Kompas.com - 21/05/2013, 16:34 WIB
|
Editoryunan

BOGOR, KOMPAS.com — Kebun Raya Bogor berhasil melakukan penyerbukan buatan pada spesies bunga bangkai (Amorpophallus titanum). Dalam perayaan 196 tahun Kebun Raya Bogor, Selasa (21/5/2013), tanaman bunga bangkai muda hasil penyerbukan dipindahkan dari polybag ke media tanah.

"Ini adalah keberhasilan pertama penyerbukan buatan bunga bangkai di Indonesia," kata Mustaid Siregar, Kepala Kebun Raya Bogor.

Dian Latifah, peneliti budi daya bunga bangkai dari Kebun Raya Bogor menjelaskan, tanaman bunga bangkai hasil penyerbukan buatan itu diperoleh dari dua induk tanaman bunga bangkai berbeda, masing-masing menyumbang sel kelamin jantan dan betina.

"Bunga pertama mekar pada November 2011 dan bunga kedua mekar pada Februari 2012. Bunga yang mekar tahun 2011 menyumbangkan serbuk sari," urai Dian.

Untuk melakukan penyerbukan buatan, serbuk sari yang dikoleksi dari bunga pertama disimpan terlebih dahulu. Setelah daya serbuk sari diperiksa dan dipastikan masih dapat menyerbuki, Dian dan tim mengusapkannya pada bunga kedua yang sel kelamin betinanya telah masak.

"Penyerbukan kita lakukan dengan kuas. Kita hanya punya satu kesempatan untuk melakukannya. Harus tepat pada saat sel kelamin betina matang," jelas Dian. Penyerbukan harus dilakukan malam hari.

Tahap pengusapan serbuk sari adalah tahap paling penting dalam penyerbukan buatan. Peneliti harus mampu memastikan waktu saat sel kelamin betina matang. Menurut Dian, kematangan sel betina bisa ditandai dengan terciumnya bau khas bunga bangkai dan bagian bunga yang menjadi licin.

Keberhasilan penyerbukan buatan ini membanggakan. "Sebab kita belum punya peralatan canggih untuk membuat daya tahan serbuk sarinya lama," kata Dian.

Setelah diserbuki, bunga akan berubah menjadi buah. Biji dalam buah dikoleksi dan ditanam. Kini, sejumlah 90 tanaman bunga bangkai hasil penyerbukan buatan telah dihasilkan. Umur tanaman yang dipamerkan hari ini 8 bulan. Tinggi tanaman sekitar 50 cm, umbinya masih berbobot 15-60 gram.

Berhasil melakukan penyerbukan buatan bunga bangkai, kini peneliti Kebun Raya Bogor punya tantangan baru.

Mustaid mengatakan, "Butuh 10 tahun bagi tanaman bunga bangkai untuk punya umbi besar hingga 20-25 kilogram menghasilkan bunga. Kita akan mencoba melakukan penelitian untuk mempercepat proses perbungaan."

Tantangan lain adalah pemeliharaan tanaman bunga bangkai muda yang rawan terkena hama nematoda (cacing bersegmen).

Dian menuturkan, penyerbukan buatan dan penelitian tentang teknik budi daya bunga bangkai penting dalam rangka pemanfaatannya. Bunga bangkai bisa dimanfaatkan baik sebagai tanaman pameran yang menjadi ikon konservasi Indonesia maupun sebagai tanaman obat.

"Kalau kita menguasai teknik budi daya, bunga bangkai bisa dimanfaatkan masyarakat luas. Bunga bangkai punya glukomanan yang berkhasiat menurunkan kadar gula," kata Dian.

Sebagai ikon konservasi, pesona bunga bangkai telah terbukti. Beberapa waktu lalu, awetan bunga bangkai memukau publik dalam pameran di Korea. Ke depan, bukan tak mungkin bunga bangkai yang masih hidup dipamerkan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.