Warga Ajukan Penangguhan Penahanan

Kompas.com - 20/04/2011, 14:49 WIB
EditorGlori K. Wadrianto

SEMARANG, KOMPAS.com - Empat warga sipil yang menjadi tersangka saat terjadi bentrok antara TNI dan warga di Kebumen, Jawa Tengah, hari ini, Rabu (20/4/2011) mengajukan penangguhan penahanan.

Tim Advokasi Petani Urut Sewu Kebumen (Tapuk) mengupayakan penangguhan penahanan bagi Adi Wiluyo, Sobirin, Solekan, dan Mulyono. Empat warga tersebut dijadikan tersangka dalam peristiwa bentrokan dengan aparat TNI, 16 April 2011 lalu.

"Dari banyak permasalahan, saat ini kami memprioritaskan upaya penangguhan bagi keempat warga yang ditahan sejak peristiwa itu. Tentu saja setelah upaya ini berhasil kami baru bisa melakukan langkah advokasi lanjutan," ujar Yusuf Suramto koordinator Tapuk.

Berdasarkan hasil investigasi Tapuk, bentrokan berawal dari konflik tanah, di mana warga mengklaim tanah yang selama ini dipakai TNI sebagai pusat latihan militer sebagai milik warga.

Menanggapi hal itu, Erwin Dwi Kristanto dari LBH Semarang yang ikut mengadvokasi warga mengatakan, awal permasalahan adalah saat TNI membangun gudang peluru dan beberapa infrastruktur miliknya, sehingga warga merasa gerah. "Ketika membangun, warga tidak diajak rembugan," kata Erwin.

Erwin menjelaskan, pada tanggal 16 April 2011, warga melakukan rangkaian ziarah kubur ke makam pelaku sejarah tanah Klangsiran, di Ambal Kebumen. Di sana terdapat makam salah satu korban ledakan pada tahun 1980-an dan 5 anak yang mejadi korban ledakan mortir pada tahun 1997. Warga juga berziarah di pemakaman Dukuh Godi, Desa Setrojenar, Kecamatan Buluspesantren, 400 meter dari kantor Dislitbang TNI AD.

Usai ziarah kubur, warga desa Setrojenar berkumpul di seputar kompleks Dislitbang TNI AD. Hal itu dilakukan warga karena anggota TNI membongkar blokade jalan yang dibangun warga. Spanduk penolakan pembangunan yang dipasang warga juga diturunkan paksa oleh TNI.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kondisi menjadi tak terkendali saat warga desa bergerak ke arah utara dan berusaha merubuhkan gapura TNI-AD di dekat kantor Camat Buluspesantren. Karena dicegah oleh warga lainnya, puluhan warga kembali ke arah desa.

Sesampai di desa, TNI telah menyiapkan sepasukan personel bersenjata. Puluhan warga ini kemudian terlibat bentrok dengan TNI. Akibatnya jatuh beberapa korban warga dan petani setempat.

Dalam data Tapuk, 13 korban luka-luka, 6 diantaranya tertembak peluru karet. Sementara dalam tubuh seorang petani lainnya ditemukan peluru karet dan peluru timah. Selain itu, terdapat 12 sepeda motor milik warga dirusak dan beberapa barang, seperti HP dan kamera serta data digital juga dirampas paksa.

Empat warga yang dijadikan tersangka dan diancam Pasal 170 KUHP mengenai perusakan, saat ini masih ditahan di Polres Kebumen.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X