Memasang Kesaksian Pasien Penyakit Berat

Kompas.com - 27/04/2008, 11:02 WIB
Editor

SEKARANG ini semakin banyak produk herbal dijual di pasaran. Tengok saja di pusat perbelanjaan. Beragam produk herbal dijual dalam berbagai kemasan, mulai dari pil hingga kapsul, bahkan ada yang berbentuk cairan siap minum.

Selain di pusat perbelanjaan, produk herbal juga banyak di jual melalui jaringan. Meski tidak mengklaim mampu mengobati penyakit, produk herbal ini dipromosikan dengan cara memasang kesaksian pasien berpenyakit berat yang sembuh setelah mengonsumsi herbal.

Ida Marlinda, peneliti obat di Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, menegaskan, konsumen sebaiknya teliti sebelum membeli produk herbal yang akan dikonsumsi. Produk herbal yang sudah terdaftar pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) memiliki kode TR.

Badan POM sulit mengawasi peredaran produk herbal karena cara penjualan banyak dilakukan tertutup. Selain itu ada juga yang produksinya tidak memiliki izin.

Seperti diungkapkan Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen Badan POM, Ruslan Aspan, ”membujuk seseorang untuk membeli produk suplemen dengan cara membuat kesaksian adalah pelanggaran” (Kompas, 16/9).

Herbal vs suplemen

Prapti Utami, dokter yang mendalami herbal dan ikut aktif dalam Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Tradisi Kesehatan Timur, menambahkan, meskipun tidak sakit, konsumen sebaiknya tetap berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi produk herbal. Pasalnya, sekarang ini banyak produk herbal yang diklaim sebagai suplemen makanan.

Ia menjelaskan, suplemen adalah zat gizi yang ditambahkan pada manusia untuk mencukupi kebutuhan zat tertentu yang kurang. Zat yang terkandung dalam suplemen biasanya protein, bermacam vitamin, lemak, provitamin serta berbagai mineral (kalsium, selenium, zink, zat besi).

Sedangkan herbal adalah zat nongizi yang bermanfaat untuk penyembuhan atau pemulihan dari suatu penyakit. Meskipun sama-sama dari tumbuhan, herbal memiliki kandungan zat kimia aktif sedangkan suplemen tidak.

Ia menambahkan, herbal bisa berfungsi sebagai suplemen bila komposisinya mengandung zat gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan vitamin.

”Orang sering salah kaprah menganggap produk suplemen sebagai herbal atau sebaliknya. Akibatnya, orang salah memakai herbal untuk menjaga kesehatan dan kebugaran badan. Sebaliknya, orang justru memakai suplemen untuk penyembuhan penyakit,” kata Prapti.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.