Jejak Kejayaan Kereta Api di Yogyakarta - Kompas.com

Jejak Kejayaan Kereta Api di Yogyakarta

Kompas.com - 02/10/2010, 15:32 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS - Sebelum sepeda motor dan mobil merajai jalanan dan menjadi alat transportasi utama, tulang punggung mobilitas warga di Pulau Jawa adalah kereta api. Yogyakarta, sebagai salah satu kota strategis di selatan Jawa, tak lepas dari itu.

Bahkan, Jawa Tengah dan Yogyakarta menjadi daerah rintisan pembangunan jaringan kereta api (KA) di Indonesia oleh pemerintah kolonial Belanda pada akhir abad ke-19. Letaknya yang strategis untuk pertahanan dan demi kelancaran eksploitasi sumber-sumber ekonomi menjadi alasan utama investasi besar itu.

Di Yogyakarta, selain jalur kereta api yang masih aktif saat ini, terdapat tiga jalur jarak pendek yang dulu merupakan andalan transportasi warga, mobilisasi militer, dan pengangkutan industri gula. Ketiga jalur itu adalah Ngabean (kota)-Palbapang (Bantul)- Sewugalur (Kulon Progo), Ngabean-Pundong (Bantul), dan Yogyakarta- Magelang-Parakan yang bercabang juga ke Ambarawa.

Jalur-jalur yang dibangun Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (perusahaan KA pertama di Indonesia) periode 1895-1919 itu sudah lama mati. Rute Ngabean-Pundong sepanjang 27 kilometer (km) dan ruas Palbapang-Sewugalur (15 km) dibongkar militer Jepang tahun 1943 untuk dipindah di luar negeri untuk pembangunan jaringan KA, seperti di Thailand dan Myanmar.

Ruas Ngabean-Palbapang (14,6 km) dan Yogyakarta-Magelang (46,8 km) bertahan lebih lama hingga dekade 1970-an setelah kalah bersaing dengan transportasi massal jalan raya (bus dan angkutan darat) yang mulai berkembang. Masa kejayaan KA rute pendek di DIY pun berakhir.

"Karena tidak menguntungkan lagi, kedua jalur itu ditutup sekitar tahun 1976-1978. Terakhir, rute Yogyakarta-Magelang digunakan untuk pengangkutan taruna Akademi Militer di Magelang pada tahun 1976," kata Kepala Humas PT KA Daerah Operasi VI Yogyakarta Eko Budiyanto.

Sebagian sisa kejayaan masa lampau, KA itu kini masih terlihat dari bangunan bekas stasiun, seperti di Ngabean yang sekarang menjadi area parkir wisata. Beberapa stasiun lain juga beralih fungsi menjadi kantor tentara, pos polisi, warung makan, taman kanak- kanak, hingga posyandu.

Fajar Arifianto, koordinator wilayah Yogyakarta Indonesian Railways Preservation Society (IRPS), organisasi pencinta kereta api dan peninggalannya, Jumat (1/10), mengatakan, nasib itu lebih baik ketimbang stasiun-stasiun lain yang telantar atau hilang sama sekali. Di antara yang sudah hilang terdapat Stasiun Pangukan, Sleman, Dongkelan, dan stasiun di ruas Ngabean-Pundong (13 stasiun).

Beberapa prasarana lain juga tersisa sedikit, seperti jembatan dan rel. Salah satu penggalan rel yang terlihat jelas ada di Jalan Bantul Km 7-9. Sebagian besar rel lain sudah hilang atau terkubur aspal dan pemukiman.

Wacana revitalisasi

Kini, jaringan jalan raya yang pascakemerdekaan menjadi "anak- kandung" kebijakan transportasi nasional telah hampir mencapai titik jenuh. Ruas jalan yang ada tidak mampu mengimbangi ledakan volume kendaraan.

Konsekuensinya, jalanan macet dan tak lagi nyaman bagi mobilitas warga, seperti terasa di beberapa titik di Yogyakarta. Tahun 2006, Departemen Perhubungan kembali melirik KA sebagai transportasi massal utama.

Pemerintah pusat berwacana merevitalisasi jalur-jalur KA lama di Pulau Jawa, Madura, dan Sumatera untuk tujuan itu, termasuk di DIY. "Kami siap jika memang wacana itu diwujudkan, tetapi banyak perhitungan yang harus dilakukan terlebih dulu," kata Deputi Executive Vice President PT KA Daop VI Muhardono.

Selain ongkos besar membangun kembali jaringan dan infrastruktur- akibat jalur lama dikepung permukiman-perhitungan untung-rugi juga mengganjal dalam konteks persaingan dengan moda transportasi lain. Butuh waktu menanti kebangkitan kejayaan kereta api. (ENG)


Editor

Close Ads X