Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Potensi Penggunaan PLTS Atap di Sektor Industri Jateng Besar, tapi Terganjal Pembatasan Kuota

Kompas.com - 15/08/2023, 23:17 WIB
Titis Anis Fauziyah,
Dita Angga Rusiana

Tim Redaksi

SEMARANG, KOMPAS.com - Penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di sektor industri cukup mendominasi di Jawa Tengah (Jateng). Namun, sayangnya pemasangan modul PLTS atap hanya dibatasi sekitar 15 persen saja.

Menurut catatan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) jateng, sampai sekarang kapasitas PLTS atap sektor industri mencapai 19.688 kWp (kilowatt peak). Angka tersebut tertinggi jika dibandingkan sektor lain di Jateng.

Misalnya saja di sektor bisnis komersial PLTS atap sebesar 1.869 kWp. Lalu Gedung Pemerintah 1.393 kWp. Kemudian sekolah dan pondok pesantren 1.112 kWp.

Baca juga: PLN Pastikan Proyek Pembangunan PLTS di IKN Selesai di Bulan Mei 2024

Adanya pembatasan Kepala Bidang Energi Baru dan Terbarukan (EBT) ESDM Jateng, Eni Lestari mengaku sedikit pesimis dengan target bauran EBT di Jateng sebesar 21,32 persen di 2025 mendatang. Pasalnya saat ini masih 15,76 persen.

“Targetnya kita tetap mendorong EBT, tapi aturan harus kita ikuti. Agak pesimis juga dibanding saat belum ada batasan (15 persen dari PLN),” tutur Eni, Senin (14/8/2023).

Pasalnya sebelumnya Jateng sempat mendeklarasikan Jateng Solar Province (provinsi berbasis tenaga surya). Bahkan telah melakukan sosialisasi di berbagai sektor.

Ia juga menyadari potensi penggunaan PLTS atap di sektor industri sejatinya sangat besar.

“Karena sebenarnya kebutuhan industri akan PLTS itu sangat besar. Tapi mereka (industri) masih menunggu posisinya (kebijakan). Barangkali Permennya setelah berubah ini nanti jadi lebih menjanjikan daripada kondisi Sekarang,” imbuhnya.

Peraturan Menteri (Permen) Nomor 26 tahun 2021 mengatur pemasangan PLTS atap disesuaikan dengan kapasitas maksimum dari kebutuhan industri itu. Namun praktiknya industri hanya diizinkan memasang maksimal 15 persen saja. Seperti yang sudah dilakukan Pabrik Sido Muncul sejak 2021 silam.

Dari wawancara Kompas.com, kebutuhan listrik bulanan di Sido Muncul mencapai 7.000 kW atau 7 megaWatt. Hal ini membuktikan besarnya kebutuhan listrik untuk proses produksi atau operasional pabrik.

Menurut Eni, besarnya penggunaan listrik dari sektor industri membuat PLN perlu mengatur batasan itu. Terlebih mengingat kondisi produksi listrik di Jateng surplus dan banyak yang tidak terpakai sia-sia.

“Padahal secara produksi listrik enggak bisa disimpan. Misalnya produksi 8.000 mega lebih, Jateng itu beban puncak sekitar 4.000 sekian. Jadi masih sisa 4.000-an sebetulnya. Yang sudah diproduksi dengan mengeluarkan biaya, tapi enggak dipakai kan kayak jalan aja, hilang. Mungkin alasan kedua itu kenapa PLN membatasi, supaya bisa maksimal menggunakan listrik dari PLN,” jelasnya.

Dengan adanya rencana revisi Permen ESDM Nomor 26, diharapkan pemasangan batas maksimal PLTS dapat diatur oleh daerah masing-masing.

“Misal di Jateng meliputi Jateng DIY, mungkin akan punya kebijakan kuota sekian mega. Harus memikirkan industri yang memasang PLTS atap,” katanya.

Baca juga: Pakar: Pemerintah Perlu Longgarkan Izin PLTS Atap di Perkotaan

“Ya kita ikut mendorong kelonggaran batasan lebih dari 15 persen, kita komunikasikan dengan pusat. Karena itu kebijakan pusat, jadi kami harus ikuti. Pada saat rapat diundang ya kita sampaikan itu,” tambahnya.  

Halaman:


Terkini Lainnya

Kesaksian Warga soal Tempat Judi Online di Purwokerto, Aktivitas 24 Jam dan Banyak Anak Muda

Kesaksian Warga soal Tempat Judi Online di Purwokerto, Aktivitas 24 Jam dan Banyak Anak Muda

Regional
Penjelasan Disnaker Kota Semarang soal PHK Massal di PT Sai Apparel

Penjelasan Disnaker Kota Semarang soal PHK Massal di PT Sai Apparel

Regional
Tabrak Lari Mobil Xtrail Hitam di Jambi, Polisi Buru Pelaku

Tabrak Lari Mobil Xtrail Hitam di Jambi, Polisi Buru Pelaku

Regional
Tewaskan Lawan Tawuran, Pemuda di Semarang Terancam 15 Tahun Penjara

Tewaskan Lawan Tawuran, Pemuda di Semarang Terancam 15 Tahun Penjara

Regional
Tragedi di Hotel Kelas Melati di Kuningan, Gadis Muda Asal Jakarta Dibunuh Kekasihnya

Tragedi di Hotel Kelas Melati di Kuningan, Gadis Muda Asal Jakarta Dibunuh Kekasihnya

Regional
Pilkada Jambi, Gerindra Siapkan 3 Kader Potensial

Pilkada Jambi, Gerindra Siapkan 3 Kader Potensial

Regional
Di Tengah Sengketa Lahan, PPDB SDN 212 Kota Jambi Tetap Dibuka

Di Tengah Sengketa Lahan, PPDB SDN 212 Kota Jambi Tetap Dibuka

Regional
Golkar-PKS Wacanakan Tim Khusus Koalisi untuk Pilkada Solo 2024

Golkar-PKS Wacanakan Tim Khusus Koalisi untuk Pilkada Solo 2024

Regional
Kasus Mayat Perempuan Tanpa Busana di Hotel Kuningan, Korban Dibunuh Pacar yang Cemburu

Kasus Mayat Perempuan Tanpa Busana di Hotel Kuningan, Korban Dibunuh Pacar yang Cemburu

Regional
Pulang Merantau dari Kalimantan, Ayah Dihabisi Anaknya di Kebumen, Ada Sayatan Benda Tajam

Pulang Merantau dari Kalimantan, Ayah Dihabisi Anaknya di Kebumen, Ada Sayatan Benda Tajam

Regional
Ketua TP PKK Pematangsiantar Ingatkan Pentingnya Pendidikan Anak-anak PAUD

Ketua TP PKK Pematangsiantar Ingatkan Pentingnya Pendidikan Anak-anak PAUD

Regional
Gerebek 3 Tempat Judi Online di Purwokerto, Polisi Amankan Puluhan Orang dan Ratusan Komputer

Gerebek 3 Tempat Judi Online di Purwokerto, Polisi Amankan Puluhan Orang dan Ratusan Komputer

Regional
2 Orang Terseret Arus di Pantai Lhoknga, 1 Tewas, 1 Masih Hilang

2 Orang Terseret Arus di Pantai Lhoknga, 1 Tewas, 1 Masih Hilang

Regional
6 Karyawan Koperasi di Sikka Ditetapkan Tersangka Kasus Dugaan Penggelapan dalam Jabatan

6 Karyawan Koperasi di Sikka Ditetapkan Tersangka Kasus Dugaan Penggelapan dalam Jabatan

Regional
Dengan Tema Manjadda Wajada, Festival Al-A’zhom Kota Tangerang Akan Kembali Hadir pada Awal Juli 2024

Dengan Tema Manjadda Wajada, Festival Al-A’zhom Kota Tangerang Akan Kembali Hadir pada Awal Juli 2024

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com