Siklon Tropis Shanshan Picu Hujan Lebat

Kompas.com - 23/02/2013, 02:45 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Hujan lebat disusul banjir di sejumlah wilayah Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera merupakan dampak aktivitas sistem tekanan rendah yang menjadi siklon tropis Shanshan di Laut China Selatan. Siklon di utara ekuator, Februari ini anomali 36 tahun terakhir.

”Sebelumnya tahun 1977,” kata Kepala Bidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hariadi, Jumat (22/2), di Jakarta. Siklon Shanshan diberi nama setelah masuk Laut China Selatan, kemarin.

Pada pergerakannya menuju Laut China Selatan, menimbulkan hujan lebat memicu banjir, di antaranya di Kota Manado. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, banjir juga melanda tiga kelurahan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Data sementara, 1.146 keluarga atau 2.597 jiwa dengan rumah tergenang banjir. Seorang anak, M Ridho (4,5), meninggal.

Hariadi mengatakan, saat ini tak hanya ancaman siklon Shanshan. Di Samudra Hindia tumbuh tiga bibit siklon, di barat daya Sumatera, selatan Jawa, dan selatan Nusa Tenggara. ”Ketiganya selama beberapa hari ke depan akan menimbulkan gangguan cuaca di selatan ekuator,” kata dia.

Selain hujan lebat, siklon ini menimbulkan gelombang laut tinggi. Di perairan utara Kepulauan Natuna, ketinggian gelombang laut diperkirakan 4-5 meter. Gelombang laut setinggi 3-4 meter berpeluang terjadi di Perairan Kepulauan Anabas, Perairan Kepulauan Riau, dan Perairan Kepulauan Natuna.

Tren bencana

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, 216 orang meninggal akibat rentetan bencana alam sejak Oktober 2012 hingga Februari 2013. Sebanyak 97 persen korban tewas akibat banjir dan longsor, yang menunjukkan bahwa dua jenis bencana rutin itu harus diwaspadai.

Banjir paling sering terjadi dan menimbulkan korban jiwa terbanyak lima bulan terakhir. Banjir 119 kali hampir di seluruh provinsi, menyebabkan 102 jiwa meninggal dan hilang.

Tanah longsor 73 kali dengan korban jiwa dan hilang mencapai 88 orang. Adapun, kombinasi banjir dan tanah longsor bersamaan terjadi 19 kali, menyebabkan 21 jiwa melayang.

Sutopo menyebutkan, korban jiwa terbanyak terjadi pada puncak musim hujan, Januari-Maret. ”Kejadian bencana 2002-2012 menunjukkan fenomena sama, korban paling banyak terjadi pada bulan-bulan ini. Ini menunjukkan bahwa upaya rehabilitasi tanah dan air kalah cepat dibandingkan laju kerusakan lahan,” katanya. (NAW/AIK)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.