Rabu, 27 Agustus 2014

News / Regional

Warga Desa Oelnasi Tetap Krisis Air

Kamis, 3 Mei 2012 | 22:55 WIB

 

KUPANG, KOMPAS.com — Krisis air bersih yang sudah lama mendera ribuan warga di sekitar Bendungan Tilong di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, hingga sekarang belum juga berakhir.

Bendungan Tilong dengan areal genangan seluas 154.90 hektar atau berdaya tampung 19,07 juta meter kubik (m3) adalah bagian dari wilayah Desa Oelnasi di Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang.

Sejak 10 tahun lalu, air genangannya menjadi salah satu sumber air baku warga Kota Kupang dan sekitarnya.

"Kami sudah berulang kali memperjuangkan agar masyarakat Oelnasi juga kebagian menikmati air dari Bendungan Tilong. Kebetulan karena Tilong adalah bagian dari desa kami. Namun, perjuangan demi perjuangan terus saja sia-sia. Masyarakat sungguh kecewa dengan kebijakan seperti sekarang. Kami hanya punya air, tetapi semuanya dialirkan untuk warga Kota Kupang," kata Thofilus Manhau (53), tokoh masyarakat Oelnasi, di Oelnasi, Kamis (3/5/2012).

Gugatan disertai kekecewaan senada dilontarkan Mikael Konis dan Adam Sabaat, Kepala Urusan Pemerintahan dan Kaur Pembangunan Desa Oelnasi.

"Kami sangat mengharapkan instansi pengelola Bendungan Tilong agar tidak terus membiarkan masyarakat Oelnasi hanya sebagai penonton aliran air dari desa mereka untuk kebutuhan warga di Kota Kupang dan sekitarnya," tutur  Mikael Konis.  

"Seharusnya air baku Bendungan Tilong sekaligus mengakhiri krisis air bersih di Oelnasi, sebelum kemarahan warga memuncak dan bertindak anarkis," ucap  Adam Sabaat di Kantor Desa Oelnasi, Kamis siang.

Oelnasi atau Bendungan Tilong berlokasi sekitar 35 kilometer sebelah timur Kota Kupang.

Sebelumnya, Kepala Desa Oenlasi Yohanes Haeleke juga membenarkan kekecewaan masyarakatnya karena diabaikan begitu saja menyusul berfungsinya air tampungan bendungan tersebut sejak  2002.

Ia mengakui masyarakat memang sudah mengancam akan merusak sarana air bersih Bendungan Tilong jika hingga akhir tahun ini air tetap hanya dialirkan bagi masyarakat Kota Kupang.

Bendungan Tilong diresmikan pemanfaatannya oleh Presiden Megawati Soekarnoputri 10 tahun lalu. Sesuai paket pembangunan awalnya, air dari bendungan itu juga untuk mengakhirir kriris air bersih di Oelnasi. Itu antara lain ditandai dengan pembangunan jaringan pipa khusus ditambah 11 bak penampung yang tersebar di empat anak kampungnya, yakni Oelnasi, Kiunana, Fatukanutu, dan Oepunu.

Menurut warga, ke-11 bak itu sempat terisi penuh hanya ketika uji coba awal pengoperasian jaringan pipa Bendungan Tilong, tahun 2002, dan bertahan selama 4-5 hari. "Setelah itu air tidak pernah mengalir lagi hingga sekarang," kata Marthen Manhau (45), warga Kampung Oelnasi.

Desa Oenlasi kini berpenduduk 2.056 jiwa. Sejumlah warga memanfaatkan bak proyek Tilong yang terabaikan itu,  sebagai wadah penampung air hujan melalui atap rumah di sekitarnya. Hal itu, misalnya, terlihat di kediaman Thofilus Manhau.

"Kalau bak sampai penuh, air mampu bertahan hingga September," kata Thofilus Manhau.

Sementara itu, warga lainnya hingga sekarang masih mengandalkan sejumlah sumur gali di sekitarnya. Namun,  sumur dipastikan mengering sejak memasuki puncak kemarau antara September dan November.

Jika stok air tampungan dalam bak habis, atau sumur-sumur mengering, warga harus mendatangi sumber air di Oelupun, Oelbubuk, atau Bendungan Tilong, yang masing- masing berjarak sekitar 2 kilometer dari kampung terdekat.

"Selama puncak kemarau, waktu kerja kami habis hanya untuk mencari air," ucap  Mama Dorkas Manhau di Oelnasi.

 

 


Penulis: Frans Sarong
Editor : Agus Mulyadi