan Tutul Kembali Mangsa Ternak Warga, Dedi Mulyadi: Siklus Pangan Terganggu

Menurut Uce Sukendar, Kepala Divisi Pelestarian dan Perlindungan Satwa (DPPS) SCF, macan tutul pertama dan macan kumbang tersebut dari analisis kamera dan jejak di lapangan datang berlawanan arah.

Sehingga ada kemungkinan mereka bertemu di jalur yang sama sekitar 1,5 jam setelah macan pertama terekam kamera.

Video macan tutul pertama yang terekam hanya terekam bagian belakang dan ekornya saja, sedangkan video kedua terekam macan kumbang berjalan melewati kamera.

Beberapa video yang tidak utuh ini, menurut Uce, karena kesalahan settingan interval triger kamera.

“Terlalu lama trigernya, jadi macan lewat 3 detik baru kamera merekam, harusnya sepersepuluh detik. Tapi walau bagaimanapun ini penting untuk data kita, untuk menganalisa dan evaluasi. Ada dua individu beda pola atau pigmen ditempat yang sama dan hari yang sama," ujar Bujil, panggilan Uce Sukendar dalam keterangan tertulis kepada Kompas.com, Selasa (10/5/2022).

Baca juga: Ada Belasan Ekor Macan Kumbang Hidup di Pulau Nusakambangan

Bernard T. Wahyu Wiryanta, fotografer dan peneliti satwa liar yang juga Dewan Pembina SCF mengatakan, terekamnya dua individu macan tutul beda pola atau pigmen ini sebagai kabar menggembirakan di “Hari Macan Tutul Internasional”.

Bernard yang sudah meneliti satwa liar di Sanggabuana sejak 2020 ini mengatakan, sejatinya macan tutul adalah karnivora soliter dan tidak berbagi daerah teritorial. Biasanya mereka bertemu ketika musim kawin saja.

“Dengan terekamnya 2 individu berbeda di hari yang sama di tempat yang sama, dan hanya berjarak 3 jam, dari analisa, ini merupakan indikasi sedang terjadi musim berkembangbiak karnivora besar di Sanggabuana. Ini kabar menggembirakan buat kami," kata Bernard.

Seminggu sebelumnya, di tempat yang sama juga terjadi perjumpaan langsung antara warga dan macan tutul betina dengan dua anaknya.

Namun, menurut Bernard, induk yang mengasuh anaknya ini belum terekam kamera, tetapi jejak di lapangan memang mengidikasikan ada jejak dari beberapa individu dengan perbedaan ukuran jejak, jadi bisa dipastikan laporan warga benar.

“Untuk data yang dikirim tim lapangan pagi ini, macan kumbangnya diperkirakan berjenis kelamin jantan, untuk yang tutul belum teridentifikasi. Selain dua ekor macan ini, dari video kiriman Bujil juga terekam beberapa satwa lain seperti burung, luwak dan babi hutan yang merupakan pakan alami macan tutul jawa," terang Bernard.

Baca juga: Jelang Lebaran, Macan Tutul Sanggabuana Turun Gunung Mangsa Ternak Warga

Lokasi kedua macan tutul jawa terekam kamera ini di sebuah puncak gunung di kawasan Pegunungan Sanggabuana yang sempat dibuka jalurnya untuk wisata.

Padahal lokasi ini merupakan teritorial dan lintasan karnivora, juga dua primata endemik. Temuan ini sudah beberapa kali dilaporkan ke Adm Perum Perhutani KPH Purwakarta dan BBKSDA Jabar, dan pihak Perhutani setuju bahwa lokasi lintasan karnivora dan primata ini tidak akan dibuka untuk wisata.

Diketahui, macan tutul jawa dan macan kumbang merupakan satu jenis, sama-sama macan tutul jawa, salah satu dari 9 sub spesies macan tutul atau Panthera pardus.

Sedangkan macan tutul jawa dan macan kumbang (Panthera pardus melas) merupakan macan tutul endemik jawa.

Walaupun merupakan satu sub spesies, tetapi sama seperti sub spesies macan tutul india (Panthera pardus fusca) dan macan tutul indochina (Panthera pardus delacouri), macan tutul jawa kadang mempunyai perbedaan warna yang disebabkan oleh pigmen melanistik, hingga beberapa mempunyai warna lebih gelap, seperti macan kumbang ini yang berwarna hitam. Tapi ketika dilihat dalam jarak dekat, tetap ada pola tutulnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sambut HUT RI, Wisata Kuliner 100 Pelaku Usaha dan Mama Papua Digelar di Manokwari

Sambut HUT RI, Wisata Kuliner 100 Pelaku Usaha dan Mama Papua Digelar di Manokwari

Regional
Tips Menghindari Penipuan Via Whatsapp Menurut Polisi

Tips Menghindari Penipuan Via Whatsapp Menurut Polisi

Regional
Dugaan Jual Beli Lahan Bong Mojo Kota Solo, 19 Orang Diperiksa, 2 Berpotensi Jadi Tersangka

Dugaan Jual Beli Lahan Bong Mojo Kota Solo, 19 Orang Diperiksa, 2 Berpotensi Jadi Tersangka

Regional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 12 Agustus 2022

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 12 Agustus 2022

Regional
Tabrak Truk yang Sedang Belok, Pengendara Sepeda Motor Meninggal

Tabrak Truk yang Sedang Belok, Pengendara Sepeda Motor Meninggal

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTB, NTT, Kalbar, dan Kalsel 12 Agustus 2022

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTB, NTT, Kalbar, dan Kalsel 12 Agustus 2022

Regional
Bude Bripka RR: Semoga Keponakan Saya Terbebas dari Tuduhan...

Bude Bripka RR: Semoga Keponakan Saya Terbebas dari Tuduhan...

Regional
Stok Vaksin PMK Kosong di Aceh, Kiriman dari Kementan Masih Ditunggu

Stok Vaksin PMK Kosong di Aceh, Kiriman dari Kementan Masih Ditunggu

Regional
Gubernur Viktor: NTT Bukan Provinsi Miskin, tapi Provinsi Mahal

Gubernur Viktor: NTT Bukan Provinsi Miskin, tapi Provinsi Mahal

Regional
Gudang Bulog di Kota Padang Habis Terbakar, Berawal dari Pembakaran Sampah

Gudang Bulog di Kota Padang Habis Terbakar, Berawal dari Pembakaran Sampah

Regional
Diduga Terlibat Pembelian Amunisi untuk KKB, 2 Aparat Kampung di Nduga Masuk DPO

Diduga Terlibat Pembelian Amunisi untuk KKB, 2 Aparat Kampung di Nduga Masuk DPO

Regional
Arisan Bodong Banjarsari Ciamis, Pelaku Janjikan Untung 24 Persen, Kerugian Korban Capai Rp 665 Juta

Arisan Bodong Banjarsari Ciamis, Pelaku Janjikan Untung 24 Persen, Kerugian Korban Capai Rp 665 Juta

Regional
Anaknya Jadi Tersangka Pembunuhan Brigadir J, Ibunda Bripka RR Syok

Anaknya Jadi Tersangka Pembunuhan Brigadir J, Ibunda Bripka RR Syok

Regional
Pemkot Semarang Mulai Gunakan Bus Listrik Seharga Rp 5,1 Miliar untuk Layani Masyarakat

Pemkot Semarang Mulai Gunakan Bus Listrik Seharga Rp 5,1 Miliar untuk Layani Masyarakat

Regional
Cycling De Jabar, Rangsang Potensi 'Sport Tourism' Selatan Jawa Barat

Cycling De Jabar, Rangsang Potensi "Sport Tourism" Selatan Jawa Barat

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.