Kompas.com - 03/05/2013, 10:16 WIB
|
EditorCaroline Damanik

Saat Kompas berkunjung ke sekolah itu, Jumat (26/4), hanya sekitar 50 siswa yang hadir. Menurut Ade Irma, sebagian besar siswa tak bersekolah karena sedang di hutan membantu orangtuanya bekerja. ”Rumah mereka di rimba. Mereka biasa bersekolah seminggu, lalu pulang seminggu lamanya, dan baru masuk sekolah minggu depan lagi,” tuturnya.

Jauhnya jarak dari rumah Orang Rimba di dalam Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi menuju sekolah kerap menjadi penghalang kedatangan siswa. Butuh waktu 2 jam berjalan kaki dari rumah Orang Rimba terluar hingga ke tepian hutan. Perjalanan berlanjut, dari tepi TNBD menuju SDN 191 memerlukan waktu sekitar 1 jam. Perjalanan panjang yang melelahkan.

Buta aksara

SDN 191 dibangun pemerintah atas semangat mengentaskan Orang Rimba atau suku Anak Dalam dari buta aksara. Orang Rimba adalah komunitas adat dalam hutan di wilayah tengah Jambi. Mereka membangun kehidupan di dalam hamparan TNBD, tersebar di Kabupaten Tebo, Merangin, Batanghari, dan Sarolangun.

Orang Rimba semula tak mengenal huruf dan angka. Tak ada interaksi dengan orang luar. Aturan yang tertuang dalam seloka adat pada mulanya menyebutkan, pengetahuan dunia luar bertentangan dengan adat setempat. Ada kekhawatiran, jika pandai membaca dan menulis, Orang Rimba akan melupakan dan meninggalkan rimbanya. Mereka pun semula tertutup dengan pendidikan umum.

Sejalan dengan berkembangnya program transmigrasi nasional, interaksi dengan orang desa sekitar mulai tumbuh. Ketika sebagian Orang Rimba memperoleh bantuan permukiman dan sekolah dari pemerintah, sejumlah orangtua mulai terbuka menyekolahkan anaknya. Saat ini, dari 140 siswa terdaftar di SDN 191, hanya 12 siswa berasal dari kalangan non-rimba. Itu menandakan tingginya minat sekolah Orang Rimba.

Pemangku Adat Orang Rimba dari Kelompok Kedundung Muda, Basemen, mengatakan, sebagian besar Orang Rimba kini memiliki kesadaran untuk menempuh pendidikan. Namun, sistem pendidikan yang diterapkan pemerintah belum memperhatikan adat dan budaya lokal. ”Anak laki-laki wajib membantu orangtua bekerja. Namun, bukan berarti kami tak ingin mereka pintar,” ujar dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selama ini banyak siswa tidak masuk ke sekolah, menurut dia, bukan karena malas. Anak-anak itu tetap belajar dalam rimba setelah membantu orangtua. Mereka difasilitasi relawan dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi. Relawan menginap selama dua pekan sekali untuk mendidik anak-anak. Dalam kegiatan belajar-mengajar, guru relawan menyesuaikan diri dengan berpakaian setempat, yaitu bercawat untuk laki-laki serta bersarung dan berkemben untuk perempuan. Penyesuaian dengan adat setempat diyakini memacu semangat anak belajar.

Saat ini lebih dari 400 anak rimba telah melek huruf dan angka. Kemampuan baca, tulis, dan hitung mereka peroleh bukan dari sekolah umum, melainkan melalui kegiatan sekolah khusus dalam rimba. Beberapa di antara anak-anak rimba bahkan telah mencapai tingkat sekolah menengah atas. Ada pula yang menjadi penyiar radio. Salah satu anak Basemen, yakni Beteguh, menjadi juara kelas di SMP 12 Satu Atap Sarolangun.

Ia berharap pemerintah jangan memaksakan anak rimba mengikuti pola pendidikan umum. Selama kegiatan pendidikan berlangsung di luar wilayah kehidupan Orang Rimba, selama itu pula kegiatan belajar-mengajar seolah berlangsung setengah-setengah. Sementara anak-anak rimba memiliki semangat tinggi untuk pintar. Mereka juga memiliki cita-cita yang tinggi sebagaimana anak lain.

 

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.