Memanen Gula Aren dari Panas Bumi

Kompas.com - 29/08/2012, 11:06 WIB
EditorTri Wahono

Oleh Laksana Agung Saputra/Ahmad Arif

KOMPAS.com - Dikepung gunung api tidak hanya berarti bencana. Energi panas bumi yang berlimpah menjadi sumber listrik dan ”limbahnya” bisa dipakai menggerakkan ekonomi rakyat melalui pengolahan nira menjadi gula semut.

Gunung Soputan dan Lokon yang terlihat menjulang dari Kota Tomohon, Sulawesi Utara, sepertinya tak pernah tidur. Gunung Lokon yang berstatus Siaga sejak 24 Juli 2011 terus menyemburkan belerang sepanjang tahun. Sementara Gunung Soputan meletus dan menyemburkan asap hingga 5.000 meter dari puncak pada Minggu, 26 Agustus 2012.

Namun, bagi warga Kelurahan Lahendong, Kecamatan Tomohon Selatan, dua gunung api yang hanya sejarak 15 kilometer itu adalah berkah. Sejak 2001, sistem geotermal yang muncul dari aktivitas kegunungapian di kawasan ini telah menghasilkan listrik 60 megawatt (MW) dan memasok sekitar 60 persen kebutuhan listrik Sulawesi Utara. Sejak 2007, sisa energi panas bumi telah dimanfaatkan untuk mengolah air nira menjadi gula.

Siang itu, wangi gula merebak di udara ketika air nira dalam wajan mulai mendidih. Perlahan, uap panas bumi yang disalurkan ke dalam tungku melalui instalasi pipa PT Pertamina Geothermal Energy Cluster 13 membuat air nira mengental.

Pipa itu mengalirkan uap panas nyaris tanpa henti. Hebatnya, sumber energi yang berlimpah itu diperoleh secara gratis. Tiap hari pabrik pengolahan gula PT Gula Aren Masarang menyerap 22.000 liter nira rakyat dan menghasilkan 3 ton gula semut.

Limbah geotermal

Pemanfaatan panas bumi untuk pabrik gula aren terbilang sederhana. Pabrik gula aren ini hanya memanfaatkan uap yang tersisa setelah dipakai untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik. Di pembangkit listrik tenaga panas bumi lainnya, sisa uap itu biasanya dialirkan ke kolam pendingin. Lalu, setelah jadi air, diinjeksikan lagi ke dalam tanah.

Namun, di Lahendong, sebagian uap sisa itu juga dialirkan menuju pabrik gula yang dibangun berdampingan dengan pembangkit listrik itu. ”Kami hanya membeli dan memasang pipa. Uap sisa ini diberikan gratis oleh PT Pertamina sebagai bagian dari CSR (corporate social responsibility) mereka karena yang menikmati adalah para petani,” kata Willie Smits, Ketua Yayasan Masarang, yang mengelola pabrik gula aren di Lahendong.

Sebanyak 6.285 petani, menurut Smits, ikut menikmati berkah ”limbah” geotermal tersebut. Energi panas bumi ini juga menyelamatkan 200.000 pohon per tahun jika dibandingkan dengan banyaknya kayu bakar untuk mengolah nira menjadi gula aren secara tradisional.

Keuntungan yang bisa dinikmati petani meningkat dan kerja juga menjadi efisien. Jika dengan cara tradisional bisa memakan waktu setengah hari untuk memanen nira dan mengolahnya menjadi gula, dengan dukungan ”limbah” panas bumi hanya dibutuhkan waktu kerja rata-rata 4,2 jam per hari.

Halaman:
Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Diduga Stres, Pasien di RSUP Kariadi Semarang Lompat dari Ruang Isolasi

    Diduga Stres, Pasien di RSUP Kariadi Semarang Lompat dari Ruang Isolasi

    Regional
    Dua Jenazah di Salatiga dalam Sehari Dimakamkan dengan Protokol Covid-19

    Dua Jenazah di Salatiga dalam Sehari Dimakamkan dengan Protokol Covid-19

    Regional
    Jalur Ekstrem, Evakuasi Jenazah Multazam dari Gunung Piramid Lewat Tebing Jurang

    Jalur Ekstrem, Evakuasi Jenazah Multazam dari Gunung Piramid Lewat Tebing Jurang

    Regional
    67 Warga Pandeglang Diduga Keracunan Usai Santap Makanan di Acara Khitanan

    67 Warga Pandeglang Diduga Keracunan Usai Santap Makanan di Acara Khitanan

    Regional
    Dua Orangutan Kalimantan Diselamatkan dari Lembaga Konservasi Tak Berizin di Jateng

    Dua Orangutan Kalimantan Diselamatkan dari Lembaga Konservasi Tak Berizin di Jateng

    Regional
    Kasus Karhutla yang Libatkan 2 Perusahaan di Kalbar Segera Disidangkan

    Kasus Karhutla yang Libatkan 2 Perusahaan di Kalbar Segera Disidangkan

    Regional
    Balita Terseret Ombak di Pantai Goa Cemara Belum Ditemukan

    Balita Terseret Ombak di Pantai Goa Cemara Belum Ditemukan

    Regional
    Lima Pegawai Positif Covid-19, Operasional Bank Banten Tetap Berjalan

    Lima Pegawai Positif Covid-19, Operasional Bank Banten Tetap Berjalan

    Regional
    Meninggal di Surabaya, Pasien Positif Covid-19 Dimakamkan di TPU Ngemplak Salatiga

    Meninggal di Surabaya, Pasien Positif Covid-19 Dimakamkan di TPU Ngemplak Salatiga

    Regional
    Tujuh ASN Positif Covid-19, PN Surabaya Kembali Tutup Pelayanan 2 Pekan

    Tujuh ASN Positif Covid-19, PN Surabaya Kembali Tutup Pelayanan 2 Pekan

    Regional
    Ditemukan Telungkup di Jurang Gunung Piramid, Jasad Multazam Berhasil Dievakuasi Tim SAR

    Ditemukan Telungkup di Jurang Gunung Piramid, Jasad Multazam Berhasil Dievakuasi Tim SAR

    Regional
    Kontak dengan Pedagang Pasar Nglames yang Meninggal akibat Covid-19, 131 Orang Jalani Rapid Test

    Kontak dengan Pedagang Pasar Nglames yang Meninggal akibat Covid-19, 131 Orang Jalani Rapid Test

    Regional
    Istri Dirawat di RS karena Keguguran, Pria Ini Cabuli Anak Tirinya

    Istri Dirawat di RS karena Keguguran, Pria Ini Cabuli Anak Tirinya

    Regional
    Video Viral Warga Ciumi Jenazah Berstatus Probable Covid-19 di Malang, Ini Penjelasan Polisi

    Video Viral Warga Ciumi Jenazah Berstatus Probable Covid-19 di Malang, Ini Penjelasan Polisi

    Regional
    Ratusan Wisatawan Pantai Gunungkidul Tersengat Ubur-ubur

    Ratusan Wisatawan Pantai Gunungkidul Tersengat Ubur-ubur

    Regional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X