Penasehat Hukum Menilai Dakwaan Kabur

Kompas.com - 07/04/2011, 13:05 WIB
EditorA. Wisnubrata

SEMARANG, KOMPAS.com - Sidang kedua kasus kerusuhan Temanggung yang digelar Pengadilan Negeri Semarang hari ini, Kamis (7/4/2011) mengagendakan pembacaan eksepsi terdakwa. Dalam sidang yang berlangsung sekitar 20 menit, tim penasehat hukum para terdakwa sepakat menyampaikan eksepsinya, bahwa Pengadilan Negeri Semarang tidak berhak menyidangkan kasus itu karena lokasi kejadian di Temanggung.

M.Sahir, SH, koordinator tim penasehat hukum terdakwa menyampaikan bahwa PN Semarang terlalu memaksakan diri menggelar sidang. "Meskipun sudah mendapat fatwa dari Mahkamah Agung, tapi mekanisme fatwa itu di luar kewajaran. Permohonan penyidangan belum sampai ke menteri hukum dan HAM, kok MA sudah mengeluarkan fatwa," kata Sahir.

Selain mempersoalkan kewenangan PN Semarang untuk menyidangkan kasus tersebut, tim penasehat hukum para terdakwa juga menilai bahwa dakwaan jaksa kabur. Sahir menjelaskan bahwa kejadian rusuh Temanggung terjadi secara beruntun dan berurutan. Namun jaksa menyusun dakwaannya secara sepotong-sepotong.

"Dengan dakwaan peristiwa yang sepotong-sepotong itu, kami berkesimpulan dakwaan jaksa kabur. Karenanya kami memohon kepada majelis hakim agar kasus ini dihentikan demi hukum," kata Sahir.

Dalam sidang kali ini 25 terdakwa disidangkan bersamaan dalam berkas terpisah sesuai peran masing-masing. Mereka dibagi dalam 5 ruangan yang berbeda dengan keamanan premium. Shihabuddin, terdakwa utama didakwa dengan pasal 160 KUHP tentang penghasutan dan pasal 170 KUHP tentang pengrusakan bersama-sama. Sementara para terdakwa lain dikenai pasal 170 KUHP.

Menanggapi hal tersebut, Shihabuddin merasa dipojokkan. Ia mengaku tidak pernah melakukan penghasutan untuk merusak. "Kalau orasi, namanya juga demonstrasi memang benar. Tapi orasi tidak selalu berarti menghasut," katanya. Ia meminta wartawan bertanya kepada tim penasehat hukumnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Regional
Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 4 Maret 2021

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 4 Maret 2021

Regional
Mengaku Diculik, Nabhani Kabur karena Masalah Kantor, Keluarga Sempat Lapor Polisi, Ini Kronologinya

Mengaku Diculik, Nabhani Kabur karena Masalah Kantor, Keluarga Sempat Lapor Polisi, Ini Kronologinya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X