Pameran Kreatif Minim Sponsor

Kompas.com - 05/07/2011, 03:37 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Penyelenggaraan Pekan Industri Kreatif kelima pada 6-10 Juli mendatang menelan dana Rp 9 miliar. Dengan anggaran sebesar itu, sebanyak 800 stan dibebaskan biaya. Tujuannya supaya akses pasar industri kreatif menguat sehingga kontribusi ke perekonomian ikut naik.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (4/7). Sumber dananya berasal dari 14 kementerian dan beberapa instansi lain. ”Dananya memang besar karena tidak ada sponsor yang ikut andil,” katanya.

Menurut dia, dengan anggaran memadai, pemerintah berharap industri kreatif bisa lebih diperhatikan. Selama kegiatan berlangsung ditargetkan transaksi langsung sebesar Rp 50 miliar. Tahun lalu, Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) membukukan transaksi sebesar Rp 40 miliar.

”Secara khusus kami memang tidak mendatangkan buyer (pembeli) dari negara lain, tetapi kami mengundang sejumlah duta besar. Harapannya, para duta besar tersebut bisa mempromosikan potensi industri kreatif Indonesia,” katanya.

Selama tahun 2009, industri kreatif menyumbang 7,6 persen nilai total produk domestik bruto (PDB) atau sebesar Rp 104,7 triliun. Dari 14 subsektor industri kreatif, fashion menjadi penyumbang terbesar PDB, yakni sekitar 3,17 persen dari PDB. Rata-rata pertumbuhan ekspor industri kreatif sepanjang tahun 2006-2009 mencapai 2,9 persen.

Komunitas

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, penyelenggaraan acara tersebut diharapkan bisa menggairahkan industri kreatif. Harapannya, terbentuk komunitas-komunitas baru di daerah.

Pusat industri kreatif saat ini berada di Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Solo. Tahun ini ada beberapa daerah yang digarap untuk menjadi kawasan industri kreatif, yakni Surabaya, Malang, Makassar, dan Palembang.

Menurut dia, selain menghadapi masalah akses pasar industri kreatif juga mengalami kendala akses pembiayaan. Belum ada perbankan yang tertarik membiayai industri kreatif.

”Bank masih mensyaratkan jaminan sebesar 125 persen. Itu, kan, sulit dipenuhi industri kreatif yang kebanyakan menjual ide. Modal mereka itu ide, yang sulit diukur dengan uang,” katanya.

Akibat minimnya peran perbankan, membuat sejumlah kreator terpaksa hijrah ke luar negeri, mencari sponsor yang mau membiayai.

”Akibatnya, banyak karya anak bangsa yang diklaim negara lain karena mereka mau membiayai. Misalnya saja, produk-produk animasi,” ujarnya.

Fokus pemerintah terhadap industri kreatif dimulai tahun 2006. Sebelumnya, sektor tersebut tidak digarap serius. (ENY)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.