Kompas.com - 23/04/2013, 21:16 WIB
|
EditorMarcus Suprihadi

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com- Lembaga Bantuan Hukum Bandar Lampung meminta Kepolisian Daerah Lampung bertindak profesional dan obyektif dalam menangani kasus konflik atau bentrokan antar-petambak dan karyawan di tambak PT Central Pertiwi Bahari (CPB).

"Penangkapan dan penahanan memang wewenang polisi sebagai penyidik. Tetapi masak, semua tersangka adalah dari satu kelompok saja, yaitu Forsil. Padahal, namanya bentrokan itu kan melibatkan dua belah pihak. Harusnya polisi profesional dan obyektif. Tidak berat sebelah," tutur Direktur LBH Bandar Lampung Wahrul Fauzi Silalahi yang bertindak sebagai kuasa hukum Forsil CPB, Selasa (23/4/2013).

Hal ini disampaikannya menyikapi penangkapan kliennya, Ketua Forsil CPB Cokro Edi Prayitno oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Lampung. Polda Lampung juga telah menetapkan lima tersangka lainnya yang merupakan para pengurus dan pendukung Forsil CPB.

Fauzi Silalahi, kuasa hukum Forsil, membantah tuduhan yang menyebutkan Cokro Edi adalah pemicu bentrokan di tambak CPB di Dente Teladas, Tulang Bawang, pada 12 Maret lalu yang mengakibatkan tiga orang tewas. Sebelum bentrokan terjadi, ungkap dia, anggota-anggota Petambak Peduli Kemitraan (P2K) dan karyawan telah dikerahkan peruahaan (PT CPB) untuk menghadang Cokro Edi.

Tidak diperbolehkan masuknya Cokro ke rumahnya di areal tambak itulah yang lalu memicu reaksi anggota Forsil lainnya, sehingga lalu terjadi bentrokan yang diwarnai perang batu dan senjata tajam.

Karena khawatir menjadi korban, dua karyawan PT CPB dan seorang petambak plasma dari kelompok P2K lari menyelamatkan diri dan tewas tercebur ke kanal yang dalam. Menurut Fauzi, polisi semestinya menghormati imbauan dari Komisi Nasional HAM yang sebelumnya meminta polisi tidak menangkapi para petambak dan lebih mendahulukan proses perdamaian.

"Sebetulnya, petambak Forsil telah bersedia berdamai, bermitra kembali dan hidup berdampingan dengan P2K. Tetapi, mereka menyesalkan adanya pengurus yang ditetapkan sebagai tersangka. Inilah poin yang masih menjadi ganjalan perdamaian," ujarnya kemudian.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.