Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 30/04/2013, 17:22 WIB
|
EditorFarid Assifa

BANDUNG, KOMPAS.com — Kuasa hukum nasabah PT Lautan Emas Mulia (LEM), Jefri M Hutagalung, mengatakan, salah satu nasabah dari ratusan peserta investasi logam mulia di PT LEM, yang saat ini sudah dinyatakan pailit, ada yang berprofesi sebagai tukang cendol.

"Nasabah dari PT LEM ini dari beragam profesi, bahkan ada juga tukang cendol. Namun, kebanyakan adalah pensiunan BUMN dan karyawan swasta," kata Jefri saat ditemui di kantor cabang PT LEM di Jalan Pasir Kaliki Nomor 18, Kota Bandung, Selasa (30/4/2013).

Jefri menuturkan, hingga hari terakhir jatuh tempo pembayaran uang nasabah yang belum ada kejelasan menyusul pailitnya PT LEM itu, Direktur Utama PT LEM hingga saat ini belum dapat dihubungi untuk diminta konfirmasi.

"Saya tidak tahu apakah kantor pusatnya di Jakarta masih beroperasi atau tidak, bahkan sampai saat ini owner-nya tidak bisa dihubungi," kata Jefri.

Di tempat yang sama, salah seorang nasabah mengaku sangat khawatir investasi emas 2 kg miliknya raib tanpa ada yang bertanggung jawab.

"Semua pegawai sudah melarikan diri, yang ada cuma OB dan tiga polisi, apa-apaan itu. Saya ikut program gadai sekitar Rp 450 juta. Namun, yang ditanyain tidak ada semua," papar Natalia Yosiratna (35).

Ketika ditanya alasan dirinya tertarik mengikuti investasi logam mulia di perusahaa tersebut, Natalia mengaku tergiur dengan janji yang diberikan oleh agen. Menurut dia, investasi gadai yang diikutinya akan memberikan keuntungan dari bunga per bulan sebesar Rp 1,7 juta.

Sebelumnya diberitakan, ratusan nasabah sebuah perusahaan investasi berbasis logam mulia bernama PT Lautan Emas Mulia (LEM) menggeruduk kantor cabang PT LEM di Jalan Pasir Kaliki Nomor 18, Kota Bandung, Selasa (30/4/2013). Mereka meminta kejelasan penggantian uang investasi mereka yang tak jelas keberadaannya setelah perusahaan ini dinyatakan pailit sejak 11 Maret 2013.

Menurut Jefri M Hutagalung, hingga saat ini PT LEM belum memberikan kejelasan tentang penggantian uang para nasabah cabang Bandung yang diperkirakan totalnya lebih dari Rp 40 miliar. Padahal, ujar Jefri, PT LEM pernah mengeluarkan pernyataan akan mengembalikan investasi mereka dengan cara mencicil sebesar 0,7 persen per nasabah, yang seharusnya mulai dibayarkan hari ini.

"Saat ini masih ada ketertutupan dari PT LEM ini. Kami tidak tahu ke mana uang nasabah. Setelah 11 Maret dinyatakan kolaps, hingga saat ini keterangan tidak maksimal, termasuk komitmen dari LEM untuk mencicil uang nasabah," kata Jefri saat ditemui di sela aksi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.