Kapal Bantuan Nelayan Mubazir

Kompas.com - 01/05/2013, 02:41 WIB
Editor

SEMARANG, KOMPAS - Program bantuan kapal berbobot 30-40 gros ton untuk nelayan ternyata tidak efektif. Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, sejumlah kapal bantuan dari pemerintah tersebut mangkrak. Nelayan sulit menggunakan karena tak sesuai dengan kondisi medan.

”Bantuan kapal itu malah menyengsarakan nelayan karena biaya operasional mahal. Sekali melaut butuh Rp 25 juta-Rp 30 juta,” ujar pengurus kelompok nelayan Wilujeng, Kendal, Jawa Tengah, Sugeng, dalam diskusi ”Potensi Maritim” di Semarang, Jateng, Senin lalu.

Kapal-kapal bantuan itu juga tidak layak karena kapasitasnya tak sesuai kebutuhan nelayan tradisional.

Menurut informasi yang diperoleh, di Kendal terdapat tujuh kapal bantuan. Namun, semuanya kini mangkrak. Kapal itu pun dibuat tidak presisi sehingga ketika melaut jalannya miring. Padahal, biaya pembuatan itu senilai Rp 1,2 miliar per unit.

Kapal bantuan dengan kapasitas 40 gros ton (GT) telah mengubah budaya melaut nelayan tradisional. Kapal itu memerlukan beberapa awak dan masa melaut dirancang lebih dari tiga minggu. Sementara nelayan Jateng terbiasa melaut sehari.

Kondisi medan

Nelayan asal Jepara, Saroji, mengemukakan, nelayan tradisional selama ini hanya mencari ikan di perairan kurang dari 10 mil (16 km) dari pantai. Kapal bantuan sendiri didesain untuk mencari ikan di perairan lebih dari 10 mil di lautan.

”Dengan spesifikasi kapal seperti itu, nelayan seolah-olah dibenturkan dengan kapal-kapal besar yang kerap juga melaut di jalur nelayan tradisional.

Selain soal bantuan kapal untuk nelayan yang tidak cocok, sejumlah nelayan juga mengungkapkan kegagalan program peningkatan kewirausahaan perempuan pesisir dan kelompok taruna pesisir. Tiap kelompok dijatah dana Rp 100 juta.

Aktivis dari Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Abdul Halim, mengemukakan, pemerintah perlu mengkaji ulang program bantuan untuk nelayan tradisional. Bantuan perlu pengawasan ketat dan evaluasi pelaksanaan guna mencegah penyelewengan anggaran. ”Nelayan sesungguhnya tak memperoleh bantuan karena sudah disabotase oknum pejabat pemerintah dan legislatif,” ujarnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

4 Kendaraan Terlibat Kecelakaan Beruntun di Semarang, Satu Orang Tewas

4 Kendaraan Terlibat Kecelakaan Beruntun di Semarang, Satu Orang Tewas

Regional
4 Bocah Ini Nekat Jadi Begal, Korbannya Dihajar Ramai-ramai, Motor Dijual untuk Pesta Miras

4 Bocah Ini Nekat Jadi Begal, Korbannya Dihajar Ramai-ramai, Motor Dijual untuk Pesta Miras

Regional
Pedagang Pasar Gede dan Klewer Solo Bakal Divaksin Covid-19 Lusa

Pedagang Pasar Gede dan Klewer Solo Bakal Divaksin Covid-19 Lusa

Regional
Kronologi 2 Maling Motor Ditembak karena Melawan Polisi Pakai Celurit

Kronologi 2 Maling Motor Ditembak karena Melawan Polisi Pakai Celurit

Regional
Begini Upaya Pemkab Wonogiri Bujuk Warga Lansia agar Mau Divaksin Covid-19

Begini Upaya Pemkab Wonogiri Bujuk Warga Lansia agar Mau Divaksin Covid-19

Regional
Bupati Terpilih Wonogiri Tak Gelar 'Open House' dan Syukuran Usai Dilantik

Bupati Terpilih Wonogiri Tak Gelar "Open House" dan Syukuran Usai Dilantik

Regional
Mantan Kades di Bogor Jadi Tersangka Korupsi Dana Desa Rp 905 Juta

Mantan Kades di Bogor Jadi Tersangka Korupsi Dana Desa Rp 905 Juta

Regional
Harapan Warga Surabaya kepada Eri Cahyadi-Armuji dalam Memimpin Kota Pahlawan...

Harapan Warga Surabaya kepada Eri Cahyadi-Armuji dalam Memimpin Kota Pahlawan...

Regional
Warga Banjarmasin Temukan Mortir Diduga Peninggalan Belanda

Warga Banjarmasin Temukan Mortir Diduga Peninggalan Belanda

Regional
Kakek Paksa Cucu Berhubungan Intim dengan Tetangga Sambil Menonton

Kakek Paksa Cucu Berhubungan Intim dengan Tetangga Sambil Menonton

Regional
Tegang Jelang Dilantik, Eri Cahyadi: Takut Betul dengan Tanggung Jawab...

Tegang Jelang Dilantik, Eri Cahyadi: Takut Betul dengan Tanggung Jawab...

Regional
Melawan Polisi Pakai Celurit, 2 Pencuri Motor Ditembak

Melawan Polisi Pakai Celurit, 2 Pencuri Motor Ditembak

Regional
Usai Laporkan Wakilnya ke Polisi, Wali Kota Tegal Fokus ke Pelayanan Publik

Usai Laporkan Wakilnya ke Polisi, Wali Kota Tegal Fokus ke Pelayanan Publik

Regional
Mantan Kades Terseret Banjir, Jenazahnya Ditemukan 2 Hari Kemudian, Hanyut 10 Kilometer

Mantan Kades Terseret Banjir, Jenazahnya Ditemukan 2 Hari Kemudian, Hanyut 10 Kilometer

Regional
Dukcapil Siap Ganti Dokumen Kependudukan Korban Banjir Jateng

Dukcapil Siap Ganti Dokumen Kependudukan Korban Banjir Jateng

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X