Turunkan Spanduk di Kawasan Bencana!

Kompas.com - 01/11/2010, 19:11 WIB
EditorR Adhi KSP

YOGYAKARTA, KOMPAS.com -  Gubernur Provinsi DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X meminta spanduk maupun bendera instansi, organisasi, dan elemen masyarakat lainnya yang marak dipasang di kawasan bencana erupsi Merapi segera diturunkan. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat yang telah menjadi korban tidak merasa dimanfaatkan.

Sultan HB X berharap hanya bendera merah putih saja yang dipasang di sekitar kawasan erupsi Merapi. Sebaiknya semua bendera yang dipasang bendera merah putih saja. Kalau bukan bendera Merah Putih lebih baik bendera-bendera itu diturunkan, katanya di Posko Utama Penanggulangan Bencana Alam Kabupaten Sleman di Pakem, Senin (1/11).

Sejak hari pertama setelah erupsi, spanduk dan bendera bertebaran di sekitar barak pengungsian erupsi Merapi. Sejumlah spanduk yang dipasang berukuran besar dan dalam jumlah banyak.

Selain organisasi masyarakat, spanduk-spanduk yang terpasang bertuliskan nama partai politik, provider telepon seluler, merk sepeda motor, serta berbagai produk makanan dan minuman. Beberapa spanduk terpasang di b adan-badan jalan bahkan tidak disertai pembangunan posko maupun aktivitas dari pihak pemasangnya.


Menurut Sultan, pemasangan bendera dan berbagai spanduk di sekitar kawasan korban erupsi Merapi merupakan bentuk pemanfaatan korban bencana. Kalau memberi bantuan, seharusnya tulus dan iklas. Tidak perlu memasang bendera, apalagi sampai minta liputan media, tuturnya.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Arie Sudjito menilai, pemasangan bendera dan spanduk di lokasi bencana secara berlebihan tidak etis dari sisi korban. Selain menimbulkan perasaan dimanfaatkan, hal ini juga mengarah pada komodifikasi korban.

Artinya, bencana telah digunakan sebagai ajang promosi bagi pelaku industri politik dan ekonomi, sehingga malah mengurangi derajat misi kemanusiaan mereka, katanya.

Menurut Arie, pemasangan spanduk dan bendera pemberi bantuan sebenarnya tidak salah. Hal ini etis dilakukan bila dalam proporsi wajar.

Arie mengatakan, pemasangan spanduk dan bendera di lokasi bencana sudah biasa terjadi. Beragam kepentingan terdapat di balik pemasangan, seperti promosi dan kampanye. Fenomena ini tidak lepas dari po litik pencitraan yang semakin menggejala beberapa waktu ini. Banyaknya peliputan media di lokasi bencana juga menjadi faktor yang mendorong pemasangan spanduk.

Padahal, Peraturan Daerah DI Yogyakarta tentang Penanggulangan Bencana sebenarnya sudah menginstruksikan ada mengurangi kecenderungan komodifikasi dengan menonjolkan kepentingan-kepentingan golongan tertentu. 

Baca tentang


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Polisi Tangkap Pria yang Tusuk Mata 4 Kucing dengan Kayu di Pontianak

    Polisi Tangkap Pria yang Tusuk Mata 4 Kucing dengan Kayu di Pontianak

    Regional
    Bandung Dilanda Angin Kencang, Begini Penjelasan BMKG

    Bandung Dilanda Angin Kencang, Begini Penjelasan BMKG

    Regional
    Kronologi Bentrok di UNM yang Berujung Penikaman 2 Mahasiswa

    Kronologi Bentrok di UNM yang Berujung Penikaman 2 Mahasiswa

    Regional
    Status Gunung Tangkuban Parahu Normal, Ridwan Kamil: Kita Viralkan

    Status Gunung Tangkuban Parahu Normal, Ridwan Kamil: Kita Viralkan

    Regional
    Hujan Guyur Sumatera Barat, Kualitas Udara Mulai Membaik

    Hujan Guyur Sumatera Barat, Kualitas Udara Mulai Membaik

    Regional
    Kisah Reza, Anak Sopir Lulus ITB IPK 3,98: Pernah Dihina karena Ibu Tak Kerja hingga Jajan Rp 5.000 Per Hari

    Kisah Reza, Anak Sopir Lulus ITB IPK 3,98: Pernah Dihina karena Ibu Tak Kerja hingga Jajan Rp 5.000 Per Hari

    Regional
    Dampak Angin Kencang di Sejumlah Daerah, Satu Warga Tewas hingga Ratusan Mengungsi

    Dampak Angin Kencang di Sejumlah Daerah, Satu Warga Tewas hingga Ratusan Mengungsi

    Regional
    Angin Kencang di Magelang: Fenomena Tak Biasa, Ribuan Warga Mengungsi hingga Status Tanggap Darurat

    Angin Kencang di Magelang: Fenomena Tak Biasa, Ribuan Warga Mengungsi hingga Status Tanggap Darurat

    Regional
    Dua Gunung di Karawang Selatan Terbakar

    Dua Gunung di Karawang Selatan Terbakar

    Regional
    5 Fakta Kerusuhan Pertandingan PSIM vs Persis, Mobil Polisi Dibakar hingga Sweeping Suporter

    5 Fakta Kerusuhan Pertandingan PSIM vs Persis, Mobil Polisi Dibakar hingga Sweeping Suporter

    Regional
    Anggaran Bansos Naik 4 Triliun, Kemensos Ajak Satgas SPIP Kawal Penyalurannya

    Anggaran Bansos Naik 4 Triliun, Kemensos Ajak Satgas SPIP Kawal Penyalurannya

    Regional
    Pemadaman Kebakaran Hutan di Gunung Rinjani Dilanjutkan

    Pemadaman Kebakaran Hutan di Gunung Rinjani Dilanjutkan

    Regional
    Fakta Guru Tewas Ditikam Usai Tegur Siswa yang Merokok di Sekolah, Diduga Kesal hingga Pelaku Kabur

    Fakta Guru Tewas Ditikam Usai Tegur Siswa yang Merokok di Sekolah, Diduga Kesal hingga Pelaku Kabur

    Regional
    200 Hektar Lahan di Kaki Gunung Tambora Dibakar Oknum Tak Bertanggung Jawab

    200 Hektar Lahan di Kaki Gunung Tambora Dibakar Oknum Tak Bertanggung Jawab

    Regional
    Cerita di Balik Air Sumur di Ambon Mendidih, Diduga Ada Retakan Kecil di Tanah

    Cerita di Balik Air Sumur di Ambon Mendidih, Diduga Ada Retakan Kecil di Tanah

    Regional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X