Kemiskinan Tak Kunjung Terurai

Kompas.com - 09/12/2010, 15:50 WIB

KOMPAS.com - Nusa Tenggara Timur kaya budaya dan tradisi, dikarunia keindahan alam, sabana luas untuk peternakan, serta potensi perikanan dan kelautan yang berlimpah.

Masyarakat yang tinggal di sejumlah pulau di provinsi ini tergolong dalam sedikitnya 40 kelompok etnolinguistik dengan tradisi berbeda-beda. Karena itu, ada berjenis kain tenun dan alat musik khas di NTT, juga pelbagai ritual, seperti pasola dan wula poddu di Sumba, kebhu, gemohing, dan ka nua di Flores.

Di NTT terdapat sisa binatang purba komodo, tebaran pantai berpasir putih dan taman terumbu karang di banyak pulau, Danau Tiga Warna di Kelimutu, Flores, situs manusia purba Liang Bua di Flores, dan kubur batu megalitik di Sumba yang berpotensi menarik wisatawan.

Lebih dari seabad Sumba terkenal sebagai pusat kuda sandel dan sapi ongole. Kopi, kakao, cengkeh, dan kemiri tumbuh subur di Flores. NTT juga pernah jadi sumber kayu cendana terbaik di dunia.


Dari segi sumber daya manusia, siapa yang tidak kenal tokoh-tokoh asal NTT seperti dokter WZ Johannes dan cendekiawan Prof Herman Johannes serta Frans Seda yang menduduki pelbagai jabatan menteri di era Soekarno dan Soeharto.

Ironisnya, saat ini NTT termasuk provinsi tertinggal di Indonesia yang menduduki peringkat kedua terendah dari 33 provinsi dalam hal Indeks Pembangunan Manusia. Tahun 2010 tingkat kelulusan siswa SMA dan sederajat di NTT dalam ujian nasional menduduki peringkat terendah di Indonesia.

Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2007 menunjukkan, angka kematian ibu (AKI) NTT 306 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan AKI nasional 228 per 100.000 kelahiran hidup. Adapun angka kematian bayi (AKB) NTT 57 per 1.000 kelahiran hidup dan AKB nasional 34 per 1.000 kelahiran hidup. Selain itu, 23 persen dari 4,6 juta penduduk NTT tergolong miskin.

Minim infrastruktur

Masyarakat NTT mengeluhkan minimnya ketersediaan infrastruktur, seperti jalan, pelabuhan laut, bandar udara, pelayanan kesehatan, air bersih, dan listrik. Hal ini menyulitkan pergerakan barang dan manusia, membuat kualitas hidup tidak kunjung meningkat, yang pada akhirnya menghambat pembangunan sumber daya manusia.

Menurut anggota Komisi Ekonomi Pembangunan DPRD Manggarai Barat, Edi Endi, hanya 10 persen dari total 212.000 kilometer jalan di Manggarai Barat yang layak digunakan. Ukuran layaknya pun karena sudah diaspal walau banyak terkelupas.

Dari pengamatan tim Ekspedisi Jejak Peradaban NTT, beberapa ruas jalan kabupaten di Manggarai Barat terputus oleh aliran sungai dan berlubang-lubang. Hal ini berdampak pada sulitnya pemasaran hasil pertanian dan perkebunan. Beberapa truk berukuran besar yang mengangkut hasil bumi, seperti vanili dan kopi, sulit melintasi jalan provinsi yang sempit dan berkelok. Sebagian terguling di tikungan tajam.

Menurut Edi, pemerintah daerah terkendala minimnya dana APBD untuk pembangunan infrastruktur. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Manggarai Barat hanya Rp 23 miliar dari total APBD Rp 389 miliar. Lebih dari separuh APBD untuk belanja pegawai.

Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorA. Wisnubrata

    Close Ads X