Kompas.com - 31/12/2012, 10:19 WIB
Penulis Ahmad Arif
|
Editoryunan

Pada 25 Oktober 2010 terjadi gempa di Mentawai berkekuatan 7,8 Mw, menewaskan hampir 1.000 orang. Dan, terakhir kejadian gempa kembar pada 11 April 2012 (8,6 Mw dan 8,2 Mw) yang terjadi di punggung samudra di selatan Simeulue. Gempa kali ini tidak menimbulkan tsunami besar, tetapi telah membuat kepanikan masyarakat pesisir Sumatera. ”Jelas bahwa sistem peringatan dini dan upaya-upaya pelatihan yang telah dilakukan sebagai pelajaran dari peristiwa yang terjadi di tahun 2004 seperti menjadi tak berdaya,” kata Gegar.

Lalu, apa yang salah? Kenapa kita tidak juga belajar?

Menurut Gegar, sederet gempa dan tsunami yang terjadi memang tak mendorong pemerintah serius mendanai penelitian di bidang ini. Padahal, hasil penelitian yang dilakukannya memperlihatkan bahwa setiap gempa dan tsunami di zona subduksi ini adalah unik dan kompleks.

Tanpa basis data yang komprehensif serta dapat dipercaya tentang kejadian gempa dan tsunami yang telah lalu sampai dengan yang terjadi akhir-akhir ini, beserta analisis ilmiahnya, upaya pengurangan risiko bencana dan mitigasi secara keseluruhan akan kehilangan dasar berpijak. ”Tanpa penelitian yang kuat, strategi mitigasi kita bisa salah arah,” katanya.

Sebaliknya, justru Singapura yang belakangan membangun Earth Observatory of Singapore (EOS) atau pusat penelitian kebumian dan merekrut Kerry Sieh sebagai salah satu peneliti utamanya. Selain meneliti gempa dan tsunami, EOS juga banyak mengkaji soal kegunungapian.

Masterplan tsunami

Pemerintah bukannya diam saja, terutama sejak dua gempa kembar pada April 2012, yang menampar kita, bahwa sistem mitigasi bencana yang dibangun ternyata begitu rapuh. Kekurangsiapan tersebut mendorong diadakannya evaluasi khusus yang dipimpin langsung oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam sidang kabinet terbatas di Bogor.

Dalam rapat terbatas itu, akhirnya diputuskan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan mengoordinasikan penyusunan rencana induk (masterplan) antisipasi ancaman tsunami 2012-2014. Dana yang disiapkan untuk masterplan itu mencapai Rp 16,7 triliun dan diharapkan selesai dikerjakan dalam lima tahun.

”Untuk tahun 2013, dana yang dianggarkan Rp 1 triliun, diprioritaskan di daerah paling rawan tsunami, yaitu sepanjang pantai barat Sumatera dan selatan Jawa, dan pantai selatan Bali-Nusa Tenggara,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Beberapa kegiatan yang akan dilakukan, antara lain, pemasangan sirene berbasis komunitas 1.375 unit, pembangunan evakuasi sementara 139 unit, pembangunan pusat pengendalian operasi di 50 kabupaten/kota, pembangunan rambu evakuasi di 51 kabupaten/kota, pengembangan desa tangguh bencana sejumlah 1.080 desa, simulasi di 51 kabupaten/kota, serta sosialisasi dan diseminasi di 51 kabupaten/ kota. ”Masterplan itu sudah melibatkan kajian ilmiah dan para ahli dari dalam dan luar negeri,” paparnya.

Namun, belakangan sejumlah ahli gempa dan tsunami seperti Gegar Prasetya, Danny Hilman, Widjo Kongko (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi/BPPT), dan beberapa lainnya mengkritik masterplan itu sebagai sesuatu yang terburu-buru dan dinilai tidak didasarkan kajian keilmuan yang rinci. ”Masterplan itu reaktif, pendekatannya lebih ke proyek, dan para ahli yang dilibatkan hanya sebatas sebagai narasumber,” kata Gegar.

Dia menyarankan, langkah awal yang seharusnya dilakukan adalah mendata siapa melalukan apa, baik itu di pemerintahan maupun swasta. ”Sampai saat ini semua kegiatan mitigasi dan pengurangan risiko bencana tsunami didominasi lembaga pemerintah yang sering pada akhirnya terjebak kepada ego sektoral dan akhirnya berjalan sendiri-sendiri,” tuturnya.

Jika tsunami Aceh telah membuka mata dunia, kenapa kita justru tidak belajar banyak darinya?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.