Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

RIbuan Warga Ikuti Kirab Budaya Meriahkan Pertemuan G20 di Candi Borobudur

Kompas.com - 13/09/2022, 10:15 WIB
Kontributor Magelang, Ika Fitriana,
Ardi Priyatno Utomo

Tim Redaksi

MAGELANG, KOMPAS.com - Masyarakat antusias menyambut kehadiran para delegasi negara-negara G20 yang sedang menggelar pertemuan di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Mereka menggelar Kirab Budaya bertajuk "Mulih Pulih", yang melibatkan 2.000 peserta dari 20 desa di Kecamatan Borobudur. Kirab Budaya mengambil rute dari Candi Pawon ke Candi Borobudur, atau sejauh sekitar 1,5 kilometer.

Masing-masing desa menampilkan kreasi berupa replika 20 satwa ikonik yang semuanya terinspirasi dari relief-relief di Candi Borobudur.

Baca juga: Ada Pertemuan Menteri G20, Akses ke Kawasan Candi Borobuduru Dibatasi

Di antaranya Desa Kembanglimus menampilkan satwa Gajah, Desa Tuksongo berupa Ayam Jago, Desa Kenalan berupa Penyu, Desa Majaksingi berupa Buaya, Desa Giritengah berupa Kuda Sembarni, Desa Ngadiharjo berupa macan dan sebagainya.

Seluruh material yang digunakan adalah bahan-bahan alam sekitar dan olahan sampah plastik, kertas dan lainnya. Mereka juga menampilkan aneka gerak tari, hingga kostum unik.

Gerak menari warga yang ditata secara koreografis menurut gagasan dan tradisi masing-masing desa namun dalam detak yang sama dipimpin oleh direktur artistik RM Altiana dan diiringi arasemen musik oleh Trie Utami.

Secara keseluruhan kegiatan penyambutan G20 in terdiri dari empat segmen, yakni Ritus "Bangun Tuwuh" di Candi Pawon, Kirab Budaya "Mulih Pulih" dari Candi Pawon menuju Candi Borobudur, Rapat Raksasa "Nyawiji" di Taman Lumbini Candi Borobudur, dan Parade Seni "Golong Gilig".

Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Dirjen Kebudayaan, Keneterian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Judi Wahjudin menerangkan, kirab budaya ini membuktikan bahwa ekosistem dan potensi budaya masyarakat Borobudur sungguh luar biasa.

Mereka mengekplorasi kekuatan, gotong-royong dalam sebuah sajian yang membuktikan bahwa roh kebudayaan adalah gotong royong.

Baca juga: Pertemuan Pokja Ketenagakerjaan G20, Bahas Tenaga Kerja Disabilitas hingga Lapangan Kerja Berkelanjutan

"Dengan adanya pertemuan delegasi negara G20 ini kita ingin menunjukkan, masyarakat itu sebetulnya sebuah subjek bukan obyek, mereka harus disertakan dengan budayanya masing-masing. Melalui kirab, mereka menyampaikan banyak pesan, kearifan lokal, kegotongroyongan dan toleransi," terang Judin, disela-sela kegiatan, Senin (12/9/2022).

Judin menambahkan, beragam ikon satwa yang ditampilkan terinsipirasi fabel yang terukir di relief-relief Candi Borobudur.

Hasil riset yang dilakukan Kemendikbudristek menyebutkan, setiap desa di kawasan Borobudur memiliki korelasi dengan makna di balik satwa-satwa tersebut.

"Jadi sebetulnya satwa-satwa tersebut merupakan merupakan simbol kearifan-kearifan lokal yang terinspirasi dari relief Candi Borobudur," imbuh Judin.

Baca juga: Hadiri Pameran Forum G20, Menaker: Ketenagakerjaan Global Butuhkan Gotong Royong

Sedangkan, Rapat Raksasa bertajuk "Nyawiji Nunggal Rasa" mengusung semangat kebersamaan masyarakat yang bahu membahu untuk bisa kembali bekerja dan berkarya, untuk pulih kembali kepada kondisi yang selaras dengan alam sesuai dengan tema besar G20 Indonesia 2022, Recover Together, Recover Stronger.

Kirab budaya dan Rapat Raksasa ini merupakan bagian dari Program Pemajuan Kebudayaan Desa, salah satu program prioritas Direktorat Jendral Kebudayaan yang menitikberatkan pada proses pemberdayaan masyarakat yang melibatkan warga sebagai pemilik budaya.

Tahun ini adalah tahun ke-2 Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbudristek, mendampingi warga Kawasan Borobudur untuk menemukenali kembali potensi budayanya, kemudian membuat program pengembangan sekaligus bagaimana pemanfaatannya untuk kehidupan berkelanjutan.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com