Kompas.com - 15/05/2013, 08:28 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

GORONTALO, KOMPAS.com - Hutan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Suku Polahi yang hidup di sekitar Gunung Boliyohuto, Gorontalo. Hutan bagi mereka adalah rumah sekaligus tempat mencari makan. "Leluhur kami berpesan, jangan pernah sama sekali meninggalkan hutan," ujar Babuta, penerus pimpinan suku Polahi di Hutan Humuhulo, minggu lalu.

Ketika Kompas.com menyambangi tempat mereka Baba Manio yang mereka anggap sebagai kepala suku mereka baru meninggal sebulan yang lalu. Baba Manio merupakan sosok yang sangat mereka hormati. "Baba melarang kami untuk turun dari gunung, kami harus hidup di sini, karena di sini rumah kami," tambah Babuta.

Suku Polahi merupakan sekelompok manusia yang hingga kini masih bertahan untuk hidup di pedalaman hutan Boliyohuto yang meliputi Kecamatan Paguyaman, Kecamatan Suwawa dan Kecamatan Sumalata. Dari sejarah yang bisa dirunut, mereka ini dulunya adalah pelarian di saat Belanda datang menginjakkan kakinya di bumi Gorontalo.

"Mereka tidak mau dijajah, dan memilih untuk lari ke dalam hutan. Kelompok ini lalu bertahan terus di dalam hutan walau Indonesia sudah merdeka. Mereka beranak pinak di sana dan mengasingkan diri," kata jurufoto Rosyid Azhar yang meminati kehidupan Polahi.

Sikap antipenjajah yang ditanamkan tetua suku Polahi tersebut membuat mereka dulunya tidak mau sama sekali berinteraksi dengan manusia lainnya. "Semua manusia yang bertemu dengan mereka dianggap sebagai penjajah," tambah Rosyid.

Karena hidup terasing di dalam hutan, akhirnya suku Polahi beradaptasi dengan alam dan apa yang bisa diberikan oleh hutan. Hidup nomaden tidak bisa dihindarkan. Mereka berpindah untuk mencari lahan untuk bisa ditanami dan sumber air setiap saat. Adaptasi dengan alam itu memberi pandangan kepada suku Polahi, bahwa hutan adalah rumah mereka.

"Baba tidak mau tinggal di Mahayani, karena itu bukan rumah kami. Kami tidak bisa hidup di sana, terlalu panas dan tidak bisa berkebun," ujar Mama Tanio, istri Baba.

Mahayani adalah sebutan sebuah lokasi pemukiman yang disediakan oleh pemerintah untuk merelokasi suku Polahi. Di lokasi yang terletak di Desa Bina Jaya tersebut sudah dibangun sembilan rumah layak huni (Mahayani) untuk ditempati keluarga Polahi. "Mereka hanya tinggal sesaat, dan kembali masuk hutan," kata Kepala Dusun Pilomohuta, Desa Bina Jaya, Kecamatan Paguyaman, Udin Mole.

Di dalam hutan tersebut suku Polahi mengantungkan hidup mereka dengan makan dari buah-buahan, termasuk makan rotan muda. Di hutan itu juga mereka berburu binatang dan ikan di sungai untuk memenuhi kebutuhan protein mereka. Sementara jika sakit, Polahi menggunakan berbagai macam tumbuhan yang berkhasiat dengan kearifan yang mereka miliki.

Bahkan untuk mengatasi keterbatasan seperti gelapnya malam, Polahi membuat lampu dari rotan dan resin pohon gaharu yang dibungkus dengan daun woka. Penghormatan terhadap alam dan hutan membuat Polahi hingga kini enggan untuk turun dari gunung tersebut. Keenganan ini membuat sebagian orang beranggapan bahwa Polahi adalah suku yang diliputi sisi mistis dan misteri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.