Kompas.com - 14/01/2013, 08:42 WIB
|
EditorKistyarini

KOLAKA, KOMPAS.com — Para petugas Solar Paket Dealer Nelayan (SPDN) di Desa Wawo Tamboli, Kolaka, Sulawesi Tenggara, menuding nelayan setempat sering kali menyelundupkan jatah solar subsidi mereka keluar dari kampung. Tudingan itu menyusul sorotan dari berbagai pihak yang menyebut bahwa SPDN menjual solar ke beberapa perusahaan di Kolaka.

Tudingan ini diungkapkan oleh Syarif, pengelola SPDN setempat. Menurutnya sebenarnya solar untuk nelayan itu mencukupi. Namun, di daerah tersebut memang banyak nelayan yang mengambil jatah solar, lalu dijual kembali keluar kampung dengan harga yang lebih tinggi. Setelah itu mereka datang untuk mengambil jatah lagi yang sebenarnya sudah habis.

"Kalau mau jujur, kami sebenarnya kewalahan melayani mereka (nelayan) karena memang banyak di antara mereka itu kalau sudah dapat jatah, solarnya dijual kembali. Terus datang untuk antre lagi. Kalau sudah habis pasti dikatakan kalau kami kurangi jatah mereka. Padahal, mereka ada yang selundupkan keluar kampung solarnya," papar Syarif.

Syarif menambahkan, ada warga yang bukan nelayan ikut mengambil solar yang seharusnya hanya untuk nelayan itu. "Kami tidak bisa larang karena ada surat keterangannya," ungkap Syarif, Senin (14/1/2013).

Dia menegaskan, tidak ada penyelewengan solar subsidi oleh petugas SPDN. Syarif juga mengeluhkan data yang tidak teratur sehingga menyulitkan petugas untuk mengawasi, serta tidak adanya kartu kontrol yang berguna untuk mengetahui berapa kebutuhan setiap nelayan yang ada.

"Tiap pengisian pasti tidak sampai tiga jam solar sudah habis. Kalau kita di SPDN ini satu bulan dapat suplai enam kali, satu tangki isinya 5.000 liter. Harusnya nelayan paham, kalau solar subsidi untuk mereka disalahgunakan, yang rugi mereka juga. Pemda juga harus memberikan kartu kontrol untuk mempertegas masalah ini," ungkapnya.

Di tempat yang sama, Anhar Mendong, Kepala Bidang Minyak dan Gas Dinas Pertambangan dan Energi Kolaka, mengatakan seharusnya para nelayan mengambil solar itu saat akan melaut saja, untuk menghindari penyalahgunaan solar subsidi.

"Seharusnya nanti mau melaut baru isi solar. Jadi ketersediaan solar itu selalu mencukupi, setiap kali dibutuhkan akan ada. Kartu kontrol akan diusulkan sama dinas perikanan untuk para nelayan ini. Saya juga menyayangkan adanya tindakan seperti itu (menyelundupkan solar)," cetus Anhar.

Seorang nelayan bernama Anwar mengaku kaget mendengar ada rekannya yang menjual kembali solar bersubsidi. "Terancam kita kalau begini, bisa susah solar lagi kalau pemda tidak percaya sama kita. Kalau begitu nanti kita cari info sendiri siapa nelayan di antara kita yang suka jual jatah solar subsidinya sama industri," kata Anwar dengan nada kesal.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.