Kompas.com - 29/08/2012, 11:06 WIB
EditorTri Wahono

Menggerakkan ekonomi

Matahari baru saja terbit ketika Armi Mende (35) selesai memanen air nira dari hutan sekunder di pinggiran Kota Tomohon. Empat jeriken ukuran 20 liter hampir terisi penuh nira yang disadap sore sebelumnya.

Warga Lahendong ini lalu menuang nira ke wajan. Ia memasak nira itu dengan kayu bakar. Dia harus terus mengaduk air nira itu hingga mengental, kemudian mencetaknya dalam batok kelapa.

Menyadap nira dan mengolahnya menjadi gula aren adalah rutinitas yang nyaris tak pernah dilewatkan Armi meski hari Minggu sekali pun. Sekali mayang telah dipotong, menyadap nira, atau dalam bahasa Minahasa disebut batifar, tak boleh absen. ”Absen sehari saja bisa merusak mayang,” kata Armi.

Setiap pagi dan sore, ayah tiga anak itu mengambil nira. Hasil sadapan pagi rata-rata 50 liter dan sore hari 25 liter.

Dengan rata-rata 75 liter nira per hari, Armi mampu memproduksi 15 batok gula aren per hari. Gula aren dibeli pengepul dengan harga Rp 8.000 per batok. Artinya, omzet kotor Rp 120.000 per hari.

Jika dijual langsung ke PT Gula Aren Masarang, nira dihargai Rp 1.500 per liter. Jadi, hasil panen 75 liter per hari menghasilkan omzet bersih Rp 112.500.

”Saya lebih memilih menjual air nira langsung ke pabrik karena tidak perlu memasak seharian sehingga bisa melakukan pekerjaan lain. Saya juga tidak perlu membeli kayu,” kata Armi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tingginya minat petani membuat Smits berancang-ancang mengganti pipa pemasok gas panas bumi menjadi berdiameter 10 inci (25,4 sentimeter) agar bisa memproduksi 9 ton gula aren per hari. ”Ke depan, kami harap bisa menyerap 100.000 liter nira per hari,” katanya.

Smits juga menyiapkan industri aren berbasis koperasi desa. Setiap desa diharapkan mendirikan koperasi untuk mengelola pabrik mini di desa masing-masing. ”Sudah ada beberapa investor yang tertarik membangun pabrik mini ini,” katanya.

Anggota koperasi berhak menjadi pemegang saham pabrik mini itu maksimal 49 persen. Sisanya tetap dipegang investor. Dengan sistem ini, petani berhak mendapat bagian keuntungan pabrik mini. ”Cara menjadi pemegang saham cukup dengan menyediakan nira di bawah harga. Selisih harga itu digunakan untuk membeli saham,” katanya.

Smits mengklaim bahwa pabrik gula aren Masarang yang memanfaatkan panas bumi tersebut merupakan yang pertama di dunia. Ini merupakan upaya pengoptimalan potensi panas bumi yang berlimpah di negeri ini.

Indonesia memiliki potensi panas bumi 40 persen dari cadangan dunia atau mencapai 29.038 MW. Lokasinya tersebar di 276 titik, mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, sampai Papua. Potensi ini merupakan yang terbesar di dunia. Namun, potensi itu baru dimanfaatkan 1.332 MW (4,7 persen dari potensi), yang menempatkan Indonesia di bawah Filipina (2.000 MW) dan Amerika Serikat (2.700 MW).

Jika potensi panas bumi ini dioptimalkan, Indonesia tak hanya bisa menjadi superpower energi listrik, sebagaimana disampaikan Al Gore di Jakarta beberapa waktu lalu. Panas bumi juga bisa memberikan banyak nilai lebih untuk menggerakkan ekonomi rakyat.(Amir Sodikin/Aswin Rizal Harahap)

Ikuti perjalanan Ekspedisi Cincin Api Kompas di www.cincinapi.com

Halaman:
Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.