Kompas.com - 13/10/2021, 09:00 WIB

KUPANG, KOMPAS.com - Welhelmus Eduardus Nahak alias Emu (48), sempat divonis dokter usianya hanya tersisa tiga hari akibat penyakit HIV AIDS yang diidapnya.

Pria asal Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut, sempat putus asa ketika menerima vonis itu.

Kejadian itu dialami Emu, saat menjalani perawatan medis selama dua pekan di rumah sakit, akibat penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya tahun 2010 silam.

Dua pekan Emu harus berjuang melawan virus mematikan tersebut.

Baca juga: Kecelakaan Maut, Pesepeda Tewas Tertabrak Motor Saat Menyeberang Jalan

Namun, berkat dukungan istri dan tiga anaknya, dia akhirnya bisa melewati masa kritis dan bisa bertahan hidup hingga saat ini. Meskipun, Emu harus mengonsumsi obat seumur hidup.

Emu merupakan salah satu Orang Dengan HIV/Aids (ODHA) yang masih bertahan hidup hingga sekarang.

Pengalaman menjadi ODHA, menjadikannya motivasi untuk menjadi konselor dan motivator bagi para ODHA yang lain.

"Sekarang, saya aktif sebagai relawan penanggulangan bencana alam (Tagana) NTT," ujar Emu, kepada sejumlah wartawan, di kediamannya, Selasa (12/10/2021).

Selain itu, berbekal pengalaman menjadi ODHA, ia pun mendirikan LSM Perjuangan sebagai rumah singgah bagi ODHA.

Emu mengisahkan, kehidupan bebas yang dijalani menjadikannya menderita HIV/Aids.

Saat menikah pada tahun 1996 lalu, ia masih sehat walafiat hingga memiliki tiga orang anak.

Namun, karena kehidupan yang kurang terkontrol maka ia pun terkena virus HIV.

Saat masuk rumah sakit, bukan saja menderita HIV namun ada pula penyakit lain yakni TB Paru.

Komplikasi penyakit yang dideritanya, membuat dia nyaris lumpuh dan tak berdaya.

"Penyakit itu sempat membuat saya putus asa dan drop," ungkap dia.

Ingin bertahan hidup

Dokter yang memvonis usianya tak akan lama, membuat dia juga ingin bertahan hidup demi istri dan anaknya.

Hingga dua pekan terlewati dan Emu perlahan mulai sembuh.

Emu akhirnya diperbolehkan keluar rumah sakit setelah berhasil melewati masa kritis.

Dia bisa kembali ke rumah dengan sejumlah resep dokter dan harus mengonsumsi obat sepanjang hidupnya.

Baca juga: Pria Ini Cabuli 2 Anak di Bawah Umur, Dilakukan di Sekitar Tempat Ibadah di Surabaya

"Harus telaten dan tertib konsumsi obatnya," kata dia.

Emu optimistis, ODHA bisa hidup asalkan ada kemauan dan motivasi untuk sehat dan hidup.

"Harus jujur bahwa banyak yang tidak percaya kalau ODHA bisa hidup sehat kembali. Saya sudah 11 tahun hidup pasca terinfeksi HIV dan tetap bisa beraktivitas seperti biasa sampai saat ini," kata dia.

Dia menuturkan, sebelum mendirikan LSM Perjuangan, dirinya sempat menjadi relawan pada LSM Flobamor Jaya Peduli, yang konsen dengan penderita HIV/AIDS.

Namun, sejak 14 Februari 2014 lalu, ia menggagas pendirian LSM Perjuangan setelah ia kembali mengikuti pelatihan konselor di Yogyakarta.

Emu sempat memeriksakan kesehatannya di rumah sakit serta dinyatakan sehat walaupun tetap mengkonsumsi obat-obatan karena secara medis belum ada obat yang menyembuhkan HIV/AIDS.

LSM Perjuangan yang dirintisnya mendampingi dan merawat sejumlah warga yang terkena HIV dan penderita AIDS.

Ia menyadari banyak ODHA yang cenderung tertutup dan tidak terbuka akan keadaannya kepada keluarga dan lingkungan.

Padahal, keterbukaan sangat penting sehingga ada dukungan keluarga dan lingkungan.

Pengindap Aids cenderung menutup diri

Menurut Emu, tingginya penderita Aids yang meninggal beberapa waktu lalu, karena mereka cenderung menutup diri dan tidak terbuka sehingga sulit dirawat.

"LSM yang saya dirikan karena pengalaman pribadi dan LSM ini dari orang sakit untuk orang sakit, sehingga saya memberikan pendampingan," imbuh dia.

Bahkan, beberapa ODHA yang pernah dirawat di LSM Perjuangan saat ini sudah sembuh dan sudah menjadi relawan bagi penderita lain.

Pendampingan yang dilakukan, yakni layanan kesehatan dan terapi HIV dengan mengingatkan penderita agar mengonsumsi obat tepat waktu.

Pihaknya juga mendampingi keluarga ODHA agar menjadi Pengawas Minum Obat (PMO) bagi ODHA itu sendiri.

Emu mengatakan, para ODHA kesulitan mendapatkan pekerjaan karena adanya stigma negatif dari masyarakat terkait keberadaan ODHA.

Untuk itu, LSM Perjuangan melakukan pemberdayaan ekonomi dan memberikan modal usaha, sehingga saat ini banyak ODHA yang memiliki usaha mandiri seperti warung makan, mebel dan kios.

"Pendampingan oleh LSM Perjuangan pun dilakukan sepanjang masa tanpa batas waktu," ujar dia.

Emu pun bersyukur dengan dukungan dari pemerintah, karena saat ini di setiap kelurahan di Kota Kupang sudah ada wadah Warga Peduli Aids (WPA) yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

"Saya berharap, ODHA tidak dikucilkan dan didiskriminasi di dunia kerja tetapi diberikan peluang yang sama," kata dia. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kronologi Pembunuhan Pengusaha Papan Bunga yang Direncanakan Kekasih Gelap Korban

Kronologi Pembunuhan Pengusaha Papan Bunga yang Direncanakan Kekasih Gelap Korban

Regional
Pembelian Minyak Goreng Pakai PeduliLindungi di Solo Belum Dilaksanakan

Pembelian Minyak Goreng Pakai PeduliLindungi di Solo Belum Dilaksanakan

Regional
Harga Tiket ke Taman Nasional Komodo Rp 3,75 Juta Per Agustus, Pelaku Wisata: Kebijakan Itu Bisa Jadi Hantaman

Harga Tiket ke Taman Nasional Komodo Rp 3,75 Juta Per Agustus, Pelaku Wisata: Kebijakan Itu Bisa Jadi Hantaman

Regional
Peringati Bulan Bung Karno, Petani Bergas Lor Lukis Sang Proklamator di Sawah

Peringati Bulan Bung Karno, Petani Bergas Lor Lukis Sang Proklamator di Sawah

Regional
Polisi Dalami Kondisi Kejiwaan Ibu yang Bunuh Bayi Kandungnya di Bima

Polisi Dalami Kondisi Kejiwaan Ibu yang Bunuh Bayi Kandungnya di Bima

Regional
Tahanan Tewas di Penjara Polres Empat Lawang, Kompolnas Sebut Ada Unsur Kelalaian Petugas

Tahanan Tewas di Penjara Polres Empat Lawang, Kompolnas Sebut Ada Unsur Kelalaian Petugas

Regional
Pembunuhan Pengusaha Papan Bunga di Lampung Terungkap, Pelaku 4 Orang, Salah Satunya Kekasih Gelap

Pembunuhan Pengusaha Papan Bunga di Lampung Terungkap, Pelaku 4 Orang, Salah Satunya Kekasih Gelap

Regional
Dua WNI di Ladang Sawit Malaysia Jadi Korban Pembunuhan Warga Negara Filipina

Dua WNI di Ladang Sawit Malaysia Jadi Korban Pembunuhan Warga Negara Filipina

Regional
Khawatir PMK, Pedagang di Mataram Kurangi Penjualan Hewan Kurban

Khawatir PMK, Pedagang di Mataram Kurangi Penjualan Hewan Kurban

Regional
274.837 Kasus PMK di Indonesia, BNPB Ditunjuk Sebagai Satgas: Penanganan Seperti Covid-19, Bisa Saja Lockdown

274.837 Kasus PMK di Indonesia, BNPB Ditunjuk Sebagai Satgas: Penanganan Seperti Covid-19, Bisa Saja Lockdown

Regional
Diduga Rem Blong, Pemotor Bonceng Tiga Terjun ke Jurang di NTT, 1 Orang Tewas

Diduga Rem Blong, Pemotor Bonceng Tiga Terjun ke Jurang di NTT, 1 Orang Tewas

Regional
Ketika Fesyen Idola KPop Jadi Tren Outfit Kalangan Mahasiswa

Ketika Fesyen Idola KPop Jadi Tren Outfit Kalangan Mahasiswa

Regional
Diduga Berbuat Asusila dengan Istri Perwira, Kasatlantas Way Kanan Dicopot

Diduga Berbuat Asusila dengan Istri Perwira, Kasatlantas Way Kanan Dicopot

Regional
Sedang Mengangkat Jaring, Nelayan di Karimun Tewas Tersambar Petir

Sedang Mengangkat Jaring, Nelayan di Karimun Tewas Tersambar Petir

Regional
Diduga Dianiaya Tiga Tahanan, Tersangka Kasus Pemerkosaan Tewas di Penjara Polres Empat Lawang, Ini Faktanya

Diduga Dianiaya Tiga Tahanan, Tersangka Kasus Pemerkosaan Tewas di Penjara Polres Empat Lawang, Ini Faktanya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.