Elang Jawa di Tahura R Soerjo Nyaris Punah

Kompas.com - 27/05/2011, 11:57 WIB
EditorGlori K. Wadrianto

MALANG, KOMPAS.com — Keberadaan elang jawa (Spizaetus bartelsi) di Taman Hutan Raya (Tahura) R Soerjo, Jawa Timur, terancam punah. Saat ini diperkirakan jumlahnya hanya tinggal dua ekor.

Hal tersebut terungkap setelah survei terakhir yang dilakukan ProFauna Indonesia, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pelestarian hutan dan satwa liar. Jika pada tahun 1997 ditemukan sedikitnya enam elang jawa, kini tim ProFauna hanya bisa menjumpai dua ekor.

Elang jawa adalah satwa langka yang telah ditetapkan sebagai burung nasional pada tahun 1993 sebab selain karena kelangkaannya, burung itu juga dianggap mirip dengan burung garuda yang menjadi lambang negara Indonesia.

Elang jawa juga masuk daftar satwa yang dilindungi sehingga penangkapan, perdagangan, ataupun pemeliharaannya dilindungi oleh undang-undang. Sayangnya, menurunnya kualitas habitat membuat populasi elang jawa kian menyusut.

Elang jawa merupakan burung pemburu berukuran besar, sekitar 60 sentimeter, yang hidup di hutan primer Pulau Jawa. Elang jawa yang dalam rantai makanan berposisi sebagai top predator memangsa burung besar dan mamalia, seperti ayam hutan, tupai, musang, jelarang, dan kelelawar buah.

Habitat yang rusak membuat mangsa elang jawa semakin berkurang, apalagi penggunaan pestisida di lahan pertanian yang berbatasan dengan hutan juga turut memengaruhi keberadaan elang jawa.

Chairman ProFauna Indonesia Rosek Nursahid, Jumat (27/5/2011), mengaku sangat menyayangkan temuan tersebut, pasalnya elang jawa merupakan kekayaan alam yang luar biasa nilainya. Apalagi, katanya, diperkirakan populasi total elang jawa di alam liar tidak lebih dari 400 ekor.

Menurut Rosek, sudah seharusnya pemerintah menghentikan laju deforestasi di Pulau Jawa. Apalagi, berdasarkan catatan ProFauna, selain di Tahura R Soerjo, ada beberapa tempat lain di Jawa Timur yang juga menjadi habitat elang jawa."Di antaranya, di Pulau Sempu, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Merubetiri, Taman Nasional Alas Purwa, Lebakharjo, Pegunungan Hyang, dan Kawah Ijen," ujarnya. 

Belum diketahui pasti status populasi terkini dari elang jawa di tempat-tempat tersebut.

Elang jawa bisa hidup di hutan primer mulai dari ketinggian 0 meter hingga 3000 meter dari permukaan laut.  Elang jawa dianggap dewasa ketika berumur 3 atau 4 tahun dan hanya berbiak satu atau dua tahun sekali.

Sulitnya pula, elang jawa hanya bisa bertelur satu butir yang akan dierami selama sekitar 47 hari. Setelah lahir, selama 1,5 tahun anaknya akan hidup bersama induknya. "Perkembangbiakan yang lambat tersebut juga memicu rendahnya laju survival elang jawa," kata Rosek.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.