Pakuan, Kota Tua yang Hilang

Kompas.com - 06/06/2011, 04:28 WIB

 Her Suganda

Sambil melayangkan pandangan ke sekeliling daerah Empang, seorang wisatawan lokal yang hanya bermodalkan Buku Sejarah Bogor yang ditulis sejarawan Drs Saleh Danasasmita (Alm), membayangkan masa lalu seolah dirinya sedang berada di depan pintu gerbang kota luar Pakuan. Daerah itu kini sudah berubah menjadi perumahan penduduk dengan arus lalu lintas yang padat.

Kota Pakuan pada masa lalu merupakan pusat Kerajaan Sunda Pajajaran. Namun, di manakah lokasi bekas keraton tempat raja-raja Sunda bertakhta selama lebih dari sembilan abad lamanya? Kurun waktu yang sangat panjang itu ternyata tidak mudah dilacak bekas-bekasnya. Pakuan kini sudah berubah menjadi Kota Bogor.

Nasib kota tua itu jauh berbeda dibandingkan Trowulan sebagai pusat Kerajaan Majapahit. Apalagi dibandingkan kota Romawi kuno, Pompeii, di Italia selatan, yang berhasil ditemukan kembali pada tahun 1748 setelah terkubur selama lebih dari 16,5 abad akibat letusan dahsyat Gunung Vesuvius pada 79 Masehi.


Di atas lokasi bekas kota tua itu, satu-satunya yang tersisa dan menjadi tonggak bukti keberadaan Kerajaan Sunda Pajajaran hanyalah prasasti Batutulis yang letaknya tidak jauh dari Istana Batutulis. Batu prasasti itu merupakan persembahan pada upacara srada oleh Prabu Surawisesa (1521-1535), setelah 12 tahun ayahandanya, Sri Baduga Maharaja, wafat. Selebihnya, situs kota Pakuan hanya bisa direka-reka.

Secara fisik, kota itu sudah lama hilang bak ditelan bumi. Bahkan, ketika orang-orang VOC melakukan ekspedisi pada akhir abad ke-17 sampai awal abad ke-18, mereka gagal menemukannya. Ekspedisi kompeni itu berlangsung beberapa kali, dilakukan oleh Scipio (1687), Adolf Winkler (1690), Ram dan Coups (1701), serta Abraham van Riebeeck yang tiga kali melakukan ekspedisi pada tahun 1703, 1704, dan 1709.

Beruntung orang-orang Portugis yang sempat berkunjung ke Pakuan pada tahun 1512 dan 1522 sehingga mereka diduga merupakan orang asing pertama yang menjadi saksi. Di sana mereka masih sempat menyaksikan kebesaran dan keindahan Keraton Pakuan Pajajaran yang dijuluki Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati.

Dalam laporannya disebutkan, ibu kota Pakuan bisa dicapai setelah dua hari perjalanan menyusuri sungai. Bangunan keratonnya berjejer dan menjulang tinggi, terbuat dari kayu yang ditopang dengan tiang-tiang sebesar drum, tampak indah berhiaskan relief-relief.

Kerajaan Sunda Pajajaran sangat boleh jadi pula merupakan kerajaan pertama di Nusantara yang menjalin kerja sama dengan bangsa lain. Utusannya dua kali berturut-turut mengunjungi Malaka yang saat itu dikuasai Portugis, tahun 1512 dan 1521. Pada 21 Agustus 1522, kedua pihak mengikat perjanjian di bidang pertahanan dan ekonomi meski hal itu tidak pernah terwujud. Bandar Kalapa yang menjadi pelabuhan utamanya berhasil direbut pasukan Cirebon dan Demak pada tahun 1527. Pasukan Portugis yang datang terlambat berhasil dihancurkan.

Sunda dan Galuh

Kota Pakuan, menurut historiografi Sunda, dijadikan pusat Kerajaan Sunda oleh Maharaja Tarusbawa (669-723). Kerajaan ini mencapai kejayaannya pada masa Sri Baduga Maharaja Berkuasa (1482-1521). Dalam tradisi Cirebon, Sri Baduga identik dengan Prabu Siliwangi. Masa mudanya bernama Jayadewata. Ia adalah cucu Prabu Wastukancana (1371-1475) yang bertakhta di Galuh, daerah yang kini termasuk Kabupaten Ciamis. Wilayah kekuasaannya sangat luas, meliputi hampir separuh Pulau Jawa. Sebelum meninggal, Wastukancana membagi wilayahnya kepada kedua putranya yang masing-masing dibatasi Sungai Citarum.

Kerajaan Sunda yang terletak di barat diserahkan kepada Susuktunggal (1382-1482). Kerajaan Galuh yang berada di timur Sungai Citarum diserahkan kepada Dewaniskala (1475-1482). Ia memilih pusat pemerintahannya di Kawali, daerah yang terletak sekitar 15 kilometer arah utara Kota Ciamis sekarang.

Kedua bersaudara yang berasal dari lain ibu itu hampir saja terlibat konflik karena Dewaniskala melanggar pantangan berat. Perselisihan itu berhasil diakhiri setelah keduanya sepakat turun takhta. Takhta Galuh diserahkan kepada Jayadewata dengan gelar Prabu Dewataprana. Karena menikah dengan Kentring Manik Mayang Sunda, putri Susuktunggal, untuk kedua kalinya dia dinobatkan menjadi Raja Sunda dengan gelar Sri Baduga Maharajadiraja. Praktis sejak itu kedua kerajaan yang sebelumnya terpisah berhasil dipersatukan kembali.

Halaman:


Editor

Terkini Lainnya


Close Ads X