Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hentikan Arus Orang Rohingya

Kompas.com - 07/02/2009, 04:48 WIB
Editor

JAKARTA, JUMAT — Indonesia meminta negara asal orang-orang Rohingya untuk menghentikan arus keluar para pengungsi. Perlakuan tidak manusiawi di negara asal dan negara transit akan membebani negara anggota ASEAN lainnya.

”Pemerintah RI meminta negara asal untuk menghentikan arus keluar manusia perahu dan alasan keluarnya manusia perahu dari negara asal. Indonesia juga meminta mengurangi perlakuan buruk di negara asal, negara transit, dan negara tujuan,” kata Menlu Hassan Wirajuda, Jumat (6/2) di Jakarta.

Hingga saat ini, seluruhnya ada 391 orang Rohingya yang berada di Sabang dan Idi Rayeuk, Nanggroe Aceh Darussalam. Temuan tim verifikasi menyebutkan, dari 193 orang Rohingya di Sabang, diperoleh komposisi 56 warga negara Banglades dan 136 warga negara Myanmar. Sebanyak 198 orang Rohingya di Idi Rayeuk, Aceh Timur, masih dalam penyelidikan.

Sejauh ini diketahui motif mereka adalah mencari kehidupan yang lebih baik atau bisa digolongkan sebagai migran bermotif ekonomi. Oleh karena Indonesia tidak membuka diri bagi migran bermotif ekonomi, mereka harus dipulangkan ke negara asal.

Status sebagai pengungsi

Ada beberapa orang Rohingya yang mengklaim punya alasan politik dan religius. ”Bagi mereka yang mengklaim alasan politik bisa memperoleh status pengungsi, tetapi harus melewati proses penyaringan yang ketat dan memerlukan waktu lama,” kata Hassan.

Dalam kurun 20 tahun terakhir, orang-orang Rohingya telah menjadi subyek di Dewan Hak Asasi Manusia PBB karena terjadinya pelanggaran hak asasi manusia terhadap kelompok minoritas di Myanmar.

Guna menyelesaikan persoalan orang-orang Rohingya secara komprehensif, Pemerintah RI telah mengambil langkah-langkah diplomatis dengan mengintensifkan kerja sama dengan organisasi internasional, seperti Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Organisasi Migrasi Internasional (IOM), dan Palang Merah Internasional.

Indonesia juga berencana mempercepat pelaksanaan Bali Process, yaitu forum pertemuan tingkat menteri untuk membahas masalah penyelundupan manusia di kawasan. Bali Process dijadwalkan pada Mei 2009, lalu diundur pada Juni 2009.

Organisasi HAM internasional yang tergabung dalam Jaringan HAM Pengungsi Asia Pasifik, Jumat, menyatakan keprihatinannya terhadap perlakuan buruk yang dialami orang Rohingya. (fro)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.