Kompas.com - 12/06/2013, 20:56 WIB
|
EditorFarid Assifa

KOLAKA, KOMPAS.com — Desril (25), warga Jalan Pramuka, Kolaka, Sulawesi Tenggara, harus menjalani operasi ringan di kaki kirinya akibat ditebas oleh kawanan pemuda di sebuah pesta perkawinan di Desa Pesohua, Pomalaa. Ironisnya, aksi preman tersebut dilakukan di depan beberapa anggota polsek setempat. Bahkan, kata Desril, saat dirinya dibawa oleh polisi ke rumah sakit, kawanan preman tersebut masih bebas berkeliaran di pesta tersebut.

Kepada Kompas.com, Desril menyayangkan tindakan aparat kepolisian yang telah melakukan pembiaran terhadap aksi premanisme terhadap dirinya.

"Ibu saya kan sebagai perias pengantin di pesta itu dan saya datang menjemputnya. Tiba di sana entah kenapa saya langsung diserang. Memang terjadi keributan sampai salah satu dari lima orang pemuda itu menusukkan badik di bawah leher saya. Tidak lama kemudian, saya melarikan diri dan bersembunyi di semak-semak," ucapnya, Rabu (12/06/2013).

Dia menambahkan, saat Desril bersembunyi, polisi memberikan jaminan bahwa dirinya tidak akan lagi dipukul kawanan pemuda itu. Namun, saat dia keluar dari semak-semak dan kembali ke pesta tersebut, ia kembali diserang dan kaki kirinya ditebas oleh para pemuda yang dikenal preman kampung itu.

"Saya berani keluar karena polisi itu bilang sudah aman dan tidak akan terjadi keributan lagi. Eh, setelah saya keluar dan kembali ke pesta, malah saya ditebas," katanya.

"Saya kecewa karena para pelaku ini masih terlihat pegang badik dan parang, tetapi tidak ditangkap polisi. Ini yang bikin kami tidak terima atas sikap aparat kepolisian yang ada di tempat tersebut," beber Desril.

Desril mengaku heran polisi yang berseragam itu malah diam saja ketika ada peristiwa penganiayaan. Padahal, pesta itu ada surat izin keramaian. "Harusnya, (para pemuda) ditangkap bukan dibiarkan, apalagi sudah terlihat memegang senjata tajam," cetusnya dengan nada tinggi.

Keluarga Desril yang ditemui di Rumah Sakit Benyamin Guluh, Kolaka, berharap adanya perlakuan adil terhadap anaknya atas masalah ini. "Saya ibu Desril yang melihat kejadian itu. Saya tidak sangka kalau akan terjadi hal ini dan polisi bisa berdiam diri, apalagi informasi yang kami dengar pelaku itu sempat ditangkap, tetapi kembali dilepas oleh polisi," ucap ibu Desril yang enggan menyebutkan namanya.

Sementara itu, pihak Polres Kolaka tidak bisa memberi keterangan karena kejadiannya di wilayah hukum Polsek Pomalaa, sedangkan pihak Polsek Pomalaa sendiri tidak bersedia memberi komentar atas kasus tersebut.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.