Kompas.com - 03/05/2013, 10:16 WIB
|
EditorCaroline Damanik

KOMPAS.com - Suasana kelas amat riuh, seperti dalam sebuah perlombaan cerdas cermat. Agus Kurniawan (30), guru, membacakan soal kesenian. Belum lagi soal itu selesai dibacanya, anak-anak saling berebut menjawab pertanyaan.

Hanya berjarak kurang dari 3 meter dalam ruangan yang sama, seorang guru lain, Yasri, juga mengadakan kuis tanya-jawab. Belasan anak dengan suara tak kalah keras berlomba menjawab soal-soal itu.

Masih di ruangan yang sama, sejumlah siswa lain sibuk mengerjakan tugas di buku. Sambil menulis, mereka sesekali melirik temannya yang sedang ramai mengikuti kuis.

Tiga kelas itu memenuhi satu lokal (ruangan). Begitulah pemandangan sehari-hari di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 191 Pematang Kabau, Kecamatan Air Itam, Kabupaten Sarolangun, sekitar 260 kilometer arah barat Kota Jambi. Pemandangan ini mungkin aneh bagi yang pertama kali melihat. Bagaimana siswa bisa konsentrasi mengerjakan soal ketika di sebelahnya, dalam ruangan yang sama, siswa kelas lain gaduh dengan acara kuis. Konsentrasi anak-anak itu amat mungkin mudah terbelah.

”Kelas memang jadi ramai sekali. Ya, beginilah keadaannya setiap hari,” ujar Agus, guru kelas IV. Kelas yang dipimpinnya berada dalam satu ruangan dengan kelas III dan kelas V.

Sejak diresmikan tahun 1994, sarana pendidikan di SDN 191 selalu terbatas. Sekolah itu hanya memiliki dua lokal untuk tempat belajar bagi semua siswa. Tidak ada ruang guru, ruang usaha kesehatan sekolah, apalagi perpustakaan. Bangunan mandi cuci kakus juga sudah rusak. Kepala sekolah terdahulu berinisiatif menyekat salah satu ruangan. Ruangan kecil hasil sekatan itu kini dipakai sebagai ruangan guru.

Baru awal tahun ini, pemerintah mendirikan sebuah perpustakaan kecil di ujung bangunan sekolah. Guru pun kemudian pindah, menjadikan ruangan itu sebagai perpustakaan merangkap ruang guru. Sementara ruangan yang semula disekat itu digunakan untuk belajar siswa kelas VI.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebagian kecil siswa

Kepala SDN 191 Ade Irma Suryani mengeluhkan kondisi ruangan kelas itu karena bisa memengaruhi penerimaan siswa terhadap materi pelajaran. Ia telah mengusulkan kepada pemerintah daerah untuk menambah ruangan belajar bagi siswa. Namun, hingga kini, usulan itu belum terealisasi.

Keadaan miris tidak hanya terjadi pada persoalan minimnya sarana pendidikan. Jumlah kehadiran siswa dalam kegiatan belajar-mengajar juga sangat rendah. Siswa yang terdaftar sebanyak 140 orang, tetapi sehari-harinya hanya sekitar 40 persen yang hadir. Ke manakah mereka?

Halaman:


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X