Seolah Beradu dengan Kekuatan Gunung

Kompas.com - 20/07/2011, 18:40 WIB
EditorRobert Adhi Kusumaputra

KOMPAS.com — Hidup seolah beradu dengan kekuatan gunung, itulah yang dialami ribuan warga kaki Gunung Lokon yang kini tersekap dalam lokasi pengungsian. Mereka jengah hidup di pengungsian yang segala aktivitasnya terbatas.

Kegundahan dan kegelisahan pengungsi terlihat dari aktivitas hidup mereka di barak pengungsi. Mereka tak tenang.

Ketika letusan gunung mereda, banyak dari mereka pulang ke rumah. Akan tetapi, mereka harus mengalah saat petugas Penanggulangan Bencana Alam Kota Tomohon menemukan mereka. Petugas tanpa tedeng aling-aling memaksa warga kembali ke lokasi pengungsian. Kalau melawan, langsung diangkut dengan kendaraan.

Petugas beralasan situasi gunung belum normal yang terus mengancam jiwa manusia. "Ini perintah, jangan ada yang melawan. Kami bertugas menyelamatkan ibu," teriak petugas seperti dikutip Deitje Tooy. Situasi seperti ini cukup membuat warga kaki gunung stres. "Hidup kami seperti adu kuat dengan letusan gunung," kata Agus Wollah (54), pengungsi.

Agus yang hidup sebagai petani sayur menceritakan kebingungannya menghadapi situasi letusan Gunung Lokon yang tak menentu. Ia seperti tak tahu berusaha apa setelah kehilangan penghasilan.

Dari usaha sayuran, Agus mengatakan dapat menghidupi istri dan dua orang anaknya. "Hasil jualan sayur setiap pekan terkumpul uang Rp 300.000. Sekarang uang saja tidak ada. Mau pulang lihat tanaman, kehabisan ongkos," katanya.

197 kali meletus
Aktivitas vulkanik Gunung Lokon yang meletus sejak 18 Juni sampai Selasa (19/7/2011) cukup panjang dibanding catatan letusan tahun sebelumnya.

Situasi Kelurahan Kinilow dan Kinilow I yang terletak pada radius 3-4 kilometer dari kawah Tompaluan cukup sepi. Rumah-rumah penduduk tampak tertutup rapat dan dijaga oleh aparat kepolisian dan Pamong Praja. Ada beberapa warga yang enggan dievakuasi meski letusan Lokon berlangsung terus-menerus.

"Kami tahu Lokon tak berbahaya. Malah letusan Lokon tahun 1991 lebih parah," kata Herdi Togas, warga yang tetap tinggal di rumahnya di Kinilow I.

Elizabeth Mandagi (82) mengatakan dua kali merasakan menjadi pengungsi akibat letusan Lokon, yakni tahun 1991 dan kali ini. Ia menceritakan, ketika Lokon meletus hebat tahun 1951, tidak ada warga yang mengungsi. "Orangtua saya tetap berada di rumah," katanya.

Halaman:
Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Dilaporkan Hilang, Kakek Tinggal Ditemukan Tewas di Jurang Sedalam 200 Meter

    Dilaporkan Hilang, Kakek Tinggal Ditemukan Tewas di Jurang Sedalam 200 Meter

    Regional
    Diduga Depresi Ditinggal Istri, Pria di Jember Rusak ATM Pakai Palu dan Obeng

    Diduga Depresi Ditinggal Istri, Pria di Jember Rusak ATM Pakai Palu dan Obeng

    Regional
    Pemprov Jabar Siapkan 26.700 Rapid Test untuk Wisatawan

    Pemprov Jabar Siapkan 26.700 Rapid Test untuk Wisatawan

    Regional
    Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 29 Oktober 2020

    Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 29 Oktober 2020

    Regional
    Sembuh dari Corona, Warga Kota Solok Terima Bantuan Rp 1 Juta

    Sembuh dari Corona, Warga Kota Solok Terima Bantuan Rp 1 Juta

    Regional
    Tak Bermasker, Puluhan Wisatawan di Puncak Terjaring Operasi Yustisi

    Tak Bermasker, Puluhan Wisatawan di Puncak Terjaring Operasi Yustisi

    Regional
    Nekat Begal Sopir Taksi Online di Solo, Remaja Lulusan SMK Babak Belur Dihajar Massa

    Nekat Begal Sopir Taksi Online di Solo, Remaja Lulusan SMK Babak Belur Dihajar Massa

    Regional
    Bawa Palu dari Rumah, Pria Ini Pukul Mesin ATM BRI Berkali-kali hingga Rusak

    Bawa Palu dari Rumah, Pria Ini Pukul Mesin ATM BRI Berkali-kali hingga Rusak

    Regional
    Video Viral Polantas Ambil Paksa Sepeda Motor di Bengkel, Ini Penjelasan Kapolres Agam

    Video Viral Polantas Ambil Paksa Sepeda Motor di Bengkel, Ini Penjelasan Kapolres Agam

    Regional
    Libur Panjang, Kuota Wisatawan Gunung Bromo Penuh hingga Akhir Oktober

    Libur Panjang, Kuota Wisatawan Gunung Bromo Penuh hingga Akhir Oktober

    Regional
    UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 29 Oktober 2020

    UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 29 Oktober 2020

    Regional
    Pengguna Jalan Diingatkan Potensi Pohon Tumbang dan Longsor di Jalur Puncak

    Pengguna Jalan Diingatkan Potensi Pohon Tumbang dan Longsor di Jalur Puncak

    Regional
    Polisi yang Pernah Aniaya Anak Buahnya Dapat Promosi Jabatan

    Polisi yang Pernah Aniaya Anak Buahnya Dapat Promosi Jabatan

    Regional
    Ketahuan Berduaan dengan Teman di Halaman Sekolah, Siswi SMA Diancam dan Diperkosa 3 Pemuda

    Ketahuan Berduaan dengan Teman di Halaman Sekolah, Siswi SMA Diancam dan Diperkosa 3 Pemuda

    Regional
    UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 29 Oktober 2020

    UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 29 Oktober 2020

    Regional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X