Kondisi KRL Darurat

Kompas.com - 23/11/2012, 03:35 WIB
Editor

Bogor, Kompas - Setelah insiden kereta rel listrik anjlok di Stasiun Cilebut pada 4 Oktober lalu, giliran rel longsor di antara Stasiun Bojong Gede dan Cilebut, Rabu (21/11) sore. Gangguan perjalanan yang terus mendera kereta komuter ini mendesak disikapi serius oleh semua pemangku kebijakan.

Kasus kecelakaan transportasi publik ini tidak hanya monopoli KRL Jabodetabek. Gangguan perjalanan kereta juga menimpa kereta Prameks di Yogyakarta, 23 Oktober lalu. Kondisi rawan longsor juga ada di sejumlah titik lintasan kereta, seperti di Kilometer 111 lintas Jakarta-Bandung, tepatnya antara Stasiun Sukatani dan Ciganea.

Sebelum rel longsor di Cilebut, Senin dan Selasa lalu terjadi gangguan wesel dan sinyal yang berusia rata-rata di atas 15 tahun. Gangguan akibat sambaran petir ini berimbas pada keterlambatan perjalanan KRL.

Rel longsor terjadi sepanjang 200 meter antara Stasiun Bojong Gede dan Cilebut. Hal ini mengakibatkan perjalanan KRL lintas Bogor berakhir di Stasiun Bojong Gede. Perbaikan diperkirakan memakan waktu hingga tiga pekan.

Diduga longsor terjadi akibat luapan air dari Kali Baru yang terletak sekitar 50 meter dari rel. Derasnya air membuat tanah penyangga rel tergerus sehingga longsor. Tanah longsoran mengenai 17 rumah yang ada di bawah rel.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Ignasius Jonan mengatakan, risiko longsor sudah diantisipasi dengan membangun turap di pinggir rel. Tingginya debit air diduga tak mampu ditampung akibat aliran sungai yang terus menyempit. ”Arus air begitu deras, hingga menyeret turap dan membuat rel ambles,” katanya.

PT KAI, kata Jonan, menghentikan perjalanan kereta ketika kondisi tanah semakin labil untuk menghindari kecelakaan dan jatuhnya korban jiwa. Jonan mengusulkan, ke depan, PT KAI bisa dilibatkan dalam penataan kota untuk ikut menunjang keselamatan dan kelancaran perjalanan kereta.

”Kami akan menyurati pemerintah daerah setempat. Kami berharap mereka ikut serta membenahi hal-hal yang berpotensi menyebabkan gangguan perjalanan kereta,” ujarnya.

Selain longsor, Stasiun Bogor juga terendam air setelah hujan lebat mengguyur Bogor pada Rabu siang hingga petang. ”Sebelumnya stasiun ini tidak pernah banjir,” kata Kepala Humas PT KAI Sugeng Priyono.

General Manager Bisnis dan Pelayanan Commuter Jabodetabek Mega Rusiandi mengatakan, setiap hari sekitar 10.000 pengguna KRL berangkat dari Stasiun Cilebut, sedangkan dari Bogor ada lebih dari 35.000 orang.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.