Biarlah Timbunan Tanah Ini Jadi Kuburan Mereka

Kompas.com - 04/10/2009, 07:42 WIB
Editor

"Jika memang jenazah istri dan anak-anak saya tak mungkin ditemukan lagi... biarlah reruntuhan tanah ini menjadi kuburan mereka. Biarlah Allah yang mengatur di mana tempat yang pantas untuk mereka,” ujar Azuardi lirih.

Bibirnya bergetar. Matanya berkaca-kaca melihat hampir tak satu pun rumah yang tersisa di tempat ia tinggal, Korong Lubuk Laweh, Nagari Tandikat, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman. Semua rumah di Lubuk Laweh tertimbun tanah.

Lubuk Laweh dan dua korong atau dusun lain yang berdekatan, Pulau Air dan Cumanak, kini tak berbekas. Rumah dan penghuninya tak lagi tampak karena tertimbun tanah sedalam 6-10 meter.

Ketiga korong ini telah menjadi kuburan massal bagi sedikitnya 242 orang. Lubuk Laweh menjadi kuburan massal terbanyak karena diperkirakan ada 130 orang yang masih tertimbun, sementara di Cumanak ada 69 orang tertimbun. Jumlah mereka yang tertimbun longsoran di Pulau Air lebih sedikit dibanding kedua korong lainnya, yakni 43 orang. Di beberapa titik tercium bau menyengat hidung, terutama jika masih ditemukan bagian tubuh manusia tertimbun tanah.

Novaldi (29), warga Lubuk Laweh yang menjadi saksi mata terjadinya gempa dan longsor di dusunnya, menuturkan, pasti banyak mayat yang tertimbun di bawah longsoran tanah. ”Di sini,” ujarnya sembari menunjuk batang pohon kelapa yang melintang dengan pokok durian, ”Tadinya adalah kedai, tempat warga biasa ngopi dan berkumpul menonton televisi setiap sore. Sekarang tak ada lagi yang tersisa dari kedai ini. Semua telah tertimbun tanah.”

Tak jauh dari bekas tapak kedai yang ditunjuk, Novaldi menunjuk batang kelapa sepanjang sekitar 10 meter yang melintang di atas tanah. ”Di sini saya sempat menyelamatkan tetangga saya, Eri. Seluruh tubuh Eri tertimbun tanah. Hanya kepalanya yang tampak, tetapi terjepit batang kelapa. Saya tak kuat mengangkat batang kelapa yang menjepit kepalanya. Terpaksa Eri saya tinggalkan,” ujarnya.

Keesokan harinya Eri bisa dievakuasi tim relawan, tetapi meninggal dunia di RSU Padang Pariaman. Novaldi sendiri kehilangan ibu kandung, Lela (40), dua adik kandung, Yuli (25) dan Inel (22), serta keponakan Novaldi yang juga anak Yuli, Arul serta Ilham. ”Rasanya tak mungkin lagi saya menemukan jasad mereka.”

Sejauh ingatan Novaldi dan Azuardi, Lubuk Laweh, Pulau Air, dan Cumanak sebelum gempa adalah tempat yang baik jika kita ingin melihat panorama pedesaan lengkap dengan lansekap sawah dan perbukitannya. Ketiga korong ini berada di lembah Gunung Tigo.

Antara Korong Cumanak dan Lubuk Laweh dan Pulau Air terpisah oleh sungai atau Batang Mangua. Lubuk Laweh dan Pulau Air terhampar di bawah sebuah tebing yang penuh dengan berbagai jenis pohon, mulai dari kelapa hingga durian. Cumanak berada persis di kaki bukit, lazim dinamai Gunung Tigo.

Dari Padang, jarak tempuh menuju Lubuk Laweh, Pulau Air, dan Cumanak sebenarnya bisa ditempuh paling lama dua jam. Jalan menuju ketiga korong ini juga relatif mudah karena sudah dilapisi aspal hotmix.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X