Kompas.com - 31/05/2013, 13:53 WIB
EditorLusia Kus Anna

Kompas.com - Sebanyak 90 persen remaja berusia 13 sampai 15 tahun di Indonesia terpapar iklan rokok setiap harinya, terutama dari televisi. Data dari Tobacco Free Initiative (TFI-WHO) menyebutkan, sebanyak 89 persen remaja melihat billboard iklan rokok dalam kurun waktu sebulan terakhir.

Iklan rokok yang menampilkan citra keren akan mempengaruhi keinginan remaja untuk merokok. Hal ini diakui Rizki dari SMAN 30 Jakarta dalam Puncak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Jakarta (31/5). Remaja laki-laki yang merokok sejak kelas 7 ini mengakui dirinya terpengaruh iklan televisi. “Soalnya yang di televisi itu rokok nggak berbahaya. Iklannya juga bagus, apalagi yang ada unsur Indonesianya,” ujar siswa kelas 10 ini.

Dampak dari iklan rokok juga terlihat dari kecenderungan remaja usia 15 samai 19 untuk merokok yang semakin besar. Menurut data dari Kementrian Kesehatan pada 2010, kecenderungan merokok usia remaja meningkat 3 kali lipat menajdi 43,3 persen. Hasil Riskesdas 2010 juga menunjukkan persentase anak yang mulai merokok pada usia 10 sampai 14 tahun mencapai 17,5 persen.

“Karena itu dampak dari iklan, promosi, dan sponsorship rokok harus kita batasi. Salah satunya dengan permenkes nomor 28 tahun 2013 ini,” ujar Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi dalam acara peringatan hari tanpa tembakau sedunia yang bertema Lindungi Generasi Bangsa dari Iklan, Promosi dan Sponsor Rokok di Jakarta (31/5/13)

Permenkes tersebut merupakan turunan dari PP momer 109 tahun 2012 yang mengatur Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Aturan ini juga untuk menurunkan peluang adanya 3 juta perokok pemula pada 2013.

Nafsiah mengakui, selama ini peringatan berupa kata-kata yang tercantum pada bungkus rokok kurang efektif. Akibatnya rokok yang menapilkkan citra baik, cerdas, tampil beda, dan petualang menjadi juara. Adanya gambar penyakit akibat merokok bungkus rokok diharapkan bisa memberi dampak lebih tegas pada konsumen produk tembakau ini.

Aturan ini baru diefektifkan tahun depan. Hal ini untuk memberi waktu pada para pengusaha rokok untuk merevisi bungkus, atau menyelesaikan kesepakatan terkait iklan, promosi, dan sponsorship. Nafsiah mengatakan pihaknya beserta sejumlah menteri akan duduk bersama para pengusaha rokok untuk membicarakan aplikasi peraturan tersebut.  

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski begitu, Nafsiah mengakui penerapan aturan ini tidak akan mudah. Sejumlah segmen masyarakat misalnya petani dan pengusaha rokok pasti akan meluncurkan protes. Kendati begitu Nafsiah yakin aturan ini memperoleh dukungan masyarakat.

“Saya tidak mau perang dengan industri rokok. Namun saya yakin hak masyarakat untuk sehat pasti menang. Apalagi bila masyarakat merasakan sendiri ruginya dikeliligi asap dan rokok,” ujarnya.

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.