Jumat, 25 Juli 2014

News /

Merpati Tidak Terbang

Minggu, 16 Oktober 2011 | 02:11 WIB

jakarta, kompas - Sejumlah penerbangan maskapai Merpati, terutama yang transit ataupun terbang dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar dan Bandara Juanda di Surabaya, untuk sementara tak beroperasi sejak Sabtu (15/10). Menurut pihak Merpati, kondisi ini tanpa batas waktu yang jelas. 

Di Makassar, sebanyak 11 penerbangan Merpati ke beberapa kota di Indonesia bagian timur kemarin dibatalkan. Hanya dua pesawat yang terbang, itu pun terlambat 3 jam hingga 4 jam dari jadwal semula. Dua penerbangan tersebut adalah penerbangan dengan tujuan Banjarmasin dan Manado. Otoritas Merpati setempat menyatakan akan mengganti seluruh biaya tiket yang sudah dibayarkan kepada Merpati.

Direktur Utama Merpati Nusantara Airlines Capt Sardjono Jhony, di Jakarta, mengakui bahwa Merpati tidak lagi mendapat pasokan avtur di Makassar dan Surabaya akibat menunggak biaya pembelian avtur kepada Pertamina. Adapun pasokan avtur dari bandar udara (bandara) lain untuk Merpati, untuk sementara tetap ada.

Dia menegaskan, sekitar 80 persen dari penerbangan Merpati juga datang dan pergi dari dua bandara tersebut. Sabtu siang, sebanyak 35 calon penumpang Merpati terpaksa menunggu di hotel, sementara 95 orang lainnya menunggu di bandara. 

”Harusnya, tidak seperti ini. Pasalnya, sudah ada kepastian dan jaminan dari PT Perusahaan Pengelolaan Aset kepada Pertamina,” kata Jhony.

Secara terpisah, pihak Pertamina berharap upaya penghentian pasokan avtur itu dapat menyadarkan pihak Merpati supaya lebih mementingkan kebutuhan masyarakat. 

”Kami sudah memberikan waktu bagi Merpati Nusantara untuk menyelesaikan utangnya senilai Rp 270 miliar guna pembelian avtur kepada perusahaan ini,” kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) M Harun, seperti dikutip kantor berita Antara.  

Menurut Harun, Pertamina telah memberikan kesempatan bagi Merpati untuk membayar besaran utangnya sejak tahun lalu. Bahkan, pihaknya meringankan pembayaran utang tersebut dengan metode pelunasan secara bertahap.

”Akan tetapi, mereka sama sekali tidak menampakkan itikad baiknya,” kata dia. 

Untuk itu, ia mengaku, salah satu langkah guna memberikan efek jera supaya maskapai pelat merah tersebut tidak mengulang kejadian serupa adalah dengan menghentikan pasokan avtur.

Menurut Jhony, jika dana dari pemerintah untuk restrukturisasi Merpati turun, salah satu prioritas penggunaan dana adalah untuk membayar utang avtur kepada Pertamina.

Dijanjikan dana Rp 561 miliar untuk restrukturisasi, tetapi hingga detik ini pemerintah tidak mencairkannya. 

”Yang saya khawatirkan adalah aksesibilitas masyarakat, dengan tidak adanya Merpati terutama di Indonesia timur,” kata Jhony. 

Dalam surat yang ditandatangani VP Aviation Pertamina Iwan Hartawan, dituliskan bahwa pada 27 Agustus-13 Oktober 2011 utang Merpati sebesar Rp 2,73 miliar dan 93.586 dollar AS. Dalam surat nomor 225 tertanggal 14 Oktober 2011 itu disebutkan, kegagalan pendebetan akibat kekurangan dana akan berakibat pada penghentian pelayanan avtur. 

Sebenarnya, kata Jhony, dalam sehari Merpati membeli avtur senilai Rp 3,8 miliar. Akan tetapi, total utang avtur Merpati telah mencapai Rp 270 miliar. ”Itu sejak sebelum saya dan anggota direksi lain masuk di Merpati,” kata Jhony, seraya mengakui perseroan memang butuh dana lebih untuk restrukturisasi.

Pemalangan jalan

Dari Papua dilaporkan, semua penerbangan ke wilayah pedalaman dari Timika, Papua, sejak kemarin juga berhenti. Ini terjadi karena pasokan avtur ke daerah itu terhenti akibat pemalangan jalan di mil 27-28 areal PT Freeport Indonesia oleh masyarakat dan pekerja.

Kepala Bidang Perhubungan Udara Kabupaten Mimika John Rettob mengatakan bahwa semua penerbangan komersial dari dan ke Timika tidak mendapat pasokan avtur, terutama ke pedalaman. Pesawat milik Garuda dan Merpati mengubah rute mereka. Pimpinan maskapai Trigana di Papua, Bustomi, mengatakan menarik pesawatnya dari Timika ke Nabire. (RYO/RIZ/JOS/BEN)


Editor :