Alumni ITB Lari 10 K Kenang Onyek, Korban Sukhoi

Kompas.com - 21/05/2012, 02:45 WIB
EditorBenny N Joewono

JAKARTA, KOMPAS.com - Puluhan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ikut pada perlombaan Lari 10-K Monumen Nasional-Senayan, Minggu, guna mengenang Kornel Sihombing alias Onyek yang menjadi salah satu korban musibah kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100.

"Keikutsertaan ini dalam rangka menghormati Onyek yang memiliki dedikasi tinggi memajukan dunia dirgantara Indonesia," kata salah satu rekan Onyek, Sahat yang tercatat sebagai alumni ITB Angkatan 1983 di Jakarta, Minggu (20/5/2012).

Sahat mengatakan Kornel Sihombing merupakan alumni ITB yang berkomitmen tetap berkarya di PT Dirgantara Indonesia (PTDI), meski perusahaan yang dulu bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) tersebut dalam kondisi krisis.

"Tawaran posisi dari produsen pesawat terbang kelas dunia ditampiknya dengan tegas, karena Onyek memilih setia mengusung Merah-Putih dan Garuda Pancasila dalam segenap karya baktinya," ujar Sahat.

Kornel Sihombing mengemban jabatan sebagai Kepala Divisi Integrasi Bisnis pada Direktorat Aerostructure PTDI yang ahli menegosiasi kerjasama dengan pihak luar negeri.

Sahat mengungkapkan beberapa kalangan menyebut Kornel sebagai "pahlawan" perindustrian dirgantara nasional atau PTDI saat krisis.

Contohnya, Kornel berperan dalam kontrak kerjasama antara PTDI dengan Airbus untuk memproduksi "inboard outboard fixed leading edge", kerjasama dengan Eurocopter memproduksi "fuslage dan tail boom" dan EADS Casa (Spanyol), Bombardier (Jepang), Korean Air Line (Korea Selatan), CTRM (Malaysia), serta SMEA (Malaysia).

Kornel bergabung dengan IPTN sejak 1992 dengan tekad mengembangkan dan memajukan IPTN dalam dunia dirgantara. Berkat kesederhanaan dan semangat, Kornel awalnya dipercaya sebagai kepala biro setelah bekerja setahun di IPTN.

Mahasiswa lulusan Teknik Mesin ITB Angkatan 1983 itu, sempat mendapatkan pelatihan di Amerika Serikat, kemudian menduduki kepala bidang saat memasuki masa kerja tiga tahun.

Pada tahun 1997, Kornel mendapatkan beasiswa sekolah dari IPTN, karena memiliki kemampuan dan potensi dalam mengembangkan ilmunya.

Melalui beasiswa itu, Kornel menuntut ilmu di perguruan tinggi terbaik di Belanda, yakni Technische Universiteit Delft dan mengambil jurusan teknik (bidang material sains). Usai meraih gelar master, ayah dua anak ini mengabdi di lingkungan aerostructure PTDI.

Kornel melalangbuana sebagai pejabat PTDI, namun musibah tidak bisa dicegah, Kornel meninggal dunia saat mengikuti terbang ujicoba pesawat buatan Rusia, Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak, Sukabumi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Kornel diduga meninggal dunia bersama 44 orang lainnya yang ikut ujicoba penerbangan pesawat canggih tersebut.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.